daun sukun dan harapan baru pengendalian keong sawah yang lebih ramah lingkungan - News | Good News From Indonesia 2026

Daun Sukun dan Harapan Baru Pengendalian Keong Sawah yang Lebih Ramah Lingkungan

Daun Sukun dan Harapan Baru Pengendalian Keong Sawah yang Lebih Ramah Lingkungan
images info

Daun Sukun dan Harapan Baru Pengendalian Keong Sawah yang Lebih Ramah Lingkungan


Keong sawah masih menjadi salah satu hama utama dalam budidaya padi di Indonesia. Pada fase awal tanam, ketika bibit padi masih muda dan rentan, serangan keong dapat menyebabkan kerusakan serius hingga memaksa petani melakukan penanaman ulang.

Kondisi ini tidak hanya menyita waktu dan tenaga, tetapi juga menambah biaya produksi serta berpotensi menurunkan hasil panen.

Persoalan keong sawah bukanlah hal baru bagi petani. Selama bertahun-tahun, pengendalian hama ini banyak mengandalkan pestisida kimia karena dianggap praktis dan cepat bekerja.

Namun, penggunaan bahan kimia secara berulang tanpa pengelolaan yang tepat kerap dikaitkan dengan berbagai tantangan, mulai dari penurunan kualitas lingkungan hingga potensi risiko kesehatan akibat paparan residu, terutama bagi petani yang terpapar langsung dalam jangka panjang.

Situasi ini mendorong perlunya pendekatan pengendalian hama yang lebih aman, berkelanjutan, dan tetap efektif.

Salah satu pendekatan yang mulai mendapat perhatian adalah pemanfaatan bahan alami sebagai biopestisida. Di berbagai wilayah pertanian, sumber daya hayati lokal sebenarnya menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai alternatif pengendalian hama. Salah satu bahan yang relatif mudah ditemukan di lingkungan sekitar masyarakat adalah daun sukun.

baca juga

Berbagai kajian menyebutkan bahwa daun sukun mengandung senyawa alami seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang berpotensi mengganggu aktivitas organisme pengganggu tanaman.

Senyawa-senyawa ini bekerja secara hayati dan relatif lebih mudah terurai di lingkungan dibandingkan pestisida sintetis.

Dengan pengolahan yang tepat, daun sukun dapat dimanfaatkan sebagai biopestisida nabati untuk membantu mengendalikan hama keong sawah.

Pendekatan ini diterapkan dalam kegiatan pendampingan petani di Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor, melalui pelatihan pembuatan dan penggunaan biopestisida daun sukun. Wilayah tersebut merupakan salah satu daerah pertanian padi yang juga menghadapi persoalan serangan keong sawah, terutama pada masa awal tanam. Melalui kegiatan itu, petani diperkenalkan pada alternatif pengendalian hama berbasis bahan alami yang dapat dibuat secara mandiri.

Proses pembuatan biopestisida daun sukun tergolong sederhana dan mudah dipahami. Daun sukun dibersihkan dan dicacah, kemudian diekstraksi menggunakan air dengan perbandingan 1:2 antara bahan dan pelarut.

Larutan hasil ekstraksi tersebut didiamkan selama kurang lebih 24 jam sebelum disaring. Cairan yang dihasilkan selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai biopestisida, baik dengan cara disemprotkan ke area tanaman maupun dialirkan melalui saluran irigasi sawah.

Sejumlah petani mengikuti pelatihan pembuatan biopestisida berbahan daun sukun sebagai alternatif pengendalian keong sawah. Kegiatan ini memperkenalkan pemanfaatan bahan alami yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar.
info gambar

Pelatihan pembuatan biopestisida daun sukun untuk petani padi Desa Mulyaharja Kota Bogor


Pelatihan dilakukan secara aplikatif dengan pendampingan langsung agar petani dapat memahami setiap tahapan proses secara menyeluruh. Mahasiswa Kaila Hana Ramadiana dan Hanifa Muthmainnah memimpin demonstrasi pembuatan biopestisida.

Adapun Muhammad Galih, Siva Nabila, Khaerunnisa Fadillah, Muhammad Afdhal Maliki Akbar, serta mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Analisis Kimia (Aromatik) mendampingi para petani untuk mencoba langsung proses pembuatan.

baca juga

Pendampingan ini membantu meningkatkan pemahaman sekaligus kepercayaan diri petani untuk menerapkan metode tersebut secara mandiri di lahan masing-masing.

Penanggung jawab kegiatan, Mohamad Alief Ramdhan, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa pemanfaatan daun sukun sebagai biopestisida merupakan upaya menghadirkan solusi pengendalian hama yang lebih sederhana dan mudah dijangkau oleh petani.

Menurutnya, bahan alami yang tersedia di sekitar lingkungan memiliki potensi besar jika diolah dengan pendekatan ilmiah yang tepat.

“Kami mencoba mendorong pemanfaatan sumber daya lokal agar petani memiliki alternatif pengendalian hama yang lebih aman dan dapat dibuat secara mandiri, tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pestisida kimia,” ujarnya.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh sejumlah dosen Program Studi Analisis Kimia, antara lain Dr. Farida Laila, S.Si., M.Si.; Wina Yulianti, S.Si., M.Si.; Faranita Ratih L., S.H., M.H.; Ika Resmeiliana, S.Hut., M.Si.; Dr. Tekad Urip P. S., S.Pt., M.Si.; Dr. Novia Amalia Sholeha, S.Si.; serta Nindya Tri Muliawati. Mereka memastikan bahwa metode yang diperkenalkan memiliki dasar ilmiah dan dapat dipahami dengan baik oleh peserta.

Bagi petani, kehadiran alternatif pengendalian hama berbasis bahan alami menjadi angin segar. Ketua Kelompok Tani Dewasa Lemah Duhur, Aneng, menyampaikan bahwa serangan keong sawah sering kali menjadi kendala utama pada awal musim tanam.

Jika dapat dikendalikan sejak dini dengan cara yang lebih aman dan terjangkau, risiko kerugian pun dapat ditekan.

Dari sisi kesehatan dan lingkungan, biopestisida nabati dinilai memiliki potensi risiko yang lebih rendah dibandingkan pestisida kimia sintetis, terutama jika digunakan sesuai prosedur.

baca juga

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa bahan alami cenderung lebih cepat terurai di alam sehingga residunya tidak bertahan lama.

Meski demikian, penerapan di lapangan tetap perlu disertai edukasi dan prinsip kehati-hatian agar penggunaannya tepat sasaran dan efektif.

Pengembangan biopestisida daun sukun mencerminkan arah pertanian berkelanjutan yang kini semakin didorong. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada hasil panen, tetapi juga memperhatikan keseimbangan lingkungan, keselamatan petani, serta kemandirian masyarakat.

Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, petani didorong untuk tidak sepenuhnya bergantung pada produk kimia dari luar.

Pengalaman di Mulyaharja menunjukkan bahwa inovasi sederhana berbasis sains dapat memberikan dampak nyata.

Dari daun sukun yang selama ini mungkin dianggap biasa, muncul harapan baru bagi pengendalian keong sawah yang lebih ramah lingkungan, aman, dan berkelanjutan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SN
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.