melawan algoritma dengan teka teki bisakah ai menikmati eureca - News | Good News From Indonesia 2026

Melawan Algoritma dengan Teka-Teki: Bisakah AI Menikmati "Eureca"?

Melawan Algoritma dengan Teka-Teki: Bisakah AI Menikmati "Eureca"?
images info

Melawan Algoritma dengan Teka-Teki: Bisakah AI Menikmati "Eureca"?


Suasana Minggu pagi biasanya identik dengan aroma kopi dan suara lembaran kertas yang di balik. Ada ritual sunyi yang terjadi di ribuan ruang tamu. Seseorang duduk termenung. Tangannya memegang pensil kayu yang ujungnya mulai tumpul.

Matanya menatap tajam pada deretan kotak-kotak kosong berwarna hitam dan putih. Dahi orang tersebut berkerut. Ada pergulatan batin yang seru di sana.

Bukan tentang masalah negara atau ekonomi global. Pikiran orang tersebut sedang tersangkut pada satu pertanyaan mendatar lima huruf. Sinonim dari kata "bahagia".

Momen sederhana tersebut merupakan warisan panjang dari peristiwa pada 21 Desember 1913. Arthur Wynne, seorang jurnalis kelahiran Liverpool, mungkin tidak pernah membayangkan karyanya akan bertahan lebih dari satu abad.

Sang jurnalis menerbitkan apa yang disebutnya sebagai Word-Cross di surat kabar New York World. Bentuknya zaman dahulu masih menyerupai wajik.

Tidak ada kotak hitam sebagai pemisah. Namun, konsep dasarnya tetap sama. Mengisi kekosongan dengan makna.

Dunia sudah berubah drastis sejak Arthur Wynne menggambar kotak pertamanya. Pensil kayu berganti menjadi layar sentuh. Koran fisik perlahan menyingkir ke sudut sejarah. Mesin pintar bernama kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini hadir di tengah masyarakat. Teknologi tersebut mampu menjawab segala pertanyaan dalam hitungan kedipan mata.

baca juga

Algoritma Melawan Intuisi Manusia

Coba bayangkan sebuah kompetisi. Seseorang duduk berhadapan dengan komputer super canggih. Keduanya diberikan satu halaman penuh Teka-Teki Silang (TTS) edisi Minggu yang terkenal sulit.

Wasit meniup peluit. Mesin tersebut pasti akan selesai dalam waktu kurang dari satu detik. Algoritma di dalamnya memindai pola, mencocokkan basis data kamus seluruh dunia, dan memuntahkan jawaban dengan akurasi seratus persen.

Kemenangan sang mesin merupakan kemenangan efisiensi. Namun, TTS tidak pernah diciptakan demi efisiensi. Permainan tersebut didesain justru demi membuang waktu dengan cara yang elegan.

Ada kesalahpahaman mendasar jika menganggap tujuan utama TTS yaitu terisinya semua kotak. Tujuan sejatinya yaitu proses berpikir itu sendiri.

Manusia sering kali menjawab dengan intuisi. Kadang jawaban tersebut muncul bukan dari kamus, melainkan dari ingatan masa kecil, potongan lagu lama, atau nama tokoh yang pernah didengar sekilas di radio.

Proses memanggil kembali memori yang terkubur itulah yang membuat otak bekerja aktif. Pakar kesehatan sering menyebut aktivitas tersebut sebagai senam otak. Hal tersebut dipercaya mampu memperlambat kepikunan.

Mencari Sensasi "Eureca"

 Ilustrasi bermain Teka Teki Silang | Pexels | cottonbro studio
info gambar

Ilustrasi bermain Teka Teki Silang | Pexels | cottonbro studio


Kenikmatan terbesar seorang pengisi TTS bukanlah saat semua kotak terisi penuh. Puncak kenikmatan justru terjadi saat seseorang menemukan satu kata kunci yang macet selama berjam-jam. Momen tersebut sering disebut sebagai momen Eureca.

Bayangkan, Kawan GNFI terhadap situasinya. Seseorang buntu pada pertanyaan nomor 15 menurun. "Ibu kota negara lama di Eropa". Empat huruf. Huruf terakhirnya 'A'. Orang tersebut meninggalkan korannya. Pergi mandi. Makan siang. Lalu tiba-tiba, saat sedang menyiram tanaman di sore hari, sebuah kata melintas di kepala, yaitu "Roma!"

baca juga

Penikmat TTS lari kembali ke meja. Menuliskan kata R-O-M-A dengan semangat menggebu. Ternyata cocok. Huruf 'M' dari kata Roma tersebut kemudian membuka jawaban untuk pertanyaan nomor 17 mendatar yang juga sempat macet. Rangkaian jawaban pun terbuka satu per satu seperti kartu domino yang roboh.

