binte biluhuta makanan khas gorontalo - News | Good News From Indonesia 2026

Binte Biluhuta: Dari Ladang Jagung hingga Semangkuk Makanan Khas Gorontalo

Binte Biluhuta: Dari Ladang Jagung hingga Semangkuk Makanan Khas Gorontalo
images info

Binte Biluhuta: Dari Ladang Jagung hingga Semangkuk Makanan Khas Gorontalo


Tahukah Kawan jika Gorontalo menyimpan kisah lain yang tak kalah menarik, disamping identitas religius dan budayanya sebagai serambi Madinah, kisah yang menjadi mata utama bagi penduduk setempat yaitu kisah tentang jagung. Semua bermula dari dataran subur Bone Bolango hingga perbukitan Pohuwato, jagung tumbuh menjadi sumber penghidupan, identitas pangan, hingga inspirasi kuliner.

Di tanah inilah jagung dipanen, diolah, diperdagangkan, dan dirayakan dengan rasa khas binte biluhuta, hidangan penuh makna yang menjadi kuliner kebanggaan bagi masyarakat Gorontalo.

Gorontalo sebagai Lumbung Jagung Nasional

Kondisi iklim wilayah Gorontalo sangat cocok untuk pertumbuhan jagung. Lahan luas, hangat, dan budaya pertanian yang adaptif menjadikan keberhasilan perkembangan jagung untuk tumbuh subur dan mencapai titik tertinggi dalam dua puluh tahun terakhir. Faktor tersebut juga menjadikan salah satu performa provinsi Gorontalo untuk selalu menegaskan posisinya sebagai sentra jagung nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Pada tahun 2024 luas panen jagung pipilan kering mencapai 128,23 ribu hektar, dengan total produksi 625,97 ribu ton. Pada tahun 2025 luas panen jagung pipilan Gorontalo mencapai 132.037,72 hektar.

Secara nasional, Gorontalo menempati peringkat 7 produsen jagung terbesar Indonesia, menjadikannya sebagai prestasi membanggakan bagi provinsi yang memiliki jumlah penduduk relatif kecil.

Data statistik produksi jagung di Gorontalo | Foto: https://gorontalo.bps.go.id/
info gambar

Data statistik produksi jagung di Gorontalo | Foto: https://gorontalo.bps.go.id/


Tidak berhenti dari sisi produksi, di sektor ekonomi jagung berhasil membuat lebih dari ekspektasi belaka. Pada tahun 2025 tepatnya di triwulan III, transaksi jagung di Gorontalo berhasil meraup lebih dari 2 triliun, menyumbang angka yang signifikan pada perekonomian daerah, terutama petani, pelaku distribusi, industri pakan, hingga eksportir.

Sejarah Singkat Pengembangan Jagung Gorontalo

Perjalanan jagung di Gorontalo bukan cerita instan. Pada awal tahun 2000-an, untuk menekan impor dan memperkuat industri pakan nasional, pemerintah pusat membuat program peningkatan produksi jagung. Gorontalo secara responsif mendukung penuh program tersebut.

Lahan-lahan yang semula tidak produktif, dialihfungsikan menjadi area yang menghasilkan, serta petani jagung lokal difasilitasi melalui distribusi benih unggul, subsidi pupuk, dan pendampingan teknologi budidaya hingga menghasilkan jagung hibrida yang mengambil alih jenis jagung lama.

Hingga tahun 2010-2020, produksi jagung Gorontalo masuk ke pasar Jawa dan Sulawesi Selatan karena permintaan pakan ternak di lapangan yang meningkat pesat. Hal ini menjadikannya sebagai komoditas strategis dan menguatkan struktur ekonomi daerah.

Jagung telah menjadi identitas agraris bagi Gorontalo di kancah internasional, dan sampai saat ini tetap menjadi komoditas unggulan bagi provinsi.

baca juga

Jagung dan Kualitasnya dalam Kehidupan Sosial dan Ekonomi

Jagung memiliki dua wajah di Gorontalo: wajah ekonomi dan wajah budaya. Sebagai komoditas ekonomi, jagung memberikan lapangan kerja lintas sektor di masyarakat, mulai budidaya hingga transportasi komoditas antarprovinsi. Jagung menjadi budaya yang melekat sebagai bahan pangan pokok dan wajib ada dalam kehidupan penduduk setempat dan telah dilestarikan melalui tradisi kuliner seperti binte biluhuta.

Meski demikian, tantangan tetap selalu ada. Hilirisasi jagung di Gorontalo masih terbatas. Sebagian besar hasil pertanian dikirim sebagai bahan baku mentah untuk industri pakan nasional. Produk olahan jagung lokal tersebut menjadi nilai tambah dan peluang di masa depan baik untuk pangan maupun industri.

Jagung Gorontalo dikenal memiliki kadar air rendah, tingkat kemanisan baik, dan bobot tongkol stabil, karakter penting bagi industri pakan dan ekspor. Varietas hibrida menjadi pilihan mayoritas petani, meskipun varietas lokal seperti momala masih bertahan dalam jumlah terbatas sebagai bagian dari keanekaragaman hayati.

Hal ini membuktikan bahwa jagung Gorontalo sangat berpotensi untuk mampu bersaing di pasar lokal, domestik, hingga internasional.

Hamparan lahan jagung di Gorontalo | Foto: monitor.co.id
info gambar

Hamparan lahan jagung di Gorontalo | Foto: monitor.co.id


Binte Biluhuta: Rasa yang Lahir dari Jagung

Di tengah keberlimpahan jagung, masyarakat Gorontalo melahirkan kuliner khas bernama binte biluhuta. Dalam bahasa Gorontalo, binte berarti jagung, sedangkan biluhuta berarti “disiram” atau “diguyur.” Nama ini merujuk pada cara penyajian jagung yang direbus, kemudian disiram dengan kuah kaldu ikan atau udang.

Dahulu, makanan ini menjadi santapan warga pesisir pulang dari melaut, sebelum akhirnya dikenal sebagai salah satu ikon kuliner khas daerah.

Meskipun terlihat sederhana, memasak binte biluhuta memerlukan ketelitian agar rasa segarnya tetap seimbang. Jagung manis dipipil dan direbus hingga setengah matang. Ikan cakalang atau tuna direbus terpisah, menghasilkan kaldu gurih yang kelak menjadi dasar kuahnya. Udang sering ditambahkan sebagai pelengkap.

Kuah binte biluhuta memadukan bawang merah, bawang putih, cabai, daun kemangi, dan jeruk nipis. Setelah kaldu dan rempah menyatu, jagung disiram kuah dan ditaburi ikan serta udang. Perasan jeruk nipis menjadi penutup yang menghadirkan sensasi segar, gurih, pedas, dan sedikit asam bercampur dalam harmoni.

Binte biluhuta menjadikannya sebagai perpaduan antara laut, darat, dan budaya. Jagung hadir dari ladang, ikan dari laut, serta rempah dari tanah, semuanya menyatu dalam satu mangkuk hangat.

baca juga

Kisah jagung di Gorontalo adalah kisah tentang pertanian, ekonomi, dan rasa. Dari hamparan ladang hingga semangkuk binte biluhuta, jagung telah menempa identitas daerah ini dalam bentuk yang nyata: menyejahterakan masyarakat, memperkaya kuliner, dan memperkuat posisi Gorontalo dalam peta pangan nasional. Di tempat inilah jagung tidak hanya tumbuh, tetapi juga hidup.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AF
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.