asal usul gunung bohong cimahi jejak dusta dan cinta terlarang - News | Good News From Indonesia 2026

Asal-Usul Gunung Bohong Cimahi: Jejak Dusta dan Cinta Terlarang

Asal-Usul Gunung Bohong Cimahi: Jejak Dusta dan Cinta Terlarang
images info

Asal-Usul Gunung Bohong Cimahi: Jejak Dusta dan Cinta Terlarang


Malam itu langit tampak seperti kain hitam bertabur abu perak. Angin berbisik pelan, seolah menyimpan rahasia kuno milik gunung dan bintang. Sangkuriang berdiri di tepi danau, menatap perahu raksasa hasil tangannya. Dadanya bergejolak oleh harap, cinta, dan keyakinan yang terlalu besar. Perahu itu bukan sekadar kayu dan pasak, melainkan janji masa depan bersama Dayang Sumbi.

Cinta Sangkuriang membara hingga menutup matanya dari kebenaran. Ia lupa bahwa cinta juga bisa menjadi jebakan paling halus. Jin-jin berlarian seperti bayangan gelap yang patuh pada perintahnya. Mereka memanggul kayu, mengikat tali, dan memaku lambung perahu. Dentang palu terdengar seperti detak waktu yang terus dikejar. Malam terasa singkat, seolah bulan ikut terburu-buru. Sangkuriang yakin perahu itu akan selesai sebelum fajar.

Di kejauhan, Dayang Sumbi duduk memeluk kegelisahan. Hatinya bergetar seperti daun diterpa angin malam. Ia tahu cinta itu terlarang dan mustahil diterima. Darah Sangkuriang adalah darahnya sendiri, kebenaran yang lama ia kubur. Dengan wajah setenang danau pagi hari, ia menyusun siasat. Bukan untuk melukai, melainkan untuk menyelamatkan.

Dayang Sumbi berbisik pada warga kampung dengan suara nyaris tak terdengar. Api dinyalakan, alu dipukul, dan kentongan digebuk bertalu-talu. Ayam-ayam dibangunkan dari tidur malamnya. Bunyi-bunyian naik ke langit seperti fajar palsu. Malam tersentak, dan jin-jin gemetar ketakutan. Pagi adalah musuh yang tak bisa mereka lawan. Alam seakan bersekongkol menciptakan ilusi waktu.

Ketika kokok ayam memecah udara, jin-jin menghilang satu per satu. Perahu ditinggalkan dalam keadaan belum sempurna, seperti mimpi yang terbangun sebelum tamat. Sangkuriang menatap sekeliling dengan mata menyala. Dadanya meledak oleh rasa dikhianati. Ia sadar waktu tidak mempermainkannya. Dayang Sumbi-lah yang menghancurkan kepercayaannya.

Amarahnya menjelma badai yang tak terbendung. Dalam satu hentakan kaki penuh kecewa, perahu raksasa itu ditendangnya. Perahu terbalik dan menancap ke bumi. Alam mengabadikannya sebagai Gunung Tangkuban Perahu. Gunung itu berdiri bisu sebagai monumen cinta yang gagal dan janji yang runtuh.

Setelah amarahnya mereda, Sangkuriang pergi tanpa menoleh ke belakang. Ia meninggalkan danau, kenangan, dan Dayang Sumbi. Langkahnya mengarah ke barat, menuju wilayah yang kini dikenal sebagai Cimahi. Perjalanan itu adalah pelarian dari hati yang remuk. Hutan menyambutnya dengan bisikan empati. Daun-daun berdesir seolah memahami kesedihannya.

Di sana, Sangkuriang menemukan sebuah bukit yang tampak tinggi dan gagah. Bukit itu berdiri seperti penjaga rahasia masa depan. Diamnya terasa seperti pengertian. Di puncaknya, Sangkuriang berhenti dan memandangi senja yang memerah. Warnanya sama dengan amarah yang masih tersisa di dadanya. Ia teringat kentongan, api, dan kokok ayam. Semua menjadi simbol kebohongan yang menancap dalam ingatannya.

“Bohong,” gumamnya pelan, kata yang jatuh berat ke dalam hati. Untuk mengenang luka itu, ia memberi nama tempat itu Gunung Bohong. Nama itu bukan sekadar sebutan, melainkan penanda agar rasa pahit tak terulang. Bukit itu seakan menerima nama tersebut dan menyimpannya dalam tanah dan akar pohon.

Hari-hari berlalu dalam kesunyian. Gunung Bohong menjadi saksi hidup menyendiri Sangkuriang. Pohon malaka dan cantigi tumbuh rapat, daunnya berbisik setiap angin datang. Dari kejauhan, gunung itu tampak menjulang dan gagah. Namun saat didaki, jalurnya terasa ringan. Ia lebih mirip bukit ramah daripada gunung garang.

Waktu mengalir seperti sungai yang tak bisa dihentikan. Kisah Sangkuriang menyebar dari mulut ke mulut dan berubah bentuk. Ada yang mengaitkan nama Gunung Bohong dengan bahasa asing yang terpelintir. Ada pula cerita tentang kabar letusan yang tak pernah terjadi. Gunung itu seolah menikmati berbagai versi cerita yang menempel padanya.

Di masa lain, orang menghubungkannya dengan kisah Sekar Muning. Gadis itu terjerat kilau permata dan kebohongan. Pelajarannya tetap sama dari zaman ke zaman. Dusta selalu meminta harga yang mahal. Gunung Bohong menyimpan semua kisah itu seperti perpustakaan alam. Setiap batu dan akar pohon menjadi halaman yang bisa dibaca.

Berabad-abad kemudian, manusia datang dengan sepatu modern dan kamera. Mereka mendaki Gunung Bohong untuk melihat kota dari ketinggian. Tanpa sadar, mereka menapaki jejak emosi Sangkuriang. Dari puncaknya, Gunung Tangkuban Perahu terlihat jelas. Ia tampak seperti saudara yang lahir dari satu ledakan amarah.

Gunung Bohong Cimahi (Foto: Dokumen penulis)

Kini Gunung Bohong menjadi ruang bermain dan tempat tertawa. Ia menjadi lokasi jogging, trekking, dan berkumpul keluarga. Di balik keramahan itu, ia tetap menyimpan sisi muram. Setiap langkah pendaki seperti dialog dengan masa lalu. Gunung ini mirip remaja yang tampak biasa dari luar. Di dalamnya tersimpan cerita rumit dan dalam.

Saat malam turun dan angin barat berhembus, konon gema langkah Sangkuriang masih terasa. Angin membawa aroma tanah dan kenangan lama. Kata “bohong” dibisikkan bukan sebagai makian. Ia hadir sebagai peringatan. Gunung Bohong berdiri tegak menjaga ingatan. Ia mengingatkan bahwa kejujuran adalah puncak tertinggi yang sering kita abaikan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.