Banyak orang mengenal Joglo sebagai rumah adat tradisional masyarakat Jawa yang identik dengan atap menyerupai gunung. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa arsitektur Joglo sebenarnya memiliki beragam tipe dengan fungsi, proporsi, dan karakteristik arsitektural yang berbeda-beda.
Salah satu variasi yang paling anggun dan kaya akan makna sosial adalah Joglo Sinom. Dikenal melalui konfigurasi tiangnya yang sangat banyak serta perannya yang krusial sebagai ruang berkumpul masyarakat, Joglo Sinom membawa harmoni nilai estetika dan filosofi kehidupan Jawa..
Apa Itu Rumah Joglo Sinom?
Joglo Sinom adalah salah satu variasi arsitektur rumah adat Joglo khas Jawa yang ditandai dengan penggunaan 36 tiang (termasuk 4 saka guru), atap bertingkat tiga dengan satu bubungan, serta keberadaan teras keliling. Bangunan ini secara khusus dirancang sebagai ruang komunal untuk pertemuan warga, musyawarah, dan silaturahmi.
Dalam hierarki arsitektur Jawa, Joglo Sinom menempati posisi tipe Joglo dengan pengembangan struktur yang kompleks. Kata "Sinom" secara etimologis berakar dari bahasa Jawa yang merujuk pada daun muda (daun asam yang masih muda) atau pucuk rambut yang halus, yang melambangkan keremajaan, keramahan, keluwesan, dan pertumbuhan.
Karakteristik umum Joglo Sinom terletak pada proporsi bangunannya yang tampak mekar dan ramah. Berbeda dari bangunan hunian yang bersifat tertutup, fungsi utama Joglo Sinom diprioritaskan sebagai tempat perjumpaan sosial, interaksi antarwarga, serta balai pertemuan bagi pimpinan desa.
Rumah Joglo Sinom Berasal dari Mana?
Perkembangan arsitektur Joglo bermula dari kawasan Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, di mana struktur bangunan berkembang seiring dinamika strata sosial dan kebudayaan keraton.
Dalam tradisi tata ruang Jawa, bangunan bertipe Joglo pada mulanya dibangun oleh lingkungan bangsawan (priyayi) dan pimpinan wilayah karena membutuhkan lahan yang luas serta material kayu jati berkualiatas tinggi.
Tipe Sinom lahir dari kebutuhan arsitektural akan ruang perjumpaan yang lebih luas tanpa menghilangkan nilai keagungan Joglo. Dalam lingkungan keraton maupun desa-desa tradisional Jawa, pimpinan setempat membutuhkan sarana untuk mengumpulkan warga.
Dari sinilah arsitek tradisional Jawa (tukang/empu kayu) merancang variasi Joglo dengan menambahkan teras (tritisan) yang mengelilingi seluruh sisi bangunan, sehingga menghasilkan tipe Joglo Sinom.
Ciri Khas Rumah Joglo Sinom

Ilustrasi Rumah Adat Joglo Sinom | Sumber: Generated AI
Karakteristik arsitektur Joglo Sinom sangat khas dan mudah dikenali melalui beberapa elemen utama:
Jumlah Tiang yang Banyak: Menggunakan total 36 tiang pendukung yang berdiri di atas pondasi batu (umpak), di mana 4 tiang di antaranya merupakan tiang utama (saka guru).
Atap Tritunggal Bertingkat: Atapnya terbagi menjadi tiga tingkatan terpadu dengan satu bubungan (molo). Proporsi atapnya membumbung tinggi namun landai di bagian tepi karena ketiadaan listplank yang tegas.
Proporsi dan Teras Keliling: Kehadiran teras tanpa sekat yang mengelilingi (teritisan) keempat sisi bangunan memberikan proporsi yang luas, seimbang, dan terbuka.
Tata Ruang Terbuka: Mengutamakan sistem ruang tanpa dinding tebal di bagian depan guna memaksimalkan sirkulasi udara dan pandangan.
