Sebagian masyarakat Indonesia mungkin sudah mengetahui berbagai teori yang sering muncul terkait asal usul nenek moyang orang Madagaskar yang disebut-sebut berasal dari wilayah Nusantrara. Gagasan ini cukup unik, mengingat Indonesia dan Madagaskar berada di benua yang berbeda.
Salah satu bukti bahwa nenek moyang Madagaskar berasal dari Nusantara adalah kemiripan bahasa Malagasi—bahasa nasional Madagaskar—dengan bahasa Maanyan dari Kalimantan. Bahasa Maanyan merupakan dialek bahasa Dayak yang dituturkan oleh suku Dayak Maanyan di beberapa daerah di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
Hal ini menarik, karena bahasa Maanyan berakar dari wilayah pedalaman Kalimantan, tetapi justru berkembang dan bertahan di sebuah pulau kecil dipantai lepas Afrika. Kira-kira, bagaimana cara bahasa Maanyan bisa “membantu” proses terbentuknya masyarakat dan bahasa Malagasi?
Kemiripan Bahasa Maanyan dengan Bahasa Malagasi
Tulisan Maurizo Serva dkk., dalam jurnal J. R. Soc. Interface, dijelaskan jika orang Malagasi memiliki DNA Indonesia dan Afrika—masing-masing 50 persen. Namun, uniknya, penelitian itu menyoroti bahwa bahasa Malagasi justru hampir 100 persen mirip dengan bahasa Austronesia, bukan Afrika.
Secara linguistik, bahasa Malagasi memang lebih dekat dengan bahasa Maanyan. Sekitar 45 persen kosa kata dasar bahasa Malagasi disebut mirip dengan bahasa Maayan. Dari sinilah muncul teori bahwa orang Maanyan adalah nenek moyang orang Malagasi.
Di sisi lain, terdapat teori yang menyatakan bahwa orang Maanyan asli hidup di daerah pedalaman. Mereka tidak memiliki tradisi pelayaran di lautan dengan jarak yang sangat jauh. Hal ini berbanding terbalik dengan fakta bahwa orang Malagasi justru memiliki budaya maritim yang sangat kuat, bahkan memiliki perahu bercadik.
Lalu, apakah orang Maanyan betul-betul pernah berlayar jauh hingga Madagaskar?
Hasil penelitian Serva dkk., terdapat kemungkinan bahwa pelaut Melayu adalah “aktor” utama di balik pelayaran ke Madagaskar. Mereka dikenal menguasai pelayaran di samudra lepas, termasuk melewati Selat Sunda.
Kemudian, terdapat kemungkinan jika orang-orang Maanyan turut dibawa sebagai awak kapal atau budak. Rombongan ini diperkirakan pertama kali tiba di pesisir tenggara Madagaskar pada abad ke-7 Masehi lewat jalur Indonesia-Samudra Hindia.
Menariknya, meskipun struktur inti bahasanya berasal dari bahasa Maanyan, bahasa Malagasi juga memiliki banyak kata serapan yang diambil dari bahasa Jawa, melayu, hingga Bugis. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Malagasi memang berasal dari rumpun bahasa Austronesia.
Lebih lanjut, dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Bucato dkk., dalam Molecular Biology and Evolution, wilayah Kalimantan tenggara di masa lalu, utamanya di sekitar Banjarmasin, pernah menjadi pusat perdagangan vital dalam jaringan pelayaran Melayu. Interaksi antara pelaut Melayu dengan warga lokal Maanyan kemudian berkembang melalui perdagangan, mobilitas tenaga kerja, sampai perkawinan campuran.
Besar kemungkinan, dari komunitas campuran itulah nenek moyang dari sisi Asia Tenggara orang Madagaskar berasal. Mereka kemudian berlayar melintasi Samudra Hindia yang luas sebelum akhirnya berlabuh di negara kecil itu, membaur dengan penduduk, hingga membentuk struktur sosial yang baru.
Tradisi dan Budaya Madagaskar yang “Melokal”
Dikarenakan nenek moyang orang Madagaskar berasal dari Nusantara, tak heran jika mereka miliki beberapa tradisi yang cukup mirip dengan leluhur mereka. Tradisi-tradisi itu serupa dengan orang Melayu, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.
Konon, valiha (alat musik khas Madagaskar) mirip dengan kecapi di Kalimantan Selatan. Tak hanya itu, rumah-rumah tradisional di sana juga dikatakan mirip dengan konstruksi rumah di Kalimantan Selatan.
Uniknya lagi, terdapat lamba atau pakaian tradisional Madagaskar yang punya motif-motif khas orang-orang Borneo, salah satunya Dayak Ngaju. Mereka menyebutnya dengan lambamena.
Menyadur dari Yayasan Negeri Rempah—sebuah organisasi nirlaba yang mengedukasi terkait kekayaan, sejarah, dan potensi rempah Indonesia—kuliner Madagaskar pun ada yang mirip dengan Indonesia.
Contoh kudapan Madagaskar yang cukup mirip dengan makanan khas Indonesia adalah mofo gasy. Makanan ini disebut mirip dengan kue apem. Lalu, ada juga mofo sakay yang mirip dengan bakwan dan juga menakely yang meyerupai donat.
Kemiripan-kemiripan tersebut menjadi bukti hubungan historis antara Indonesia dan Madagaskar yang sudah ada sejak lama. Bahasa dan tradisi lokal Madagaskar bisa jadi merupakan hasil konkret dari proses migrasi dan interaksi masyarakat Nusantara dengan warga lokal Madagaskar di masa lalu.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


