sebuku ni bumi ervan ceh kul - News | Good News From Indonesia 2026

"Sebuku Ni Bumi", Do'a dan Harapan dalam Sebuah Lagu oleh Ervan Ceh Kul

"Sebuku Ni Bumi", Do'a dan Harapan dalam Sebuah Lagu oleh Ervan Ceh Kul
images info

"Sebuku Ni Bumi", Do'a dan Harapan dalam Sebuah Lagu oleh Ervan Ceh Kul


Ketika kabar longsor dan banjir bandang datang dari dataran tinggi Gayo, alam seakan sedang berbicara dengan suara yang paling sunyi sekaligus paling keras. Tanah yang selama ini menjadi tempat berpijak dan sumber penghidupan runtuh dalam sekejap. Air yang biasanya mengalir tenang berubah menjadi arus yang merenggut rasa aman.

Wilayah Gayo khususnya Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara dan sekitarnya menjadi daerah yang terdampak parah dari bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Terletak di tengah-tengah Provinsi Aceh membuat akses ke daerah ini sangat sulit karena jalan yang sudah tidak dapat digunakan, sehingga penyaluran bantuan sering dilakukan melalui via udara.

Di tengah situasi duka itulah, musisi Gayo yakni Ervan Ceh Kul merilis sebuah lagu berjudul Sebuku ni Bumi, sebuah karya yang lahir dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi Aceh, khususnya tanah Gayo yang ia cintai.

baca juga

Lagu ini hadir bukan sebagai karya semata, melainkan sebagai respon batin seorang seniman yang gelisah melihat luka di kampung halamannya. Bencana yang melanda Gayo tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, rumah, ladang, dan jalan, tetapi juga menyisakan trauma dan kecemasan di benak masyarakat.

Ervan menangkap perasaan kolektif itu, lalu menerjemahkannya ke dalam nada dan lirik yang sederhana namun sarat makna. Sebuku ni Bumi menjadi ruang pengakuan bahwa duka ini nyata dan dirasakan bersama.

Pasca longsor dan banjir bandang, Gayo berada dalam situasi yang tidak mudah. Alam yang dulu dikenal ramah dan menenangkan kini menyisakan kekhawatiran. Masyarakat berhadapan dengan kehilangan, ketidakpastian, serta pertanyaan tentang masa depan.

Dalam konteks inilah lagu Ervan menemukan relevansinya. Ia hadir sebagai ungkapan empati dan dukungan moral, seolah ingin mengatakan bahwa mereka yang terdampak tidak sendiri, bahwa ada suara yang ikut merasakan perih yang sama.

Alasan Ervan merilis lagu ini berangkat dari rasa prihatin yang tulus. Ia tidak sedang berkhotbah atau menunjuk siapa yang salah, melainkan mengajak pendengarnya untuk berhenti sejenak dan mendengar suara bumi.

Lirik-lirik dalam Sebuku ni Bumi menggambarkan alam sebagai entitas hidup bumi yang bisa lelah, terluka, dan bersedih. Bencana tidak diposisikan semata-mata sebagai peristiwa alam, tetapi juga sebagai tanda bahwa relasi manusia dengan lingkungan perlu kembali direnungi.

Makna lagu ini terasa semakin kuat karena menggunakan bahasa dan simbol yang dekat dengan keseharian masyarakat Gayo. Kata-kata yang dipilih tidak berlebihan, justru kesederhanaannya membuat pesan lagu ini mudah diterima.

Ervan seolah sedang berbicara dari hati ke hati, mengajak pendengarnya untuk merawat ingatan kolektif bahwa tanah ini adalah warisan, bukan sekadar ruang yang bisa dieksploitasi tanpa batas.

baca juga

Pada bagian akhir, lagu ini ditutup dengan lirik “Pulihmi Gayo”. Kalimat singkat ini menjadi inti emosional dari keseluruhan lagu. Ia bukan hanya penutup, tetapi juga doa dan harapan.

Harapan agar Gayo segera pulih, agar luka-luka alam dan batin masyarakat dapat perlahan disembuhkan. Lirik ini juga menjadi seruan optimisme, bahwa di tengah duka selalu ada ruang untuk bangkit.

Lebih dari itu, Ervan berharap Sebuku ni Bumi mampu memperkuat solidaritas sosial. Lagu ini mengajak semua pihak mulai dari masyarakat, seniman, dan siapa pun yang mendengarnya untuk saling menguatkan dan peduli.

Dalam nada yang lirih tetapi tegas, Ervan mengingatkan bahwa memulihkan Gayo bukan hanya tugas alam, melainkan tanggung jawab bersama. Karena pada akhirnya, ketika bumi bersedih, manusialah yang harus belajar untuk lebih arif dan saling menjaga.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.