Pernahkah Kawan GNFI membayangkan bagaimana manusia purba mengekspresikan sesuatu pada berabad-abad lalu sebelum mengenal tulisan?
Pada masa prasejarah, dinding gua yang dingin dan lembap menjadi saksi bisu lahirnya karya seni yang indah di berbagai tempat, termasuk di Nusantara.
Seni lukis di masa prasejarah bukan sekadar hiasan dinding semata, melainkan rekaman kehidupan, kepercayaan, dan harapan masyarakat kala itu.
Mari kita telusuri jejak kreativitas manusia purba yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia. Simak sampai habis, ya!
Kehidupan pada Masa Berburu Tingkat Lanjut
Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, kehidupan manusia purba di Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan dibandingkan masa sebelumnya.
Mengutip dari buku "Sejarah Nasional Indonesia Jilid I" karya Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto, masyarakat pada masa ini mulai memilih untuk tinggal lebih lama di gua-gua alam (abris sous roche).
Lingkungan yang relatif stabil ini memungkinkan mereka untuk mengembangkan kebudayaan yang kompleks, termasuk seni lukis.
Pilihan untuk menetap sementara di gua-gua yang dekat dengan sumber air dan sumber makanan memicu munculnya kesadaran dalam membuat karya seni.
Mereka tidak lagi hanya memikirkan cara bertahan hidup dari serangan binatang buas, tetapi juga mulai merefleksikan pengalaman hidup mereka ke dalam bentuk visual.
Inilah titik awal di mana seni menjadi bagian tak terpisahkan dari kehadiran manusia purba di Indonesia.
Teknik dan Media yang Digunakan dalam Melukis
Teknik pembuatannya pun cukup unik untuk ukuran zamannya. Berikut teknik yang lazim digunakan:
- Teknik cap tangan, yaitu dengan menempelkan telapak tangan ke dinding gua lalu meniupkan pigmen warna di sekelilingnya.
- Teknik lukis langsung, menggunakan jari atau alat sederhana untuk menggambar bentuk binatang dan simbol tertentu.
- Teknik siluet, menggambarkan bentuk hewan secara sederhana namun proporsional.
Lukisan Gua Terkenal dari Masa Berburu Tingkat Lanjut
1. Gua Leang PattaE (Maros, Sulawesi Selatan)
Gua Leang PattaE menjadi titik awal penemuan seni lukis gua di Sulawesi Selatan. Pada tahun 1950, C.H.M. Heeren-Palm menemukan cap-cap tangan berlatar cat merah yang dibuat dengan teknik negatif. Seluruh cap tangan tersebut merupakan cap tangan kiri dan diduga milik perempuan.
Selain cap tangan, ditemukan pula lukisan seekor babi rusa yang digambarkan sedang melompat dengan sebuah panah tertancap di bagian jantungnya.
Lukisan ini diperkirakan memiliki makna religis-magis, yakni sebagai simbol harapan agar kegiatan berburu di hutan berlangsung dengan sukses.
2. Gua Burung (Maros, Sulawesi Selatan)
Masih di kawasan Maros, Gua Burung menyimpan cap-cap tangan kiri yang ditemukan pada ketinggian sekitar 8 meter dari permukaan tanah. Letaknya yang sulit dijangkau menunjukkan bahwa pembuatan lukisan ini memerlukan usaha dan perencanaan khusus.
Di beberapa bagian dinding gua lainnya juga terdapat cap tangan, meskipun warnanya sudah pudar.
Dominasi cap tangan kiri di gua ini memperkuat ciri khas seni cadas Sulawesi Selatan yang erat kaitannya dengan simbol identitas dan kepercayaan spiritual.
3. Gua JariE (Pangkajene, Sulawesi Selatan)
Gua JariE dikenal karena keragaman bentuk cap tangan yang ditemukan di dalamnya. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat sekitar 29 cap tangan yang terbagi ke dalam 4 kelompok dengan latar belakang warna merah.
Keunikan gua ini terletak pada variasi jumlah jari pada cap tangan, mulai dari tiga hingga empat jari, bahkan ada yang tidak memiliki ibu jari.
