Judul di atas, bisa jadi merupakan pandangan sekilas, sekaligus harapan yang muncul di pikiran publik sepak bola nasional secara umum, setelah John Herdman resmi diperkenalkan PSSI sebagai pelatih Timnas Indonesia, Selasa (13/1/2026).
Dalam momen ini, nuansa nostalgia dengan sosok Shin Tae-yong sedikit terasa, karena kemiripan gaya melatih, antara Herdman dengan Shin Tae Yong (STY).
Dari formasi andalan 3 bek tengah, permainan intensitas tinggi, sisi pragmatis, sampai rencana program kepelatihan yang cukup rapi, semuanya berpadu padan dengan rekam jejak pernah membawa satu negara lolos ke Piala Dunia. Mereka juga tampak menaruh perhatian khusus, pada aspek stamina dan kebugaran fisik.
Pada momen perkenalan resmi John Herdman oleh PSSI, indikasi ini setidaknya terlihat, dari kehadiran Cesar Meylan, yang akan bertugas sebagai pelatih fisik Tim Garuda.
Staf kepercayaan pelatih asal Inggris ini dikenal sebagai ilmuwan olahraga, dengan gelar akademik Doktor (PhD) bidang Strength & Conditioning dariAUT University, Selandia Baru.
Sang pelatih fisik sebelumnya juga mengemban peran serupa, antara lain di Timnas Kanada (pria dan wanita) yang uniknya sama-sama sukses dibawa John Herdman lolos ke Piala Dunia.
Meski sekilas menghadirkan (setidaknya sedikit) kemiripan dengan STY, kehadiran sang profesor, ditambah rencana pelatih kelahiran tahun 1975 menetap di Indonesia selama bertugas, ternyata membawa nuansa sains olahraga cukup kuat.
Eks pelatih akademi Sunderland (Inggris) ini, seperti dilansir Kompas.com, juga pernah bekerja sebagai guru olahraga, dan dosen paruh waktu di Universitas Northumbria jurusan ilmu keolahragaan.
Untuk ukuran sepak bola nasional, nuansa keilmuan ini bisa memperluas perspektif soal latihan fisik dan kondisi pemain. Jika sebelumnya cenderung lebih fokus pada tim, maka Timnas Indonesia era kekinian bisa menjangkau juga setiap individu secara detail, dengan terintegrasi juga pada data dan aspek medis.
Sebenarnya, ini bukan hal baru di sepak bola modern, khususnya di kompetisi level atas. Meski begitu, perhatian mendalam pada aspek stamina dan kebugaran fisik, ditambah adanya penerapan budaya sains olahraga yang sangat detail khas sepak bola modern, bisa menghadirkan perspektif segar, khususnya bagi para pemain dari liga domestik, dalam hal ini mereka yang berasal dari sistem pembinaan pemain di dalam negeri.
Sebagai contoh, untuk meningkatkan level stamina pemain, latihan fisik intens ala militer tidak lagi akan menjadi menu utama.
Ada menu-menu lain yang juga melengkapi, misalnya, pengaturan jam tidur dalam sehari, pengaturan menu makanan, sampai latihan ringan.
Jadi, para pemain tidak hanya disiapkan tenaganya, tapi juga ritme tubuhnya, sehingga hasil latihan ini bisa berguna dalam jangka panjang. Sederhananya, ada disiplin standar atlet bersifat holistik, yang akan mulai coba dibentuk di sini.
Di Timnas Indonesia, pendekatan sedetail ini bukan hal baru bagi para pemain diaspora, khususnya yang main di liga-liga Eropa, seperti Kevin Diks (Gladbach, Bundesliga Jerman), Jay Idzes (Sassuolo, Liga Serie A Italia) atau Calvin Verdonk (Lille OSC, Ligue 1 Prancis).
Mereka sudah sangat mengenal, bahkan turut dibentuk sebagai pemain, lewat pendekatan ini, sejak masih di level akademi.
Meski begitu, ini akan jadi kesempatan berharga buat pemain dan liga lokal di Indonesia, untuk semakin baik secara kualitas.
Dengan perhatian detail dan pemahaman mendalam pada aspek-aspek terkait, tim pelatih Timnas Indonesia kali ini menghadirkan kadar optimisme yang lebih sehat.
Mereka mampu membangun Kanada, yang sebelumnya kurang kompetitif, dan semoga pengalaman ini bisa menular juga di Timnas Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


