4 perbedaan gaya arsitektur dan nilai nilai antara rumah joglo betawi dan jawa - News | Good News From Indonesia 2024

Rumah Joglo Betawi dan Jawa Sama-Sama Bernama Joglo, Apa Bedanya?

Rumah Joglo Betawi dan Jawa Sama-Sama Bernama Joglo, Apa Bedanya?
images info

Rumah Joglo Bocokan atau Joglo Rembang © https://commons.wikimedia.org/wiki/User:Ahilz


Banyak orang mengira rumah Joglo Betawi dan rumah Joglo Jawa adalah bangunan yang sama karena sama-sama menggunakan nama "Joglo". Padahal, keduanya berkembang dari latar belakang sejarah dan budaya yang berbeda sehingga memiliki karakter arsitektur serta filosofi yang tidak sepenuhnya sama. 

Agar tidak keliru membedakannya, yuk kenali perbedaan rumah Joglo Betawi dan rumah Joglo Jawa berikut ini. 

Apakah Rumah Joglo Betawi dan Rumah Joglo Jawa Sama? 

Rumah Joglo Betawi dan Rumah Joglo Jawa tidaklah sama. Rumah Joglo Betawi memang mendapat pengaruh dari arsitektur Joglo Jawa, terutama pada bentuk atapnya yang menyerupai atap Joglo. Namun, keduanya bukanlah bangunan yang identik.

Masuknya budaya Jawa ke wilayah Batavia terjadi sejak masa Kesultanan Demak, Kesultanan Banten, hingga era kolonial Belanda. Interaksi antar masyarakat menyebabkan sejumlah unsur budaya Jawa diadopsi oleh masyarakat Betawi, termasuk dalam hal mengenai tempat tinggal. 

Namun, proses penyerapan budaya ini tidak serta merta menjadikan masyarakat Betawi membuat bangunan secara identik. Sebaliknya, masyarakat Betawi mengembangkan rumah Joglo sesuai kebutuhan hidup, kondisi iklim, dan budaya lokal yang dipengaruhi berbagai etnis.

Ringkasan Perbedaan Rumah Joglo Betawi dan Jawa 

Aspek

Rumah Joglo Betawi

Rumah Joglo Jawa

Asal

Batavia (Jakarta)

Jawa Tengah, DIY, dan sebagian Jawa Timur

Latar Budaya

Akulturasi budaya Jawa, Sunda, Arab, Tionghoa, Melayu, dan Eropa

Budaya Jawa dan tradisi keraton

Bentuk Atap

Terinspirasi Joglo dengan bentuk lebih sederhana

Atap Joglo bertingkat 

Struktur Bangunan

Lebih sederhana dengan material bangunan yang fleksibel. Struktur atap menggunakan sistem kuda-kuda timur.

Lebih kompleks dengan struktur bangunan yang kuat. Struktur atap menggunakan sistem saka guru.

Saka Guru

Tidak menggunakan sistem saka guru.

Menggunakan sistem saka guru sebagai struktur inti.

Tata Ruang

Teras, paseban, ruang tengah, srondoyan, dapur

Pendopo, pringgitan, dalem, senthong, gandhok, gadri

Fungsi Utama

Hunian keluarga dan menerima tamu

Hunian, kegiatan adat, serta upacara tradisional

Filosofi

Keterbukaan, kebersamaan, penghormatan terhadap tamu

Kosmologi Jawa, hirarki ruang, dan harmoni dengan alam

Status Sosial

Dimiliki masyarakat Betawi dari berbagai kalangan

Dahulu identik dengan kalangan bangsawan 

baca juga

Perbedaan Asal-Usul dan Latar Budaya

Meskipun memiliki hubungan sejarah, keduanya berkembang dalam lingkungan sosial dan budaya yang berbeda sehingga menghasilkan karakter arsitektur yang tidak sama.