Material Alami: Didominasi oleh kayu jati tua sebagai rangka utama serta genteng tanah liat (sirap) yang memberikan kenyamanan termal.
Bagian-Bagian Rumah Joglo Sinom
Sesuai dengan tata ruang arsitektur Jawa, Joglo Sinom membagi fungsinya ke dalam hirarki zona dari publik hingga privat:
Pendapa: Bagian depan bangunan yang sangat luas dan terbuka tanpa dinding. Pendapa difungsikan untuk menjamu tamu terhormat, melangsungkan musyawarah, serta pertunjukan seni.
Pringgitan: Ruang antara yang menghubungkan pendapa dengan area dalam (omah dalem). Pringgitan kerap digunakan untuk menerima tamu dekat atau pagelaran wayang kulit.
Omah Dalem: Bagian utama atau ruang tengah yang bersifat privat, digunakan sebagai ruang keluarga untuk berkumpul dan bersantai.
Senthong: Area privat di dalam omah dalem yang biasanya terbagi menjadi tiga kamar (senthong kiwa, senthong tengah, dan senthong tengen). Senthong tengah dianggap paling sakral.
Gandhok: Bangunan tambahan di sisi kiri atau kanan omah dalem yang berfungsi sebagai kamar tidur ekstra atau tempat penyimpanan.
Teras (Teritisan): Area semi-terbuka mengelilingi bangunan yang berfungsi sebagai wadah interaksi santai dengan tetangga sekitar.
Saka Guru: Empat pilar kayu utama yang berada di tengah bangunan sebagai penopang beban struktur atap tertinggi (brunjung).
Keberadaan tata ruang ini menegaskan cara hidup masyarakat Jawa yang menyeimbangkan antara kehidupan bermasyarakat (publik di pendapa) dan kerukunan domestik (privat di omah dalem).
Filosofi Rumah Joglo Sinom
Filosofi yang terkandung dalam arsitektur Joglo Sinom mencerminkan pandangan hidup masyarakat Jawa yang sarat akan nilai spiritualitas dan kemanusiaan.
Hal ini terlihat jelas pada keberadaan empat tiang utama yang dikenal sebagai saka guru. Pilar-pilar tengah ini bukan sekadar penopang beban fisik atap yang berat, melainkan simbol penjaga keseimbangan hidup dari empat arah mata angin sekaligus perlambang kekuatan jiwa manusia.
Keagungan struktur ini dipadukan dengan desain atap menjulang menyerupai gunung yang menegaskan hubungan vertikal antara manusia dan Sang Pencipta, mengingat masyarakat Jawa meyakini gunung sebagai tempat sakral yang penuh kesucian.
Selain dimensi spiritual, Joglo Sinom mengusung nilai keterbukaan dan keharmonisan sosial yang sangat kuat. Tata ruang pendapa yang lapang tanpa dinding sekat serta penempatan pintu utama tepat di tengah bangunan menjadi pesan visual bahwa rumah ini senantiasa ramah dan terbuka bagi siapa saja.
Keberadaan teras luas yang mengelilingi bangunan turut mempererat hubungan horizontal antarmanusia melalui budaya musyawarah, gotong royong, dan silaturahmi.
Pada masa lalu, walaupun kepemilikan Joglo Sinom menandakan status sosial dan kemampuan ekonomi yang tinggi dari pemiliknya, bangunan ini justru hadir sebagai fasilitas publik yang memanifestasikan kepedulian sosial seorang pimpinan terhadap warga di sekitarnya.
Apa Perbedaan Rumah Joglo Sinom dengan Jenis Joglo Lainnya?
