mengenal kain tope mengubah warisan menjadi trend - News | Good News From Indonesia 2024

Mengenal Kain Tope, Mengubah Warisan Menjadi Trend

Mengenal Kain Tope, Mengubah Warisan Menjadi Trend
images info

Mengenal Kain Tope, Mengubah Warisan Menjadi Trend


Hai, Kawan GNFI! Ada cerita seru nih, dari perjalanan mahasiswa KKN-PPM UGM Unit Jeneponto. Sesampainya di sana, rasa penasaran membawa mereka untuk mengeksplorasi potensi dan kekhasan dari Jeneponto. Dari semua potensi dan kekhasan tersebut, ada sesuatu yang menarik perhatian mereka, yaitu kain tope.

Kain tope awalnya dikenal sebagai kain kafan yang digunakan untuk keperluan jenazah. Kain ini berasal dari Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Kain tope memiliki tekstur berserat dan cenderung berongga lebar yang membuatnya berbeda dari kain pada umumnya.

Dalam kesempatan kali ini, tim KKN UGM Jeneponto berkunjung ke pengrajin kain tope di Desa Datara dan kemudian bertemu dengan Anis, cucu dari pengrajin kain tope.

Kain tope merupakan kain tenun khas Jeneponto yang biasa digunakan sebagai kain kafan untuk orang yang meninggal dunia. Anis bercerita saat ini terdapat sekitar 10 pengrajin kain tope yang rata-rata usianya antara 60 hingga 70 tahun. Kain tope dibuat oleh pengrajin secara turun temurun.

baca juga

"Saya saat ini sedang berusaha belajar menenun dari nenek saya dan saya ingin meneruskan tradisi ini agar warisan ini tidak hilang," ucap Anis. Selain itu, pengrajin kain tope dilakukan secara turun temurun dan Anis merupakan generasi ke empat dalam keluarganya.

Mahasiswa KKN-PPM UGM Unit Jeneponto Mengunjungi Tempat Pembuatan Kain Tope
info gambar

Mahasiswa KKN-PPM UGM Unit Jeneponto Mengunjungi Tempat Pembuatan Kain Tope


Proses pembuatan kain tope membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar 1 hingga 3 minggu. Selain kapas, bahan yang digunakan juga termasuk serat jagung. Teknik tenunnya juga unik dan membutuhkan keterampilan tinggi.

Tidak heran jika kain tope memiliki daya tarik tersendiri bagi para turis yang kerap kali menjadikannya oleh-oleh khas Jeneponto.

"Di sini kain ini digunakan sebagai kain kafan, tapi sekarang banyak turis yang tertarik dan ingin membawanya pulang sebagai oleh-oleh. Motifnya memang polos, tapi tenunannya sangat berkualitas," ungkap Anis.

Anis mengatakan, sejak 2022, kain tope mulai beralih jadi produk fashion berangkat dari ketertarikan orang-orang di luar Jeneponto untuk menjadikan kain ini bukan sekedar kain kafan, tetapi juga fashion. Meskipun kain ini polos putih, kualitas tenunannya membuat kain ini menarik untuk berbagai jenis pakaian dan aksesori modern.

baca juga

Menariknya lagi, sekarang kain tope sudah mulai dijadikan ecoprint, loh! Teknik ini membuat kain tope menjadi lebih menarik dengan motif alami dari daun dan bunga yang dicetak di atas kain.

Yuyun Nailufar, pemilik Rumah Jahit Mama Ay, merupakan salah satu pengrajin yang berhasil mengubah persepsi masyarakat terhadap kain kafan.

Ia memanfaatkan tekstur unik kain ini untuk menciptakan berbagai jenis pakaian seperti gaun malam, jaket, bomber, kemeja, hingga baju tradisional Sulsel, yaitu baju bodo. Beberapa produknya bahkan dikombinasikan dengan kain lain seperti sutra untuk menambah nilai estetika.

Selain itu, kain tope Jeneponto juga pernah mendapat perhatian dari Ibu Negara kita, Iriana Joko Widodo yang berharap agar produk ini dapat lebih dikembangkan dan diproduksi lebih banyak untuk memenuhi permintaan pasar.

Ketua Dekranasda Kabupaten Jeneponto, Hj. Hamsiah Iksan, merespon harapan tersebut dengan memastikan adanya pembinaan lebih lanjut dari Dinas Perindustrian Perdagangan untuk membantu para pengrajin.

Produk kain tope Jeneponto telah dipamerkan dalam berbagai ajang, termasuk Pameran Kerajinan Nusantara yang dibuka oleh Iriana Joko Widodo di Balai Kartini Jakarta Selatan pada tahun 2019.

Dalam pameran tersebut, stand Sulawesi Selatan menampilkan kain tenun tradisional kafan (tope) yang didesain menjadi pakaian dengan berbagai motif.

Selain itu, pada ajang fashion show pekan budaya se-Sulawesi Selatan yang diadakan pada 8 Oktober 2020, Tim Dekranasda yang mengangkat kain tope Kabupaten Jeneponto berhasil meraih juara 2. Mereka menampilkan konsep bunga tonjong (Lotus) yang diperagakan oleh Drg. Mutiah Mutmainnah.

baca juga

Gaun yang digunakan terbuat dari sutra asli Sulsel dan dipadukan dengan tenun tope Turatea, yang telah menjadi primadona saat ini.

Harga kain tope ini bervariasi yaitu berkisar antara 350 ribu hingga 600 ribu rupiah, tergantung pada kerapatan tenunannya. Meskipun belum banyak dijual di toko oleh-oleh, upaya untuk memperkenalkan kain ini ke pasar yang lebih luas terus dilakukan, baik oleh pemerintah daerah maupun komunitas lokal seperti dalam pameran UMKM.

Dengan promosi yang lebih gencar, harapannya kain tope bisa dikenal lebih banyak orang dan jadi salah satu produk unggulan dan oleh-oleh khas dari Jeneponto. Kain tope, dari kain kafan jadi fesyen adalah contoh nyata bagaimana warisan budaya bisa terus hidup dan berkembang seiring perubahan zaman.

Jadi, Kawan GNFI, kalau ke Jeneponto, jangan lupa bawa pulang kain tope, ya!

Penulis: Putri Terang Rinjani & Haikal Abdurrahman Arif

Redaktur: Putri Terang Rinjani

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KU
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.