Rumah Joglo Jawa berasal dari tradisi arsitektur masyarakat Jawa yang telah berkembang sejak masa Kesultanan Mataram. Dalam perkembangannya, bentuk rumah Joglo banyak digunakan oleh kalangan bangsawan hingga lingkungan keraton sebagai simbol kedudukan sosial. Karena itu, hampir setiap unsur bangunannya dirancang dengan mempertimbangkan nilai filosofis, tatanan sosial, dan budaya Jawa.

Berbeda dengan itu, rumah Joglo Betawi lahir di Batavia, wilayah yang sejak abad ke-17 menjadi pusat perdagangan dan pertemuan berbagai etnis. Masyarakat Betawi sendiri terbentuk melalui proses percampuran penduduk lokal dengan pendatang dari berbagai daerah di Nusantara maupun mancanegara. Interaksi tersebut melahirkan budaya baru yang kemudian tercermin dalam bentuk rumah tinggal mereka.

Pengaruh budaya Jawa memang terlihat pada penggunaan bentuk atap Joglo. Namun, arsitektur Betawi juga menyerap unsur Sunda pada bentuk rumah panggung, ornamen Tionghoa pada ragam hias, hingga pengaruh Eropa pada penggunaan jendela dan ventilasi yang lebih besar. Beragam unsur tersebut berpadu menjadi identitas arsitektur Betawi saat ini.

Selain faktor budaya, kondisi lingkungan juga memengaruhi arsitektur Rumah Joglo. Dulu, wilayah Jawa bagian tengah merupakan pusat kerajaan, yang mana hal ini mendorong berkembangnya rumah dengan struktur sesuai hierarki yang ada. 

Sementara itu, Batavia sebagai kawasan pesisir beriklim panas dan lembap membuat masyarakat Betawi membangun rumah yang lebih terbuka serta menyediakan teras luas sebagai ruang berinteraksi dengan tetangga.

Perbedaan Arsitektur dan Struktur Bangunan

Meski sama-sama disebut rumah Joglo, Joglo Betawi dan Joglo Jawa memiliki perbedaan pada bentuk bangunan dan sistem konstruksinya. Rumah Joglo Jawa memiliki atap yang menjulang tinggi di bagian tengah dengan bentuk yang lebih bertingkat. 

Atap tersebut ditopang oleh empat tiang utama atau saka guru yang juga menjadi acuan pembagian ruang di dalam rumah. Sebaliknya, Joglo Betawi mengadopsi bentuk dasar atap Joglo, tetapi tampil lebih sederhana. Struktur atap Joglo Betawi menggunakan sistem kuda-kuda timur.

Dari segi material, keduanya sama-sama menggunakan kayu, tetapi Joglo Jawa umumnya memanfaatkan kayu jati untuk menopang struktur atap yang lebih besar. Sedangkan Joglo Betawi lebih fleksibel dalam penggunaan material karena biasanya bahan bangunan yang dipakai didapatkan dari lingkungan sekitar. Rumah-rumah Joglo Betawi biasanya memiliki struktur rangka kayu atau kadang-kadang bambu.

Perbedaan Tata Ruang dan Fungsi

Pada rumah Joglo Jawa, tata ruang dibuat dari tempat yang lebih terbuka hingga lebih pribadi. Di bagian depan terdapat pendopo berfungsi sebagai tempat menerima tamu dan menyelenggarakan kegiatan adat, kemudian pringgitan menjadi ruang penghubung sekaligus tempat pertunjukan wayang pada masa lalu. 

Di bagian dalam terdapat dalem sebagai ruang utama keluarga, senthong yang digunakan sebagai kamar dan ruang yang dianggap lebih sakral, gandhok berfungsi sebagai kamar bagi anak-anak yang telah dewasa, biasanya ada dua, satu untuk perempuan (kiri) dan satu untuk laki-laki (kanan). Selanjutnya, dapur terletak di belakang dalem atau gandhok kiri, berfungsi sebagai tempat memasak, menyiapkan bahan makanan, dan menampung sisa makanan. Terakhir, gadri digunakan sebagai ruang makan bagi keluarga. 

Sementara itu, rumah Joglo Betawi memiliki pembagian ruang yang lebih sederhana. Teras menjadi tempat bersantai dan berinteraksi dengan tetangga, sedangkan paseban digunakan untuk menerima tamu. 

