Di tengah menjamurnya kafe dan kuliner modern di Bali, jajanan tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Salah satunya adalah jaje laklak, kue mungil berbahan tepung beras yang hingga kini masih banyak dijumpai di pasar tradisional maupun warung-warung lokal di Bali.
Selain menjadi kudapan favorit masyarakat, jaje laklak juga masih digunakan sebagai bagian dari sarana upacara keagamaan Hindu di Bali sehingga keberadaannya tetap terjaga hingga sekarang.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang jaje laklak, yuk, simak pembahasan selengkapnya, Kawan GNFI!
Apa Itu Jaje Laklak?
Jaje laklak merupakan salah satu jajanan pasar tradisional khas Bali yang dibuat dari tepung beras, air, santan, dan garam. Adonan sederhana tersebut dipanggang di atas tungku menggunakan cetakan tanah liat khusus hingga menghasilkan kue berukuran kecil dengan permukaan berpori dan bagian tengah yang sedikit cekung. Umumnya jaje laklak berdiameter sekitar 3 sentimeter.
Setelah matang, kue ini umumnya disajikan hangat dengan taburan kelapa parut dan siraman gula aren atau gula merah cair yang memberikan perpaduan rasa gurih dan manis.
Warna jaje laklak juga bervariasi. Selain putih yang berasal dari adonan tepung beras, banyak pembuat menambahkan pewarna alami dari daun suji atau daun pandan sehingga menghasilkan warna hijau.
Di beberapa daerah, terdapat pula variasi warna lain seperti hitam dan merah muda sebagai bentuk pengembangan tanpa menghilangkan ciri khasnya sebagai jajanan tradisional Bali.
Sejarah Jaje Laklak dan Asal-usulnya
Jaje laklak telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Bali. Keberadaannya tidak hanya dikenal sebagai jajanan pasar, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan agama Hindu di Pulau Dewata. Menurut Lontar Dwijendra Tatwa (naskah kuno berisi biografi Dang Hyang Nirartha), jaje laklak pertama kali diperkenalkan oleh Dang Hyang Nirartha, seorang pendeta Hindu dari Jawa, ketika menyebarkan ajaran Hindu di Bali sekitar tahun 1500 M.
Pada awalnya, jaje laklak digunakan sebagai persembahan kepada makhluk kasatmata yang berada di bawah penguasa Ratu Niang Sakti. Ketika Dang Hyang Nirartha kemudian diangkat sebagai Bagawanta Kerajaan Gelgel pada masa pemerintahan Sri Dalem Waturenggong, penggunaan jaje laklak semakin meluas dan menjadi bagian dari berbagai upacara keagamaan Hindu di Bali.
Sejumlah naskah lontar, seperti Lontar Tegesing Sarwa Bebanten dan Lontar Dewa Tatwa, juga menyebutkan bahwa jaje laklak juga digunakan sebagai salah satu sesaji upakara dalam pelaksanaan Panca Yadnya.
Pada masa kolonial Belanda ataupun pendudukan Jepang, tidak banyak tercatat mengenai perkembangan jaje laklak. Namun, memasuki dekade 1980-an, makanan ini mulai dikembangkan menjadi sajian konsumsi dengan berbagai inovasi, seperti Laklak Biu dari Penebel, Tabanan. Pada dekade berikutnya, muncul pula variasi aneka rasa buah untuk menyesuaikan penikmat jaje laklak pada masa kini.
Hingga sekarang, jaje laklak masih mudah ditemukan di berbagai pasar tradisional, warung, hingga pusat kuliner di Bali.
Apa yang Membuat Jaje Laklak Begitu Unik
Keunikan jaje laklak terletak pada kesederhanaan bahan dan cita rasanya yang khas. Kue tradisional ini dibuat dari tepung beras sehingga menghasilkan tekstur yang lembut, sedikit kenyal, dan berpori halus setelah dipanggang.
Cita rasa jaje laklak juga berasal dari pelengkapnya. Setelah matang, kue ini disajikan dengan taburan kelapa parut segar dan siraman gula merah atau gula aren cair. Perpaduan gurih dari kelapa dan manis legit gula aren menciptakan rasa yang seimbang tanpa terasa berlebihan,
Sekilas, jaje laklak memang kerap dibandingkan dengan serabi karena sama-sama dimasak menggunakan cetakan di atas tungku. Namun, keduanya memiliki karakter yang berbeda. Laklak umumnya berukuran lebih kecil dengan tekstur yang lebih padat dan penyajian yang sederhana, sedangkan serabi memiliki beragam variasi adonan maupun topping sesuai daerah asalnya.
Di tengah menjamurnya kuliner modern, jaje laklak tetap memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Selain menawarkan cita rasa yang akrab bagi banyak orang, makanan ini juga membawa nilai tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagaimana Masyarakat Bali Membuat Jaje Laklak Secara Tradisional?
Di banyak pasar tradisional maupun desa di Bali, jaje laklak masih dibuat dengan cara sederhana. Bahan yang digunakan pun biasanya mudah ditemukan, yaitu terdiri dari tepung beras, air, santan, sedikit garam, serta tambahan air perasan daun suji atau daun pandan pada beberapa variasi untuk menghasilkan warna hijau alami. Setelah matang, kue ini disajikan bersama kelapa parut muda dan siraman gula aren cair yang menjadi pelengkap khasnya.
Proses pembuatannya masih mempertahankan sentuhan tradisional. Adonan tepung beras yang telah dicampur dengan bahan lainnya, diaduk hingga bertekstur cair kemudian dituangkan ke dalam cetakan yang sebelumnya dipanaskan dan diolesi minyak kelapa agar tidak lengket.
Di sejumlah daerah, cetakan tersebut masih dipanaskan di atas tungku sehingga menghasilkan aroma yang khas, meski kini sebagian penjual juga menggunakan kompor untuk mempermudah proses memasak. Setelah matang, jaje laklak diangkat satu per satu, kemudian disajikan dengan taburan kelapa parut dan gula aren cair.
Selain cita rasanya, cara pembuatannya juga menjadi bagian dari warisan budaya Bali. Teknik memasak yang sederhana membuat keterampilan ini mudah diwariskan, baik di lingkungan keluarga maupun melalui kegiatan masyarakat adat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


