Indonesia memiliki kekayaan budaya yang melimpah, tak terkecuali daerah Jawa Tengah. Budaya yang dimiliki provinsi ini juga sangat beragam, mulai dari bangunan candi, makanan, batik, wayang, hingga tembang atau lagu.
Lagu daerah asal Jawa Tengah sebenarnya cukup akrab di telinga masyarakat Indonesia. Hal ini karena beberapa lagu tersebut dinyanyikan dalam permainan anak-anak (lagu dolanan).
Sejak kecil banyak anak menyanyikan lagu tersebut, misalnya lagu ‘Cublak-Cublak Suweng’ bersamaan dengan permainan yang mengasyikkan. Namun, tidak banyak yang paham arti serta makna dibalik lirik dalam lagu-lagu tersebut.
Artikel ini akan membahas lagu daerah Jawa Tengah yang berisi lirik dan makna di dalamnya. Kawan bisa menggunakannya untuk keperluan tugas sekolah atau tambahan wawasan pribadi.
Daftar Lagu Daerah Jawa Tengah Terpopuler
'Gundul-Gundul Pacul'
Gundul gundul pacul cul gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul kul gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak ratan
Wakul ngglimpang segane dadi sak ratan
Lagu ini adalah tembang yang cukup populer di kalangan masyarakat Jawa Tengah. Anak-anak sering menyanyikannya dalam permainan (dolanan).
Beberapa sumber menyebutkan ‘Gundul-Gundul Pacul’ diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-15. Sunan menggunakannya sebagai sarana dakwah untuk menyampaikan pesan moral tentang kepemimpinan.
Makna ‘Gundul’ dalam lagu adalah kehormatan tanpa mahkota atau jabatan. Sementara, ‘Pacul’ menyimbolkan rakyat kecil dan ‘Gembelengan’ bermakna sombong atau congkak.
Kalimat dalam lagu. ‘wakul ngglimpang segane dadi sak ratan’ artinya akibat jika seorang pemimpin sombong dan tidak bertanggung jawab akan kehilangan kehormatan. Lagu ini menyinggung kehormatan seorang pemimpin terletak pada tanggung jawabnya.
'Lir-Ilir'
Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh penganten anyar
Cah angon, cah angon
Penekna blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna
Kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro, dodotiro
Kumitir bedah ing pinggir
Dondomono lumatono
Konggo sebo mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung padang kalangane
Yo surako, surak hiyo
Lagu “Lir Ilir’ sarat dengan makna religius dan nilai kehidupan masyarakat Jawa. Kata ‘Lir Ilir’ berarti ‘bangunlah’, sebuah ajakan untuk bangkit dan berdiri melaksanakan ibadah lalu bekerja keras.
Tembang ini merupakan karya gubahan Sunan Kalijaga yang menggunakan simbol alam dalam liriknya sebagai metafora kehidupan. Lagu ini mengandung metafora ‘Cahyone mencorong’ yang bermakna pencerahan batin dan spiritual.
Beberapa poin pelajaran dalam lagu tersebut adalah ajakan untuk hidup sederhana, bersyukur, bekerja keras, dan menjalanankan perintah Tuhan serta menjauhi larangan-Nya.
'Suwe Ora Jamu'
Suwe ora jamu, jamu godhong telo
Suwe ora ketemu, ketemu pisan gawe gelo
Suwe ora jamu, jamu sogo thunteng
Suwe ora ketemu, temu pisan atine seneng
Suwe ora jamu, jamu godhong bunder
Suwe ora ketemu, temu pisan tambah pinter
Lagu ‘Suwe Ora Jamu’ menceritakan tentang pertemuan dua orang yang sudah lama terpisah. Namun, saat bertemu bukan keceriaan yang didapatkan melainkan kekecewaan.
Melalui lagu ini dapat diambil pelajaran tentang dinamika perasaan manusia dalam hubungan sosial. Walaupun tidak selalu sesuai ekspektasi perubahan ini harus disikapi dengan bijak.
'Gambang Suling'
Gambang suling ngumandhang swarane
Tulat tulit kepenak unine
Unine mung nrenyuhake
Barengan kentrung
Ketipung suling sigrak kendangane
Tembang ini sangat populer di Jawa Tengah dan merupakan hasil karya Ki Narto Sabdo, seorang seniman kondang asal Jawa Tengah. Beliau banyak berkarya dalam seni wayang kulit dan musik tradisional.
Lagu ‘Gambang Suling’ adalah lagu tentang rasa kagum dan apresiasi tinggi terhadap instrumen musik seruling. Tidak hanya itu lirik di dalamnya melambangkan ketentraman, keharmonisan, dan kenyamanan batin saat mendengan alat musik tersebut.
‘Cublak-Cublak Suweng’
Cublak-cublak suweng
Suwenge ting gelenter
Mambu ketudhung gudhel
Pak Empong lerak-lerek
Sapa ngguyu ndelekakhe
Sir-sir pong dele kopong
Sir-sir pong dele kopong
Lagu ‘Cublak-Cublak Suweng’ termasuk tembang dolanan yang biasa dinyanyikan anak-anak sambil bermain bersama. Dendangan tersebut tampak sederhana, tetapi menyimpan pesan moral yang mendalam.
