Biota laut yang menjadi sumber protein bukan hanya ikan. Masyarakat pesisir juga mengonsumsi kerang-kerangan untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka.
Tedong-tedong adalah salah satu jenis kerang favorit masyarakat pesisir Kabupaten Banggai dan Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Bentuknya sangat unik dan mudah dikenali.
Berbeda dengan jenis kerang lain, tedong-tedong memiliki tonjolan memanjang berjarak seperti halnya gergaji, namun tumpul pada ujungnya. Ukurannya lebih besar dibandingkan kerang dara yang juga biasa dijadikan makanan.
Morfologi Tedong-tedong
Tedong-tedong memiliki cangkang berbentuk kumparan. Pada bibir mulut cangkangnya terdapat tonjolan panjang meruncing sebanyak 6β10 buah. Tonjolan ini belum ada saat usianya masih muda.
Warna cangkang tedong-tedong biasanya kuning kecoklatan dengan dihiasi lurik-lurik cokelat. Sekitar mulut cangkang dilapisi warna merah, jingga, cokelat muda, mengkilat seperti porselin.
Panjang cangkang berukuran antara 150β250 mm. Jenis tedong-tedong merupakan jenis Lambis terbesar dan dagingnya dapat dimakan, terutama jenis Lambis chiragra yang tonjolannya 6 buah. kerang ini tersebar di laut tropis daerah Indo-Pasifik.
Tedong-tedong terancam over-eksploitasi
Penelitian di Desa Dwiwarna di Kecamatan Bandar, Kabupaten Maluku Tengah, oleh Budiono Senen, Jenny Abidin, dan Rahmat A., menyebutkan bahwa kerang tedong-tedong (Lambis-lambis) kerap ditemukan berasosiasi dengan padang lamun serta pada patahan karang mati.
Riset lain yang diterbitkan Jurnal Ilmu Perikanan & Masyarakat Pesisir (2022) memaparkan bahwa perkembangbiakan tedong-tedong sangat lambat. Sementara penangkapan di alam berjalan cepat. Hal ini berpotensi menyebabkan tekanan pada populasi tedong-tedong.
Kerang tedong-tedong disebut terindikasi mengalami over eksploitasi karena sangat digemari masyarakat. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena jika melihat dalam jangka panjang, keberadaannya di alam berkurang.


