- Komunitas Ideketjil didirikan olehSoraya PintaRamapada2015di KotaPalu, SulawesiTengah.
- Ideketjil aktif mendukung literasi anak dan keluarga dengan mendistribusikan buku danpermainan edukatif.
Ideketjil bukan sekadar komunitas biasa. Bermula dari keresahan seorang ibu bernama Soraya Pinta Rama di Kota Palu, Sulawesi Tengah, komunitas ini lahir dari keinginan sederhana.
Soraya ingin menyediakan akses buku dan mainan edukatif bagi anak-anak, sekaligus menciptakan ruang bagi orang tua untuk belajar bersama.
Tahun 2015 menjadi titik awal ketika Soraya menyadari betapa pentingnya interaksi antara anak dan orang tua melalui buku.
Saat itu, ia melihat seorang anak temannya begitu antusias mendengarkan cerita dari buku bergambar milik anaknya.
Momen itu menginspirasinya untuk bergerak—mulai dari meminjamkan buku pribadi hingga menjual buku anak dari rumah, bukan sekadar untuk bisnis, melainkan untuk memperluas akses literasi.
Tahun 2025, Ideketjil terpilih sebagai salah satu komunitas untuk program Gerakan 100 Komunitas Bermain Tanpa Gadget yang diselenggarakan Good News From Indonesia (GNFI) dan Komunitas Lali Gadget.
Dari Komunitas Lokal ke Gerakan Nasional
Dari ruang tamu rumahnya, Ideketjil perlahan tumbuh menjadi sebuah ekosistem yang lebih besar. Pada 2016–2018, komunitas ini mulai aktif mendistribusikan buku anak dan mainan edukatif, sekaligus mengampanyekan pentingnya pendidikan berbasis keluarga di lingkungan sekitar.
Pasca-bencana gempa dan tsunami Palu 2018, Ideketjil semakin memperkuat perannya dengan fokus pada literasi keluarga dan pendidikan anak usia dini. Soraya terus meningkatkan kapasitas dirinya melalui berbagai pelatihan dan sertifikasi, sehingga komunitas ini semakin solid.
Memasuki 2022–2024, Ideketjil mulai melebarkan sayap dengan program daring seperti kelas parenting, workshop pengasuhan anak, dan kolaborasi dengan berbagai NGO serta komunitas literasi nasional.
Pada 2025, komunitas ini resmi menjadi Yayasan Tumbuh Baik Indonesia, menandai babak baru dalam pengembangan layanan terstruktur untuk literasi keluarga.
Visi dan Misi yang Berpihak pada Anak
Ideketjil memiliki visi menjadi pusat sumber daya keluarga di Sulawesi Tengah yang mendorong tumbuh kembang anak melalui literasi, pengasuhan sadar, dan pendidikan usia dini berbasis komunitas.
Misi mereka di antaranya menyediakan akses literasi yang mudah dan menyenangkan, mendorong pengasuhan yang berpihak pada anak, serta membangun jejaring kolaboratif lintas sektor.
Kegiatan mereka beragam, mulai dari read aloud (membacakan buku dengan lantang), workshop pengasuhan anak, hingga program kolaborasi dengan pemerintah dan organisasi non-pemerintah.
Salah satu proyek terbaru mereka adalah mendirikan perpustakaan literasi keluarga pertama di Kota Palu, didukung oleh UMKM lokal @fiteatgo. Tempat ini diharapkan menjadi ruang ramah anak yang memudahkan keluarga mengakses buku berkualitas.
Dari Keresahan Menjadi Harapan
Soraya Pinta Rama, pendiri Ideketjil, mengungkapkan bahwa perjalanan komunitas ini penuh dengan momen mengharukan. Salah satunya ketika seorang ibu berkata, “Terima kasih, karena saya tak lagi merasa panik sendirian jadi orang tua.”
Kalimat itu menjadi pengingat betapa pentingnya dukungan komunitas dalam pengasuhan anak.
Bagi Soraya, Ideketjil bukan lagi miliknya sendiri, melainkan milik semua orang tua yang percaya bahwa membesarkan anak tidak harus dilakukan sendirian.
Ia mengutip motto dari Jim Trelease, penulis The Read-Aloud Handbook, “Apa yang kita ajarkan kepada anak untuk dicintai dan diinginkan akan selalu lebih penting daripada apa yang kita paksa mereka pelajari.”
Semangat Membangun Generasi Literat
Ke depan, Ideketjil berkomitmen untuk terus memperluas dampaknya, tidak hanya di Palu tetapi juga di wilayah lain di Indonesia.
Dengan semangat kolaborasi dan keyakinan bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil, komunitas ini menjadi bukti bahwa gerakan literasi keluarga bisa tumbuh dari mana saja—bahkan dari ruang tamu seorang ibu yang peduli.
Melalui buku, diskusi, dan dukungan antaranggota, Ideketjil telah menciptakan ruang di mana orang tua dan anak bisa belajar bersama.
Mereka membuktikan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan baca-tulis, melainkan juga alat untuk memperkuat ikatan keluarga dan membangun masa depan yang lebih baik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


