sawit tanah dan sebuah wilayah yang terlalu penuh - News | Good News From Indonesia 2026

Sawit, Tanah, dan Sebuah Wilayah yang Terlalu Penuh

Sawit, Tanah, dan Sebuah Wilayah yang Terlalu Penuh
images info

Jawa Barat hanyalah satu cermin. Pantulannya tampak jelas di Jawa pada umumnya, dan di banyak tempat lain yang sedang dipaksa memilih—antara tumbuh cepat, atau bertahan hidup.

Ada kalimat-kalimat yang terdengar tenang, ilmiah, dan karenanya tampak tak terbantahkan. Seperti ketika seorang guru besar berbicara tentang iklim, tanah, dan transpirasi. Angka-angka berdiri rapi. Grafik seolah lurus. Logika terasa selesai. Tetapi realitanya kebijakan publik—seperti hidup—tak pernah sesederhana satu variabel yang bisa diuji di laboratorium.

Awal Januari 2026, seorang profesor IPB menyebut larangan penanaman sawit di Jawa Barat sebagai kebijakan yang “tidak tepat”. Secara geografis dan iklim, katanya, sebagian wilayah Jawa Barat cocok untuk sawit. Sawit juga tidak boros air, karena tingkat transpirasi tanaman ini mirip dengan karet dan kakao. Kalimat-kalimat itu dikutip utuh, supaya tak disalahpahami, supaya tak jatuh menjadi hoaks. Namun justru di situlah persoalannya bermula.

Sebab kebijakan bukan soal apakah sebuah tanaman bisa tumbuh, melainkan apakah ia boleh tumbuh. Cocok secara iklim tidak otomatis layak secara ruang. Tanah bukan hanya media tanam, ia juga ingatan, penyangga, dan batas dari sebuah wilayah yang dihuni jutaan manusia.

Jawa Barat bukan kanvas kosong. Ia adalah provinsi terpadat di Indonesia, dengan lebih dari 1.300 jiwa per kilometer persegi. Permukiman merapat, sawah terdesak, perbukitan menjadi hulu DAS, dan setiap jengkal tanah menanggung fungsi ganda: tempat tinggal, sumber pangan, sekaligus penyangga air bagi Jawa Barat sendiri, DKI Jakarta, hingga Banten. Dalam kondisi seperti ini, pertanyaannya bukan lagi “tanaman apa yang bisa hidup”, melainkan “tanaman apa yang masih boleh ditanam tanpa membuat hidup semakin rapuh”.

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.