kilas sejarah keunikan masjid saka tunggal cikakak kabupaten banyumas - News | Good News From Indonesia 2023

Kilas Sejarah: Keunikan Masjid Saka Tunggal Cikakak, Kabupaten Banyumas

Kilas Sejarah: Keunikan Masjid Saka Tunggal Cikakak, Kabupaten Banyumas
images info

Masjid Saka Tunggal Cikakak © Dokumentasi Pribadi


Masjid Saka Tunggal Cikakak, merupakan salah satu masjid yang memiliki usia cukup tua dan masih sangat kental dengan unsur-unsur kejawen. Masjid ini terletak di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Akses untuk menuju masjid melewati jalan desa yang masih asri dengan pemandangan bukit yang masih hijau. Dari jalan utama ke lokasi masjid tidak jauh, namun tidak bisa dikatakan dekat juga karena kurang lebih membutuhkan waktu sekitar 10 menit dengan kendaraan bermotor.

Perjalanan tersebut akan terbayar dengan pemandangan yang menyejukkan mata ketika sampai di lokasi masjid, apalagi dengan disambut oleh kawanan hewan primata yang memiliki ekor panjang yang mencuri perhatian setiap pengunjung. Suasana di sekitar masjid masih sangat asri, apalagi ditambah dengan bangunan masjid dan pemukiman sekitar yang bernuansa kejawen yang mampu membuat nostalgia ke jaman kakek-nenek kita. Para kawanan kera pun akan turut menyambut dengan gembira para pengunjung yang datang, apalagi dengan membawa kacang atau pisang kesukaan mereka.

Tidak seperti bentuk masjid pada umumnya, Masjid Saka Tunggal ini memiliki nuansa bangunan jawa yang sangat unik. Meskipun telah beberapa kali mengalami pemugeran, namun nuansa kejawennya masih cukup kental. Uniknya masjid ini memiliki satu penyangga atau saka yang dipenuhi ukiran-ukiran yang indah di dalam inti masjid. Tiang penyangga atau saka tersebutlah yang menjadi ciri khas masjid ini, sehingga masjid ini dinamakan Masjid Saka Tunggal.

Sejarah Awal Berdirinya Masjid Saka Tunggal Cikakak

Bapak Sopani selaku kerabat dari Juru Kunci Masjid yang kami temui Minggu, 24 September 2023 di kediamannya, Beliau mengatakan bahwa pendiri atau tokoh yang pertama kali membangun masjid adalah Mbah Mustolih atau Kyai Mustolih. Terdapat angka bertuliskan 1288 yang ditulis dengan huruf arab di saka atau tiang penyangga di dalam masjid. Tetapi angka tersebut belum pasti apakah menunjukan tahun berdirinya masjid atau memiliki pengertian lain.

“Pendiri Masjid Saka Tunggal ini menurut cerita dari para sesepuh kami adalah mbah Mustolih. Beliau ini dikenal sebagai tokoh yang menyebarkan agama islam di wilayah Cikakak ini. Untuk kapan tepatnya masjid ini berdiri, itu masih menjadi perdebatan. Namun ada ukiran di saka yang didalam masjid itu ada angka 1288, tapi saya tidak tahu pasti apakah angka tersebut menunjukkan tahun pembangunan atau yang lainnya.” Ujar Bapak Sopani (Minggu, 24 September 2023)

Jika benar angka 1288 tersebut menunjukan tahun berdirinya masjid saka tunggal ini, maka hal ini juga belum bisa dipastikan apakah menunjukan tahun hijriyah atau masehi. Banyak dari kalangan peneliti terdahulu yang memperdebatkan masalah ini.

Mitologi Kutukan Kera

Komplek Masjid Saka Tunggal Baitussalam Cikakak juga memiliki pemandangan yang masih sangat asri, karena dikelilingi perbukitan yang masih hijau dipenuhi pohon yang rimbun. Tak hanya itu, di area masjid juga banyak dijumpai kelompok kera yang memiliki ekor panjang. Kera-kera ini mendekati pengunjung berharap diberi kacang atau pisang. Para pengunjung pun merasa senang dapat berinteraksi secara langsung dengan hewan primata berekor panjang ini.

Kera tersebut dipercaya sebagai mitologi dari kutukan Kyai Mustolih kepada santrinya yang tidak melaksanakan shoolat jum'at
info gambar

Kera yang dipercaya sebagai mitologi kutukan kyai Mustolih kepada santrinya yang membangkang.


Menurut cerita yang beredar, kera-kera tersebut merupakan hasil dari kutukan Kyai Mustolih terhadap santrinya yang tidak patuh. Kera-kera tersebut pun seperti mengerti bahwa mereka tidak diperbolehkan memasuki kawasan pemukiman warga yang hanya berjarak beberapa puluh meter saja dari area masjid Saka Tunggal.

“Menurut cerita turun temurun dari para tetua terdahulu, memang konon katanya kera-kera disini dulunya itu sekelompok santri mbah Mustolih yang kala itu tidak melaksanakan sholat Jum’at di masjid. Mereka justru malah mancing ikan di Sungai. Dan ketika mereka pulang kemudian mbah Mustolih marah, dan secara tidak sengaja mengucapkan kata-kata bahwa mereka itu seperti kera yang tidak patuh pada aturan. Seketika saja para santri itu berubah menjadi kera. Entah cerita ini benar apa tidak, tapi yang saya dengar dari para sesepuh saya konon katanya begitu” Ucap Bapak Sopani kepada saya (Minggu, 24 September 2023)

Mitologi ini berkembang sangat pesat, apalagi didukung oleh kebanyakan Masyarakat Jawa yang masih percaya akan hal-hal mistis. Terlepas dari mitologi tersebut, kera-kera disini sangat antusias menyambut para pengunjung. Apalagi jika pengunjung membawa makanan seperti kacang atau pisang, pasti mereka akan selalu mengikuti kemana pengunjung itu berjalan.

Destinasi Wisata Religi dan Edukasi

Keberadaan makam Kyai Mustolih sebagai salah satu tokoh dalam proses islamisasi di wilayah Banyumas, khususnya Cikakak, Wangon menjadi daya tarik bagi para peziarah baik warga lokal maupun dari luar daerah. Selain mereka berziarah ke makam Kyai Mustolih, mereka juga menjelajah keunikan dan jejak-jejak proses islamisasi di masjid Saka Tunggal ini. Apalagi komplek masjid ini pengaruh kejawennya masih cukup kental, yang dapat kita lihat dari arsitektur-arsitektur bangunan masjid meski sudah beberapa kali dilakukan pemugeran.

Tidak hanya untuk wisata religi, masjid Saka Tunggal ini juga menjadi wisata edukasi bagi para penuntut ilmu, baik lokal maupun luar daerah. Banyak para punutut ilmu khususnya mahasiswa yang mengambil masjid ini sebagai penelitian mereka mengenai proses islamisasi di wilayah Banyumas dan sekitarnya. Bahkan tidak hanya mahasiswa yang mengambil kajian disini, tak jarang para dosen dari universitas-universitas ternama juga melakukan penelitian disini.

Masjid Saka Tunggal juga menjadi obyek rekreasi keluarga, bagi masyarakat sekitar yang terjangkau. Hanya dengan merogoh uang sebesar Rp. 5000,00 saja masyarakat sudah bisa masuk ke area masjid ini untuk menikmati keasrian alam dan berinteraksi langsung dengan kera-kera disini. Tidak hanya itu, pengunjung juga dapat menyaksikan bukti peninggalan-peninggalan proses islamisasi di daeerah Cikakak dan sekitarnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

ET
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.