Sensasi lonjakan dopamin saat menemukan jawaban sulit itulah yang tidak akan pernah dimiliki oleh AI. Algoritma mungkin bisa memberikan jawaban "Roma", tapi mesin tersebut tidak merasakan kelegaan. Perangkat digital tidak merasakan sensasi beban yang terangkat dari pundak.

Rasa penasaran menjadi ciri khas makhluk hidup. Rasa penasaran itulah yang membuat TTS bertahan melintasi zaman. Arthur Wynne menciptakan sebuah candu intelektual. Orang-orang rela pusing demi sebuah kepuasan batin yang abstrak.

Filosofi tersebut sangat bertentangan dengan cara kerja media sosial zaman sekarang. Orang terbiasa mendapatkan informasi cepat. Scroll sedikit dapat informasi baru.

Tidak ada jeda untuk berpikir. Tidak ada ruang untuk menebak. Semua tersaji vulgar dan terang benderang. TTS justru menawarkan kegelapan yang menantang untuk diterangi perlahan-lahan.

Jejak Rumeli dan Romantisme Bahasa

Kawan GNFI, berbicara tentang TTS di tanah air, ingatan kolektif masyarakat tidak bisa lepas dari sosok legendaris seperti Rumeli Moeshar. Karyanya di harian Kompas sejak akhir dekade enam puluhan menjadi standar emas teka-teki silang nasional.

Rumeli dan para pembuat TTS manual lainnya merupakan seniman bahasa. Para pembuat soal tersebut punya gaya unik.

Sering kali ada jebakan jenaka dalam pertanyaannya. Jawaban yang diminta bukan sekadar sinonim kaku, melainkan pelesetan atau pengetahuan umum yang menyentil logika.

Selain itu, TTS berperan sebagai benteng terakhir kosakata lawas. Kata-kata yang sudah jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari sering kali menemukan tempat perlindungan di dalam kotak-kotak hitam putih.

Generasi muda mungkin asing dengan kata "Enin" sebagai sebutan nenek, atau "Bena" untuk ombak. Namun, para pengisi TTS hafal di luar kepala.

Bahasa Indonesia yang kaya raya dirawat dengan apik lewat permainan tersebut. Ada edukasi terselubung di setiap edisinya. Seseorang dipaksa membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Orang jadi tahu ejaan yang baku. Mana yang benar antara "antre" atau "antri". Mana "apotek" atau "apotik". Tanpa sadar, literasi masyarakat terdongkrak naik.

baca juga

Bertahan di Tengah Gempuran Digital

 Ilustrasi teknologi dalam permainan Teka Teki Pexels | Pavel Danilyuk
info gambar

Ilustrasi teknologi dalam permainan Teka Teki Pexels | Pavel Danilyuk


Banyak pihak sempat meramalkan kematian TTS saat gawai pintar mulai mewabah. Prediksi tersebut meleset. Aplikasi TTS justru menjamur di toko aplikasi. Formatnya berubah digital, tapi jiwanya tetap sama. Fenomena tersebut membuktikan satu hal penting. Manusia modern yang lelah dengan hiruk-pikuk visual butuh pelarian.

Hadirnya AI seharusnya tidak dianggap sebagai ancaman bagi eksistensi hobi tersebut. Justru sebaliknya. Kehadiran AI semakin mempertegas nilai unik dari kecerdasan manusia. Mengisi TTS dengan bantuan Google atau ChatGPT memang dimungkinkan.

Namun, tindakan tersebut mencederai kehormatan diri sendiri. Apa gunanya pamer kotak yang terisi penuh jika bukan hasil keringat sendiri? Kebanggaan semu tidak akan bertahan lama. Para pencinta TTS sejati tahu aturan main tidak tertulis tersebut.

Pada akhirnya, hari Teka-Teki Silang yang diperingati setiap tanggal 21 Desember bukan sekadar perayaan sejarah Arthur Wynne. Momentum tersebut menjadi pengingat tentang kemanusiaan. Pengingat bahwa manusia merupakan makhluk yang suka memecahkan masalah.

Kepuasan tersebut bersifat personal dan purba. Selama manusia masih memiliki rasa penasaran dan keinginan untuk menantang diri sendiri, kotak-kotak hitam putih tersebut akan tetap relevan. Pensil boleh berganti stylus. Kertas boleh berganti layar LED. Namun, sensasi berteriak "Eureca" dalam hati tetaplah milik manusia seutuhnya.

Kecerdasan buatan boleh menang dalam kecepatan, tapi manusia menang dalam hal menikmati perjalanan menemukan kebenaran. Selamat merayakan kerumitan yang menyenangkan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

TA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.