Tempat wisata dipenuhi sesak oleh pengunjung dikarenakan liburan akhir tahun telah tiba. Dimulai dari orang tua, remaja, dan anak-anak, mereka asyik berlibur guna menghilangkan beban pikiran. Selain itu, mengembalikan motivasi dan suasana hati agar lebih rileks, tenang, sehingga siap kembali menjalankan kesibukan sehari-hari.
Berbagai cara mereka lakukan, mulai dari pergi ke tempat wisata, shopping, makan makanan enak dan mewah, atau ada juga yang mencari kebahagian dengan berolahraga. Masalahnya, beberapa individu kecanduan dengan hiburan yang mereka dapatkan. Mereka ingin shopping secara terus menerus, scrolling berjam-jam yang disertai alasan untuk meningkatkan motivasi diri.
Terkadang mereka melakukan hal tersebut di waktu yang kurang tepat dan akibatnya aktivitas bekerja mereka akan terganggu dikarenakan kecanduan dengan kebahagiaan terutama yang bersifat instan.
Pertanyaannya, apakah benar berlibur dapat meningkatkan atau mengembalikan motivasi dan suasana hati kita? Cara berlibur seperti apa yang dapat mengakibatkan kecanduan? Simak pembahasan berikut ini, ya!.
Berbagai Cara untuk Mendapatkan Dopamin
Setiap cara yang Kawan GNFI lakukan untuk mendapatkan motivasi dan suasana hati yang baik, pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh neurotransmitter bernama dopamin. Dopamin bisa dikeluarkan dengan 2 cara. Ketika Kawan GNFI mencari dopamin dengan hal yang menarik dan menyenangkan seperti makan makanan enak dan jalan-jalan, dopamin akan meningkat secara drastis. Namun, akan dikeluarkan sesekali dan jika digambarkan grafiknya akan naik turun secara signifikan.
Hal tersebut dinamakan phasic dopamine. Itulah cara pertama dopamin dikeluarkan.
Di saat yang bersamaan, terdapat dopamin yang memang dikeluarkan hanya sedikit, tetapi secara rutin. Dopamin ini berpengaruh terhadap motivasi juga menjaga suasana hati agar selalu stabil. Hal tersebut dinamakan basal dopamine.
Ketika kadar dari basal dopamine sedikit, tubuh akan merasa lemah, sedih dan tidak bersemangat. Dan ketika kadarnya cukup tubuh akan lebih tenang, bersemangat dan juga bahagia.
Menangani Masalah di Era Teknologi Digital
Saat ini dunia sudah berubah menjadi "Negeri Dopamin"—di mana Kawan GNFI bisa memperoleh dopamin secara instan dan berlebihan hanya dengan satu klik: media sosial, belanja online, junk food, streaming tak terbatas, dan zat-zat adiktif lainnya. Inilah yang menyebabkan phasic dopamine akan melonjak tinggi secara tiba-tiba.
Hal ini tentu akan mengganggu keseimbangan tubuh dan dampaknya tubuh akan melakukan penyeimbangan dengan menurunkan basal dopamine. Padahal, dopamin ini berfungsi sebagai kunci suasana hati (mood) juga motivasi dalam kehidupan sehari-hari.
Itulah sebabnya, ketika Kawan GNFI melakukan scrolling secara terus menerus, mengonsumsi junk food, dan melakukan aktivitas lain yang bersifat instan, Kawan akan merasa hilang semangat dan sulit untuk menemukan kebahagiaan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disebabkan tubuh kita membutuhkan lebih banyak stimulasi untuk merasakan kepuasan yang sama atau bahkan lebih, seperti scrolling lebih lama dan memberikan efek kecanduan. Lebih dari itu, hal-hal yang dulu Kawan rasa menyenangkan kini mungkin akan terasa membosankan dan dunia terasa kelabu karena sudah terbiasa mendapatkan dopamin yang besar dengan cara yang mudah.
