Pekalongannews - Di banyak keluarga Indonesia, stabilitas finansial sering kali dinilai dari apa yang tampak di permukaan. Rumah tertata rapi, cicilan berjalan lancar, anak bersekolah di tempat yang dianggap menjanjikan. Gambar Ilustrasi
Dari luar, kehidupan terlihat aman dan terkendali. Namun, seperti gunung es, yang terlihat sering kali hanya sebagian kecil dari kenyataan. Di bawah permukaan, fondasi finansial bisa rapuh tanpa disadari.
Masalahnya, rasa aman kerap bersumber dari perasaan, bukan perhitungan. Data menunjukkan literasi keuangan masyarakat Indonesia masih relatif rendah. Banyak keluarga tidak memiliki dana darurat yang cukup untuk bertahan bahkan tiga bulan jika penghasilan terhenti.
Ironisnya, justru saat kondisi ekonomi terlihat stabil, kewaspadaan menurun. Perubahan biaya hidup, inflasi, dan risiko kehilangan penghasilan sering diabaikan karena dianggap “tidak mungkin terjadi”.
Salah satu mitos paling berbahaya adalah keyakinan bahwa kenaikan gaji otomatis membuat keluarga aman. Pada kenyataannya, peningkatan penghasilan sering diikuti kenaikan gaya hidup. Rumah diperbesar, cicilan bertambah, dan pengeluaran meningkat demi menjaga gengsi.