Untuk memahami keunikan Joglo Sinom, berikut perbandingannya dengan beberapa variasi tipe Joglo lainnya dalam arsitektur Jawa:
| Jenis Joglo | Jumlah Tiang | Karakteristik Atap | Fungsi Utama | Ciri Khas |
| Joglo Sinom | 36 Tiang | Bertingkat 3, teras mengelilingi | Pertemuan sosial & balai warga | Memiliki teras di 4 sisi, proporsi luas & ramah |
| Joglo Limasan | 16–20 Tiang | Atap memanjang (limas) | Hunian tempat tinggal | Menggunakan bubungan memanjang (denah persegi panjang) |
| Joglo Pangrawit | 36 Tiang | Atap membumbung tinggi dengan lambang gantung | Pendopo keraton / pimpinan tinggi | Tiang penyangga memiliki ukuran dan ukiran lebih megah |
| Joglo Jompongan | 16–20 Tiang | Bertingkat 2, atap lebih pendek | Hunian masyarakat menengah | Memakai dua pintu lipat, struktur lebih sederhana |
| Joglo Hageng | >36 Tiang | Atap sangat tinggi & bertingkat kompleks | Kediaman raja / bangsawan uta | Paling besar, paling rumit, dan berukuran sangat megah |
Keunikan Rumah Joglo Sinom
Keunikan utama tipe Joglo Sinom terletak pada keseimbangan antara kemegahan struktur dan kehangatan fungsinya. Meskipun memiliki 36 tiang yang terkesan rumit dan kokoh, kehadiran teras mengelilingi bangunan justru menghilangkan kesan kaku.
Penerapan prinsip arsitektur tradisional seperti sistem pasak (tanpa paku besi) membuat Joglo Sinom fleksibel dan tahan terhadap guncangan gempa bumi. Struktur ini membuktikan keandalan teknis para empu kayu Jawa masa lalu dalam menyatukan kekuatan mekanis dengan fungsi sosial masyarakat.
Apakah Rumah Joglo Sinom Masih Digunakan?
Memasuki era modern, pemanfaatan rumah Joglo Sinom mengalami perkembangan dinamis melalui adaptasi fungsi tanpa menghilangkan identitas arsitekturnya.
Di lingkungan tradisional seperti kawasan Keraton Surakarta dan Yogyakarta, serta berbagai kantor pemerintahan daerah di Jawa Tengah, Joglo Sinom masih dipertahankan secara utuh sebagai pendopo resmi untuk upacara adat, balai pertemuan warga, maupun ruang penerimaan tamu kehormatan.
Kehadirannya di ruang-ruang publik ini membuktikan bahwa nilai efektivitas tata ruang Joglo Sinom sebagai tempat berkumpul masyarakat tetap relevan melintasi zaman.
Di luar lingkup pemerintahan, Joglo Sinom kini mengadaptasi fungsi baru yang erat kaitannya dengan sektor pariwisata, kebudayaan, dan gaya hidup modern. Banyak bangunan Joglo Sinom yang direstorasi secara anggun di kawasan desa wisata dan museum untuk difungsikan sebagai pusat pameran seni, sanggar tari, hingga cagar budaya edukatif.
Tak hanya itu, sektor komersial seperti industri kuliner dan perhotelan turut mengadopsi struktur arsitektur ini sebagai aula pernikahan (wedding hall), resor bertema etnik, hingga kedai kopi berkonsep Jawa klasik. Melalui proses alih fungsi yang adaptif ini, Joglo Sinom tidak hanya bertahan sebagai benda peninggalan sejarah, tetapi terus hidup dan memberi nilai manfaat bagi masyarakat luas.
Sumber Tulisan:
- https://budaya.jogjaprov.go.id/artikel/detail/Mengenal-Bangunan-Berarsitektur-Tradisional-Jawa-Bangunan-Joglo-Bagian-2
- https://e-journal.uajy.ac.id/6803/4/TA313543.pdf
- https://disbud.bantulkab.go.id/storage/disbud/menu/407/97.-Rumah-Tradisional-Milik-UGM.pdf
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


