Yogyakarta – Yayasan Pendidikan Sabah Bridge dan Perkumpulan Mahasiswa Jogjasabahahaha Daerah Istimewa Yogyakarta perdana menggelar acara Kemah Budaya Beswan DIY (KEBUD BES DIY) dengan tema “Muda Berkarya, Rawat Budaya.”
Acara ini menjadi ajang kolaborasi kreatif bagi generasi muda dalam melestarikan dan mengembangkan budaya lokal. Acara tersebut sangat istimewa dengan partisipasi siswa penerima beasiswa (Beswan) dari Sabah, Sarawak, dan Johor Baru, Malaysia.
Mereka adalah anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang kini menempuh pendidikan di Yogyakarta.
Halo Kawan GNFI, di sini kami akan mengulas terkait acara perdana yang dilakukan oleh YPSB dan juga perkumpulan mahasiswa alumni Beswan di Yogyakarta atau nama perkumpulannya, yaitu Jogjasabahahaha. Kira-kira akan seperti apa acara tersebut? Apa saja kegiatan yang dilakukan? Yuk, kita simak bersama acara KEBUD BES DIY.
Makan Bersama, sumber: Hesti Purnamasari
Kemah Budaya Beswan DIY diselenggarakan selama 3 hari 2 malam di Desa Wisata Penting Sari. Ini merupakan kawasan wisata alam yang asri, yang mana memberikan kesempatan bagi peserta untuk terlibat dalam berbagai aktivitas budaya. Mulai dari stand batik, photoshoot, kriya, team building, talk show, mind mapping, outbound, pentas seni, dan juga yang menjadi fokus utama dalam kegiatan ini, yaitu goes to university.
Harapannya, Beswan ini tertarik untuk melanjutkan pendidikannya di jenjang perguruan tinggi. Semuanya dirancang untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya Indonesia, khususnya Yogyakarta.
Kemah Budaya DIY adalah hasil kerja sama antara Yayasan Pendidikan Sabah Bridge (YPSB), Pemerintah DIY, sekolah mitra ADEM Repatriasi, sekolah mitra yayasan, dan alumni yang berkuliah di Yogyakarta atau nama perkumpulan mereka disebut sebagai Jogjasabahahaha.
Para siswa ini mendapatkan kesempatan untuk lebih mengenal dan merasakan kekayaan budaya Indonesia yang mungkin tidak mereka dapatkan selama ini.
Selama acara berlangsung, para peserta diajak untuk mengikuti berbagai workshop dan pelatihan. Salah satunya adalah workshop membatik, di mana mereka diajarkan teknik-teknik dasar dalam membuat batik. Selain itu, ada juga mind mapping dan pembuatan kerajinan tangan dari bahan-bahan alami.
Sesi Membatik, sumber: Hesti Purnamasari
“Tujuan dari kegiatan ini adalah merupakan bagian dari pendampingan dan pembinaan yang dilakukan oleh YPSB terhadap para Beswan sekaligus ajang temu kangen, sharing, antaranak-anak PMI," ujar Choiriyah Ulfah, M.Pd selaku Pembina Panitia KEBUD BES DIY.
“Untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap budaya lokal di kalangan generasi muda. Kami ingin mereka merasaka bahwa belajar di perantauan tidak hanya untuk menempuh pendidikan tetapi juga untuk belajar banyak hal salah satunya yaitu budaya,” tambah Riesty Amaylia, S.Pd. Gr.
KEBUD BES DIY juga diisi dengan acara- acara menarik salah satunya yaitu talk show. Sesi untuk hari pertama adalah “Attitude dan Bijak Bermedia Sosial.” Acara ini bertujuan untuk memberikan edukasi tentang etika bermedia sosial, bahaya penyebaran hoaks, serta dampak buruk dari cyberbullying oleh Frangky Kurniawan M.Pd., didampingi oleh Arfanita Zaharani sebagai moderator.
Sesi Talk Show Kedua, sumber: Ade Haryo
Adapun untuk talk show yang kedua, yaitu "Self-Healing, Mental Care, and Sex Education" digelar sebagai upaya memberikan edukasi kepada generasi muda tentang pentingnya menjaga kesehatan mental dan pemahaman yang baik terkait pendidikan seks.
Talk show ini menghadirkan sejumlah pembicara yang merupakan ahli di bidangnya, yaitu Miranto Zainal Arif (Duta Genre DIY 2023) dan Alya Adinti (Duta Genre DIY 2023) dan didampingi oleh Mohammad Afsar (Duta Genre DIY 2023) sebagai moderator.
Mereka diundang untuk memberikan pandangan mengenai pentingnya kesehatan mental dan pendidikan seksual dalam kehidupan generasi muda, terutama di tengah tantangan modern yang sering kali dihadapi oleh remaja dan pelajar.
Sesi Talk Show Ketiga, sumber: Yehezkiel Yunus
Adapun untuk talk show yang terakhir dan juga merupakan inti dari acara Kemah Budaya ini yaitu Goes To University dimana acara ini dipandu oleh pemateri, yaitu Reri Saputra, S.Pd., Gr (Guru Sekolah Indonesia Liar Negeri Jeddah) dan Muhammad Farid (mahasiswa Universitas Gadjah Mada). Sesi ini bertujuan agar Beswan nantinya tidak bingung dalam memilih jurusan dan kampus. Di sini, juga diberikan informasi terkait alur pendaftaran dan tips and trick masuk kuliah.
Salah satu momen yang paling dinantikan adalah malam puncak pementasan budaya atau Pensi. Pada malam itu, para peserta menunjukkan bakat mereka yang telah disiapkan. Pementasan ini tidak hanya menampilkan tarian atau musik. Namun, pentas seni yang mereka tampilkan adalah SENDRATASIK, di mana para Beswan dapat bekerja sama dan mengambil peran dalam kelompok.
"Antusiasme peserta terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Mereka tidak hanya aktif mengikuti setiap sesi, tetapi juga saling bertukar ide dan pengalaman. Hubungan yang terjalin di antara mereka diharapkan dapat memperkuat ikatan persaudaraan dan kolaborasi antar generasi muda," ujar Adi Tri Sutrisno, S.Pd.,Gr. selaku Pembina Panitia KEBUD BES DIY
Kemah Budaya DIY ini berhasil menunjukkan bahwa generasi muda memiliki potensi besar dalam melestarikan dan mengembangkan budaya. Diharapkan, kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk menyelenggarakan acara serupa dan semakin memperkuat semangat kebhinekaan di Indonesia.
Penulis: Muhammad Farid
Fotographer: Ade Haryo, Hesti Purnamasari, Yehezkiel Yunus, Rahman, dan Siti Hajar
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