Jalan Keluar untuk Menstabilkan Dopamin
Untuk mengatasi hal tersebut, Kawan dapat melakukan puasa dopamine. Maksud dari istilah tersebut bukan berati Kawan tidak memproduksi dopamin sama sekali, tetapi mengatur jarak antara sumber dopamin yang sifatnya mudah untuk didapatkan (instan) dan membiarkan sistem pada otak untuk mereset kembali sensitivitas terhadap kesenangan alami.
Berikut beberapa tahap untuk melakukan puasa dopamin:
- identifikasi apa sumber dopamin yang berlebih.
- Menjaga menjaga jarak dengan sumber dopamin berlebih selama 30 hari karena pada umumnya otak membutuhkan waktu selama 30 hari untuk mereset kembali sensitivitas dan mengurangi kecanduan pada dopamin instan. Jika terasa sulit, Kawan dapat mengurangi sedikit demi sedikit dan mengalirkan emosi pada hal yang lebih bermanfaat seperti olahraga, baca buku, atau bekerja
- Tahan penarikan kecanduan yang Kawan rasakan. Pada hari pertama mungkin akan terasa berat, tetapi untuk kembali pada tujuan yang diinginkan, ingatlah selalu hal yang ingin Kawan gapai.
- Paksakan diri untuk melakukan kegiatan yang bersifat menantang. Dalam buku yang berjudul The Marshmallow Test: Mastering Self-Control dijelaskan bahwa “kesakitan dan kesenangan bekerja pada tuas yang sama". Maksudnya ialah jika kita dapat kecanduan dengan dopamin instan, kita juga dapat kecanduan dengan dopamin yang sifatnya menantang seperti olahraga, baca buku, dan hal lain yang bermanfaat.
Oleh karena itu, kita dapat memanfaatkan hal tersebut untuk kecanduan pada hal yang lebih bermanfaat seperti candu membaca buku dan berolahraga.
Kawan GNFI tetap diperbolehkan untuk berlibur dan melakukan kegiatan menyenangkan, tetapi perlu untuk mengontrol diri untuk tidak membiasakan bergantung pada dopamin instan. Dapat juga dengan mengombinasikan antara kegiatan yang bersifat memuaskan (dopamin instan) dengan kegiatan lain yang lebih bermanfaat, seperti berolahraga sambil mendengarkan musik, menikmati makanan enak sambil belajar membuatnya, atau pergi ke tempat menenangkan dan sejuk sambil mengerjakan tugas-tugas.
Dengan hal tersebut, Kawan akan merasa lebih rileks dan pastinya motivasi dan mood akan tetap terjaga
Cara lain juga dijelaskan dalam sebuah konsep yaitu delayed gratification yang dijelaskan oleh Walter Mischel dalam bukunya The Marshmallow Test: Mastering Self-Control. Konsep ini menjelaskan bahwa “kesenangan sesaat dapat kita tunda agar mendapatkan kesenangan yang besar”.
Jika kita kaitkan dengan produktivitas yaitu menunda suatu kebahagiaan sesaat kita akan mendapatkan kebahagian yang lebih besar. Contohnya ialah ketika Kawan ingin melakukan scrolling, Kawan dapat menunda hal tersebut dengan memberi tantangan pada diri sendiri. Sebagai contoh, jika telah membaca buku selama 30 menit Kawan dapat melakukan scrolling.
Alhasil Kawan akan merasakan kebahagiaan yang besar saat scrolling karena telah berhasil membaca buku selama 30 menit. Selain itu, kegiatan ini akan membuat Kawan lebih pandai dalam mengontrol diri juga bermanfaat dalam mewujudkan suatu cita-cita (goals) karena Kawan akan bersemangat dalam membaca buku agar dapat melakukan scrolling.
Kegiatan ini dapat diganti dengan hal lain, seperti jika mendapatkan nilai bagus kemudian dapat membeli handphone maupun dapat membeli tas baru jika sudah belari sejauh 2 kilometer setiap hari.
Selamat berlibur!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


