mengenal kakatua maluku hewan yang disakralkan masyarakat huaulu - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Kakatua Maluku, Hewan yang Disakralkan Masyarakat Huaulu

Mengenal Kakatua Maluku, Hewan yang Disakralkan Masyarakat Huaulu
images info

Mengenal Kakatua Maluku, Hewan yang Disakralkan Masyarakat Huaulu


Kakatua Maluku atau Cacatuamoluccensis merupakan salah satu burung endemik Indonesia bagian timur yang memiliki nilai penting, tidak hanya secara ekologis tetapi juga budaya. 

Burung ini berasal dari Pulau Seram dan wilayah sekitarnya di Maluku. Keberadaannya telah lama melekat dalam kehidupan masyarakat adat, khususnya suku Huaulu yang tinggal di bagian utara Pulau Seram. 

Dalam konteks budaya setempat, kakatua tidak sekadar dipandang sebagai satwa liar, tetapi juga memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan proses kedewasaan dan tatanan sosial.

Kakatua Maluku, Penyelamat Budaya Huaulu

Masyarakat suku Huaulu memiliki tradisi adat yang disebut cidaku, yaitu prosesi peralihan status laki-laki dari remaja menjadi dewasa. Dalam prosesi ini, para remaja diwajibkan pergi ke hutan selama beberapa hari untuk berburu dan bertahan hidup secara mandiri. Salah satu syarat penting dalam tradisi tersebut adalah berburu burung kakatua. 

Seorang laki-laki dewasa Huaulu harus memiliki hiasan kepala atau mahkota adat, yang secara tradisional membutuhkan bulu jambul dari dua ekor kakatua. Praktik ini berlangsung turun-temurun dan pernah menjadi bagian penting dari identitas budaya suku Huaulu.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh A. Muchaddam Fahham dari Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI, dijelaskan bahwa tradisi penanda kedewasaan di Pulau Seram telah mengalami perubahan. Pada masa lalu, kedewasaan laki-laki bahkan diukur dari kemampuan mengayau, yakni memenggal kepala musuh dan membawanya pulang. 

Seiring waktu, praktik tersebut ditinggalkan dan digantikan dengan ukuran yang lebih relevan, seperti kemampuan berburu, menokok sagu, dan bertani. Meski demikian, penggunaan bulu kakatua dalam prosesi adat tetap bertahan dan kemudian menimbulkan kekhawatiran terhadap kelangsungan hidup satwa ini.

Dianggap hewan sakral

Bagi suku Huaulu, kakatua dianggap sebagai hewan sakral. Warna bulunya yang putih dimaknai sebagai lambang hidup bersih, suci, dan damai. Selain itu, perilaku hidup kakatua yang berkeluarga juga dianggap mencerminkan siklus kehidupan manusia. 

Ketika anak kakatua tumbuh dewasa, ia akan meninggalkan sarang untuk mencari pasangan dan membangun keluarga baru. Pola ini dipandang sejalan dengan perjalanan hidup laki-laki Huaulu yang meninggalkan masa remaja untuk memikul tanggung jawab sebagai orang dewasa.

Namun, praktik adat yang melibatkan perburuan kakatua turut mengancam populasi burung ini. Upaya pelestarian kemudian dilakukan melalui pendekatan jangka panjang oleh pegiat konservasi burung. 

Dialog dengan tokoh adat dan masyarakat setempat dilakukan untuk mencari alternatif simbol adat tanpa harus membunuh kakatua. 

Pendekatan ini secara perlahan mulai mengubah cara pandang masyarakat, sehingga tradisi tetap dapat dijalankan tanpa merusak kelestarian satwa.

Mengenal Kakatua Maluku

Secara biologis, Kakatua Maluku merupakan burung berukuran besar dengan berat badan dapat mencapai 0,85 kilogram. Betina umumnya berukuran sedikit lebih besar dibandingkan jantan. 

Ciri khas utama burung ini adalah jambul putih yang dapat berdiri, dengan bulu merah-oranye tersembunyi di bagian dalamnya. Jambul tersebut akan mengembang ketika burung merasa terancam, bersemangat, atau berkomunikasi dengan individu lain.

Kakatua Maluku memakan biji-bijian, buah-buahan, serta serangga. Reproduksinya berlangsung secara ovipar atau bertelur, dengan musim kawin umumnya terjadi antara bulan Desember hingga Maret. 

Dalam satu tahun, kakatua biasanya hanya berkembang biak satu kali, sehingga laju pertumbuhan populasinya tergolong lambat. Kondisi ini membuat spesies ini sangat rentan terhadap tekanan lingkungan dan perburuan.

Kicauannya setara konser musik

Selain penampilannya, Kakatua Maluku juga dikenal sebagai salah satu burung dengan kicauan paling keras di dunia. Burung ini mampu menghasilkan suara hingga 135 desibel, dengan rata-rata sekitar 120 desibel. 

Tingkat kebisingan ini setara dengan suara konser musik keras. Teriakan keras tersebut digunakan untuk berkomunikasi dengan kelompoknya di hutan lebat dan sebagai peringatan akan adanya bahaya. 

Karena karakter vokalnya yang ekstrem, kakatua ini dianggap sulit dipelihara di lingkungan padat penduduk.

baca juga

Termasuk satwa dilindungi

Saat ini, Kakatua Maluku termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 

Populasinya di alam terus menurun dan telah masuk zona merah karena sulit ditemui di habitat aslinya. 

Pelestarian Kakatua Maluku membutuhkan peran bersama, baik melalui perlindungan habitat, penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal, maupun pendekatan budaya agar tradisi lokal dapat berjalan seiring dengan upaya konservasi.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.