gunung puntang pegangan istri prabu siliwangi yang menjadi legenda - News | Good News From Indonesia 2026

Gunung Puntang: Pegangan Istri Prabu Siliwangi yang Menjadi Legenda

Gunung Puntang: Pegangan Istri Prabu Siliwangi yang Menjadi Legenda
images info

Gunung Puntang: Pegangan Istri Prabu Siliwangi yang Menjadi Legenda


Jauh sebelum notifikasi ponsel mengatur ritme hidup manusia, tanah Pasundan telah berdenyut oleh napas legenda. Hutan berdiri sebagai penjaga rahasia, sungai mengalir membawa bisik masa lalu, dan gunung menjulang menyimpan ingatan langit yang sunyi dan agung.

Di antara barisan gunung itu, berdirilah satu yang namanya kerap memancing senyum dan rasa penasaran. Gunung Puntang terdengar ringan, namun lahir dari peristiwa menegangkan dan sangat manusiawi. Gunung ini bukan sekadar tumpukan batu dan tanah, melainkan saksi jeritan, doa, dan cinta yang dipeluk alam dengan setia.

Pada masa kejayaan Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi dikenal sebagai raja bijaksana yang dicintai rakyatnya. Ia piawai memimpin negeri, sekaligus memiliki hati seluas hamparan sawah menguning. Istana Pajajaran kala itu menjadi pusat kehidupan Sunda, berdenyut oleh keberanian dan kebijaksanaan.

Namun di balik singgasana, Prabu Siliwangi hanyalah seorang suami yang gelisah menanti kelahiran anaknya. Setiap malam, angin istana membawa kecemasan, seolah alam ikut menunggu takdir baru. Bulan menggantung sunyi, mengawasi benang nasib yang sedang ditenun waktu.

Hari penantian itu tiba dengan cara yang tidak mudah. Sang permaisuri merasakan tanda kelahiran saat rombongan kerajaan melakukan perjalanan spiritual ke pegunungan. Hujan turun deras, jalan menanjak terjal, seakan alam menguji keteguhan mereka.

Gunung Puntang (Foto: Dokumen penulis)

Gunung-gunung tampak saling berhimpit, menyempitkan jalan seperti bahu raksasa yang bersentuhan. Sang permaisuri menahan sakit bergelombang, seperti ombak menghantam karang tanpa jeda. Setiap napas terasa berat, dan bumi berdenyut mengikuti detak jantungnya.

Prabu Siliwangi panik, namun tetap tegak seperti pohon tua yang menolak tumbang. Ia menggenggam tangan istrinya, menyalurkan kekuatan lewat sentuhan penuh harap. Di puncak rasa sakit, sang permaisuri membutuhkan pegangan untuk bertahan.

Tangannya meraba udara, mencari jangkar agar tidak tenggelam oleh perih yang mendera. Dalam bahasa Sunda, pegangan itu disebut “puntang”. Kata sederhana itu mendadak menjadi kata terpenting di dunia mereka.

Alam seakan memahami doa manusia. Sebuah batu besar muncul, kokoh, diam, dan setia menunggu. Batu itu berdiri seperti sahabat lama yang siap menopang tanpa bertanya atau menghakimi.

Sang permaisuri menggenggam batu itu sekuat tenaga. Jari-jarinya menekan permukaan dingin yang terasa hangat oleh harapan hidup. Gunung seakan menahan napas, pepohonan membungkuk, dan angin berhenti berlari.

Saat jeritan terakhir pecah, bayi itu lahir ke dunia. Tangisnya memecah sunyi dan menggema di lereng gunung. Alam seolah ikut bersorak menyambut kehidupan baru yang lahir dari perjuangan.

Prabu Siliwangi menitikkan air mata, bukan karena lemah, melainkan karena hatinya penuh. Ia memandang istrinya yang tersenyum lelah dan batu yang menjadi saksi perjuangan. Saat itu, ia memahami makna sejati sebuah kekuatan.

Kekuatan tidak selalu berupa pedang atau pasukan besar. Kadang, kekuatan hadir sebagai pegangan sederhana yang menyelamatkan nyawa. Prabu Siliwangi menamai tempat itu dengan kata yang melekat di ingatan, yaitu Puntang.

Nama itu diucapkan pelan, namun sarat makna mendalam. Sejak saat itu, tempat tersebut dikenal sebagai Gunung Puntang. Nama itu menyebar dari mulut ke mulut, tumbuh menjadi cahaya cerita di tanah Sunda.

Masyarakat percaya gunung ini menyimpan energi keteguhan. Ia lahir dari momen ketika manusia dan alam saling menguatkan. Gunung Puntang tidak pernah sombong dengan ketinggiannya, ia berdiri tenang dan bersahaja.

Kabut yang menyelimuti puncaknya menjadi selimut kenangan. Cerita tentang pegangan hidup itu dijaga agar tidak lapuk dimakan waktu. Gunung seolah berjanji untuk terus mengingat.

Bagi remaja Sunda masa lampau, Gunung Puntang adalah guru tanpa suara. Mereka mendaki sambil mendengar kisah keberanian sang permaisuri. Setiap langkah terasa seperti dialog dengan masa lalu.

Batu-batu di jalur pendakian seakan berbisik tentang arti sebuah pegangan. Gunung Puntang menjelma metafora hidup, tentang tanjakan, kesabaran, dan kerendahan hati. Puncak bukan tujuan akhir, melainkan ruang untuk belajar.

Waktu berlalu, kerajaan runtuh, dan Prabu Siliwangi menjadi legenda. Namun Gunung Puntang tetap berdiri, menolak dilupakan zaman. Ia menyaksikan generasi berganti dari kaki telanjang hingga sepatu modern.

Setiap pengunjung datang membawa cerita masing-masing. Gunung itu selalu menawarkan hal serupa, yakni ketenangan. Angin berembus seperti tangan tak terlihat yang menenangkan bahu yang lelah.

Gunung Puntang menjelma metonimia harapan. Ia mewakili kekuatan kecil yang sering diremehkan manusia. Pegangan sederhana kerap menjadi penyelamat paling nyata.

Kini, remaja datang untuk berfoto, berkemah, atau menghindari hiruk pikuk kota. Tanpa sadar, mereka mengulang ritual lama. Mereka bersandar, tertawa, berbagi cerita, dan mencari pegangan emosional.

Gunung Puntang tersenyum dalam diam. Fungsinya tidak pernah berubah, hanya bentuk pegangan yang berbeda. Alam tak pernah ketinggalan zaman, manusialah yang sering lupa mendengarkan.

Legenda Gunung Puntang bukan tentang keajaiban yang menggelegar. Ia adalah kisah momen kecil yang menentukan arah hidup. Tentang perempuan berani, raja penuh cinta, dan alam yang setia menjadi saksi.

Jika suatu hari Kawan GNFI berdiri di lereng Gunung Puntang, berhentilah sejenak. Dengarkan napas, angin, dan tanah di bawah kaki. Di sanalah makna Puntang perlahan akan Kawan mengerti.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.