Pada tahun 2016, Australia memusnahkan seluruh kiriman salak pondoh dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) setelah ditemukan belatung lalat buah di dalamnya.
Insiden itu tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi sesaat, tetapi juga mengakibatkan embargo yang berdampak panjang. Australia menutup pintu ekspor salak pondoh yang merupakan salah satu komoditas ikonik Indonesia. Padahal, buah tersebut memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar internasional.
Dr. Suputa, S.P., M.P., Ketua Program Studi Magister Ilmu Hama Tanaman Faperta UGM, menegaskan betapa seriusnya tantangan ini.
“Serangan lalat buah menjadi hambatan serius dalam ekspor buah Indonesia,” ujarnya.
Lalat buah (Bactrocera spp.) memang menjadi momok menakutkan bagi dunia hortikultura Indonesia. Serangga ini bertelur di dalam buah. Kemudian, larva yang menetas akan memakan daging buah dari dalam tanpa meninggalkan tanda kerusakan yang tampak dari luar.
Bagi petani salak, serangan ini berdampak pada penurunan kualitas sehingga mendapat penolakan dari pasar ekspor yang memiliki standar fitosanitari ketat.
Kerugian yang ditimbulkan tidak main-main. Secara global, pada tahun 2021, hama lalat merusak hingga 40% hasil panen dan menyebabkan kerugian ekonomi mencapai $220 miliar.
Selama ini, petani hanya mengandalkan insektisida kimia untuk memerangi hama. Namun, cara ini memiliki banyak kelemahan, di antaranya residu kimia yang berbahaya bagi konsumen, resistensi hama, hingga pencemaran lingkungan. Bahkan, sebenarnya insektisida tidak efektif membasmi telur dan larva yang bersembunyi di dalam buah.
Mengatasi Hama Lalat Buah dengan Teknik Serangga Mandul (TSM)
Nuklir sering dikaitkan dengan bom, padahal di baliknya tersimpan potensi besar yang berguna untuk ketahanan pangan manusia. Salah satunya adalah Teknik Serangga Mandul (TSM) atau Sterile Insect Technique (SIT).
Lantas, bagaimana cara kerjanya?
Secara sederhana, TSM adalah metode pengendalian hama dengan cara melepaskan serangga jantan yang telah dimandulkan ke alam liar.
Prosesnya dimulai dengan membiakkan lalat buah jantan dalam laboratorium. Kemudian, lalat-lalat ini disinari dengan dosis radiasi ionisasi yang tepat sehingga membuat mereka mandul. Meski demikian, mereka tetap sehat dan aktif secara seksual. Setelah itu, ribuan bahkan jutaan lalat jantan mandul ini dilepaskan ke area perkebunan.
Di alam, lalat jantan mandul ini akan bersaing dengan lalat jantan liar untuk berebut pasangan. Ketika berhasil kawin dengan betina liar, telur yang dihasilkan tidak akan menetas. Populasi hama pun perlahan-lahan menurun dari generasi ke generasi karena tidak ada keturunan baru yang dihasilkan.
TSM bersifat sangat spesifik. Teknik ini hanya menargetkan spesies hama tertentu tanpa membahayakan serangga lainnya yang berguna bagi pertanian, manusia, ataupun lingkungan. Ini adalah solusi yang jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan penyemprotan insektisida.
Sinergi UGM dan BRIN Membuka Pintu Ekspor dengan Iradiasi Pascapanen
Kolaborasi antara Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam pengembangan teknologi nuklir menghasilkan solusi untuk buah yang sudah dipanen, yaitu melalui iradiasi.
Kolaborasi ini bertujuan untuk memutus mata rantai masalah tersebut. Teknologi iradiasi digunakan untuk mensterilkan buah salak yang sudah siap ekspor. Sinar radiasi dengan dosis yang terkontrol mampu membunuh semua tahap hidup lalat buah di dalam buah tanpa merusak kualitas, rasa, atau kesegaran buah itu sendiri.
“Peluangnya itu besar sekali. Untuk bagian pascapanen, pemanfaatan iradiasi khususnya untuk buah-buahan adalah untuk perlakuan fitosanitari. Dengan iradiasi, radiasi bisa menembus hingga ke dalam buah dan membunuh telur maupun larva hama lalat buah yang tersembunyi,” jelas Murni Indarwatmi dari BRIN.
Ia juga dengan tegas menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai teknik iradiasi ini. Menurutnya, tidak akan ada zat radioaktif yang menempel pada produk selama dosis yang digunakan sesuai sehingga buah yang diekspor aman dan bebas dari hama. bahwa tidak ada
“Sebenarnya iradiasi ini tidak ada bahan radioaktif yang menempel sama sekali di produk. Dosisnya kecil dan aman, justru memastikan buah yang diekspor bebas dari hama,” imbuhnya.
Kombinasi antara TSM di kebun dan iradiasi pada buah pascapanen menciptakan sistem perlindungan ganda yang sangat efektif. Pendekatan ini tidak hanya memulihkan kepercayaan negara importir seperti Australia, tetapi juga membuka peluang pasar baru yang sebelumnya tertutup.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