Di bagian depan juga terdapat srondoyan, yaitu area teras yang dinaungi perpanjangan atap (sorondoy) sehingga dapat dimanfaatkan sebagai ruang berkumpul atau tempat menerima tamu sebelum memasuki ruang utama. Ada juga ruang tengah menjadi pusat aktivitas keluarga serta dapur yang berada di bagian belakang.

baca juga

Perbedaan Filosofi dan Nilai Budaya

Rumah Joglo Jawa dibangun berdasarkan nilai-nilai yang dianut masyarakat Jawa. Hal ini terlihat dari bentuk atapnya yang menyerupai gunungan sebagai simbol hubungan manusia dengan Tuhan. 

Penataan ruangnya juga dibuat bertahap, dari area yang terbuka hingga ruang yang lebih privat, sehingga setiap bagian rumah memiliki fungsi dan makna tersendiri. Selain sebagai tempat tinggal, rumah Joglo pada masa lalu juga menjadi simbol kedudukan sosial karena umumnya dimiliki oleh kalangan bangsawan.

Berbeda dengan itu, rumah Joglo Betawi lebih mencerminkan kehidupan masyarakat yang terbuka dan akrab dengan lingkungan sekitar. Teras dan srondoyan menjadi ruang untuk berkumpul maupun menyambut tamu. Karakter tersebut berkembang dari budaya Betawi yang lahir melalui percampuran berbagai etnis, sehingga rumah Joglo Betawi juga menunjukkan kuatnya unsur akulturasi. 

Perbedaan Ragam Hias

Pada rumah Joglo Betawi, ornamen khas seperti gigi balang, motif bunga, matahari, dan tombak banyak ditemukan pada lisplang, pagar, pintu, maupun jendela. Setiap motif memiliki makna tersendiri. 

Ornamen gigi balang melambangkan kegagahan sekaligus menjadi unsur estetika bangunan, sedangkan motif bunga mencerminkan keramahtamahan dan kedamaian pemilik rumah. Sementara itu, matahari dimaknai sebagai lambang kehidupan dan kewibawaan, sedangkan ornamen tombak melambangkan perlindungan dan kekuatan.

Berbeda dengan itu, rumah Joglo Jawa dikenal dengan ukiran kayu yang menghiasi berbagai bagian bangunan, seperti gebyok, tiang, hingga balok rumah. Ragam hiasnya didominasi motif flora, fauna, serta ornamen seperti lung-lungan dan kawung

Motif lung-lungan yang menyerupai sulur tanaman melambangkan pertumbuhan dan kehidupan, sedangkan kawung menjadi simbol kesucian, pengendalian diri, dan harapan agar manusia dapat menjalani kehidupan dengan bijaksana. Selain itu, ukiran berbentuk hewan, seperti garuda, naga, atau ayam jago, juga kerap digunakan sebagai simbol keberanian, perlindungan, dan penolak bala. 

Tradisi Pembangunan Rumah

Masyarakat Betawi biasanya mengawali pembangunan rumah dengan berbagai ritual yang bertujuan memohon keselamatan dan kelancaran. Selama proses pembangunan juga dilakukan selamatan, misalnya saat pemasangan bagian tertentu dari rumah maupun setelah bangunan selesai didirikan. 

Sementara itu, masyarakat Jawa memiliki tradisi yang diawali dengan menentukan hari baik sebelum membangun rumah. Salah satu tahapan pentingnya adalah upacara menatah molo, yaitu pemasangan bagian puncak atap yang disertai doa agar rumah membawa keselamatan dan keberkahan bagi penghuninya. 

Setelah rumah selesai dibangun, biasanya juga diadakan selamatan sebagai ungkapan syukur. Meski masih dipraktikkan di beberapa daerah, pelaksanaan tradisi tersebut kini mulai menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan kondisi masyarakat.

Informasi dalam artikel ini telah diperbaharui pada Jumat (24/7/2026) pukul 16.15 WIB.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MF
KG
AJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.