Variasi ini menunjukkan bahwa cap tangan bukan sekadar hasil aktivitas iseng, melainkan simbol yang mengandung makna tertentu bagi masyarakat pendukungnya.
4. Gua Sumpang Bita (Pangkajene, Sulawesi Selatan)
Gua Sumpang Bita merupakan salah satu situs seni cadas dengan pola lukisan paling beragam di Sulawesi Selatan. Selain cap tangan dan gambar babi, di gua ini ditemukan pola anoa, ikan, serta sampan.
Salah satu temuan paling unik adalah cap kaki yang digambarkan dalam bentuk negatif. Cap kaki ini diduga berkaitan dengan upacara sakral dalam siklus hidup manusia, misalnya peristiwa seorang anak yang mulai mampu berjalan untuk pertama kalinya, sehingga memiliki makna religis-magis.
5. Gua Sakapao (Pangkajene, Sulawesi Selatan)
Gua Sakapao terletak di wilayah pedalaman dan berada di tebing bukit. Lukisan-lukisan di gua ini didominasi warna merah dengan pola cap tangan dan babi. Beberapa cap tangan bahkan digambarkan lengkap dengan bagian lengan bawah.
Keistimewaan Gua Sakapao terletak pada lukisan babi yang memiliki goresan menyerupai bekas luka di punggungnya. Lukisan ini ditafsirkan sebagai simbol kontak magis yang berkaitan dengan keberhasilan berburu.
Selain itu, terdapat pula lukisan babi yang saling tumpang-tindih dengan penekanan pada unsur kesuburan.
6. Gua Metanduno (Pulau Muna, Sulawesi Tenggara)
Berbeda dengan seni cadas di Sulawesi Selatan, lukisan gua di Pulau Muna tidak menampilkan cap tangan. Gua Metanduno justru memperlihatkan keragaman tema yang sangat kaya, seperti manusia, rusa, kuda, babi, anjing, ular, lipan, perahu, matahari, dan bentuk geometrik.
Adegan perburuan menjadi salah satu tema utama, misalnya gambar pemburu yang sedang menusukkan tombak ke punggung rusa dengan bantuan anjing.
Selain itu, manusia juga digambarkan sebagai prajurit yang bertempur di darat dan laut. Lukisan-lukisan ini mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan sosial-ekonomis dan religis-magis.
7. Gua Ham (Tanjung Mangkalihat, Kalimantan Timur)
Gua Ham merupakan salah satu situs seni cadas paling spektakuler di Indonesia. Di gua ini ditemukan sekitar 275 cap tangan, jumlah terbanyak yang pernah tercatat dalam satu gua.
Selain cap tangan, terdapat pula lukisan penari, rusa, tapir, tumbuh-tumbuhan, dan bentuk geometrik.
Berdasarkan kajian arkeologi, lukisan-lukisan ini diperkirakan berusia sekitar 10.000 tahun dan menunjukkan adanya stratifikasi sosial serta perkembangan sistem kepercayaan masyarakat prasejarah di wilayah Kalimantan.
Makna di Balik Goresan Dinding
Seni lukis gua tidak sekadar merekam realitas. Banyak penelitian menyebutkan sejumlah fungsi berikut:
- Magis-religius: diyakini dapat mengundang keberhasilan berburu.
- Pendidikan: memperkenalkan jenis hewan dan strategi berburu kepada generasi muda.
- Identitas kelompok: simbol-simbol tertentu menjadi penanda komunitas.
- Catatan peristiwa: beberapa lukisan menarasikan perburuan atau perpindahan kelompok.
Sebagai generasi penerus, sudah seharusnya ikut menjaga dan melestarikan situs-situs sejarah ini. Kerusakan pada lukisan dinding gua, baik karena faktor alam maupun vandalisme manusia, akan menghilangkan memori tentang asal-usul bangsa Indonesia.
Mari kita apresiasi warisan masa lalu dengan terus belajar dan menjaga kelestariannya. Semoga informasinya bermanfaat serta menambah wawasan mengenai sejarah bangsa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