Makna ‘suweng’ dalam lagu ini sering ditafsirkan sebagai simbol sesuatu yang berharga, seperti kebijaksanaan atau kebenaran.
Lagu ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak dapat ditemukan dengan keserakahan atau tawa berlebihan, melainkan dengan ketenangan hati dan kebijaksanaan.
‘Jaranan’
Jaranan, Jaranan
Jarane jaran teji
Sing nunggang ndoro behi
Sing ngiring poro abdi
Cek cek nong, cek cek gung
Jarane mlebu ning lurung
Gedebuk krincing
Gedebuk krincing
Gedebuk krincing
Prok prok gedebuk jeder
Lagu ‘Jaranan’ menggambarkan suasana pertunjukan tradisional jaranan atau kuda lumping yang berkembang di masyarakat Jawa. Lagu ini sering dinyanyikan dengan irama dinamis dan penuh semangat.
Maknanya berkaitan dengan kebersamaan dan hiburan rakyat. Selain itu, ‘Jaranan’ juga mencerminkan semangat kolektif, kegembiraan, serta hubungan antara pemimpin dan pengikut dalam struktur sosial tradisional.
Nyanyian tersebut menjadi cerminan kehidupan masyarakat yang menjunjung nilai gotong royong dan kebersamaan.
‘Padhang Wulan’
Yo pra kanca dolanan ing jaba
Padhang wulan padhange kaya rina
Rembulane e sing awe-awe
Ngelingake aja padha turu sore
Yo pra kanca dolanan ing jaba
Rame-rame kene akeh kancane
Langite pancen sumebyar rina
Yo padha dolanan sinambi guyonan
‘Padhang Wulan’ menggambarkan suasana malam bulan purnama yang terang benderang. Lagu ini identik dengan ajakan bermain bersama teman-teman di luar rumah.
Makna lagu ini menekankan pentingnya kebersamaan, keceriaan masa kanak-kanak, serta pemanfaatan waktu dengan baik. Lagu ini juga menjadi pengingat agar tidak bermalas-malasan dan menikmati momen kebersamaan selagi ada kesempatan.
‘Sluku-Sluku Bathok’
Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si Rama menyang Solo
Leh olehe payung mutho
Mak jenthit lho-lho lobah
Wong mati ora obah
Yen obah medeni bocah
Yen urip goleka dhuwit
Lagu ‘Sluku-Sluku Bathok’ merupakan tembang dolanan yang kerap dinyanyikan orang tua kepada anak-anak. Meski terdengar ringan, lagu ini mengandung pesan reflektif.
Maknanya berkaitan dengan kesadaran hidup dan kematian. Lagu ini mengingatkan bahwa selama hidup manusia harus berusaha dan bekerja, sementara kematian adalah sesuatu yang pasti. Nilai yang ditekankan adalah tanggung jawab hidup, kerja keras, dan kesadaran akan keterbatasan manusia.
‘Srengenge Nyunar’
Srengenge nyunar kanthi mulya
Anggine midid klawan rena
Manuke ngoceh ana ing wit-witan
Kewane nyenggut ana ing pasuketan
Kabeh podo muji Allah kang mulya
Kabeh podo muji Allah kang mulya
Lagu ‘Srengenge Nyunar’ melukiskan suasana alam di pagi hari yang penuh kehidupan. Matahari bersinar, angin berembus lembut, dan seluruh makhluk hidup menjalani aktivitasnya.
Makna lagu ini menekankan rasa syukur dan religiusitas. Alam digambarkan sebagai ciptaan Tuhan yang patut disyukuri. Lagu ini mengajarkan keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, serta mengajak pendengarnya untuk selalu mengingat Tuhan dalam setiap aktivitas.
‘Wiwit Aku Isih Bayi’
Wiwit aku isih bayi, wong tua sing ngopeni
Nganti tumeka saiki, lair batin gemati
Mangkat sekolah disangoni,
Sarapan kang wus mesthi
Mula aku wajib bekti, mbangun turut ngajeni
Keparenga amba matur dateng bapak lan ibu
Nyuwun berkah lan pengestu, amrih langgeng rahayu
Atur panuwun mbo kekalih, kinanthen sembah bekti
Sageda nulad tresnanta, guyub rukun slaminya
Lagu ‘Wiwit Aku Isih Bayi’ menceritakan perjalanan hidup seorang anak sejak bayi hingga tumbuh dewasa dengan kasih sayang orang tua.
Makna utama lagu ini adalah bakti kepada orang tua. Lagu ini menanamkan nilai hormat, rasa terima kasih, dan kesadaran atas pengorbanan orang tua. Selain itu, lagu ini juga mengajarkan pentingnya menjaga keharmonisan keluarga dan meneladani kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


