kisah gong factory pabrik gong berusia ratusan tahun di bogor - News | Good News From Indonesia 2026

Kisah Gong Factory, Pabrik Gong Berusia Ratusan Tahun di Bogor

Kisah Gong Factory, Pabrik Gong Berusia Ratusan Tahun di Bogor
images info

Kisah Gong Factory, Pabrik Gong Berusia Ratusan Tahun di Bogor


"Kalau satu hari nanti Gong Factory sudah enggak ada, saya pasti sangat sedih karena tidak ada regenerasi... Tapi saya berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankannya,” kata Krishna Hidayat.

Bangunan di Jalan Pancasan, Kota Bogor ini nyaris tak teridentifikasi. Sekarang, halamannya dipenuhi pedagang kaki lima. Tidak banyak yang tahu, bahwa di sinilah Gong Factory berdiri dan sudah berusia ratusan tahun lamanya.

Gong Factory adalah sebuah pabrik gong tertua dan bersejarah di Bogor, Jawa Barat. Gong Factory memproduksi alat musik tradisional seperti gong dan gamelan secara turun temurun.

baca juga

Gong Factory telah berdiri selama lebih dari 370 tahun. Pabrik ini telah melewati masa jayanya hingga mengundang banyak pengunjung mancanegara.

Awalnya, lokasi Gong Factory ini berada di tengah hutan. Kemudian, Jalan Pancasan berubah menjadi jalur utama. Bangunan-bangunan pun mulai tumbuh dari berbagai sisi. Gong Factory tetap berdiri di tempat yang sama. Meskipun banyak yang berubah dari Gong Factory.

Di depan pabrik, halaman yang dulu menjadi area parkir dan etalase karya, terpaksa harus disewakan. Halaman tersebut diisi oleh pedagang dan barbershop. Langkah ini diambil agar pabrik tetap punya pemasukan, mengingat pesanan gong tidak sebanyak dulu.

baca juga

Generasi Ketujuh, Enam Orang Tersisa

Saat ini, Gong Factory dikelola oleh Krisna Hidayat. Ia adalah anak dari Haji Sukarna, pemimpin generasi keenam yang wafat pada 2019. Sejak saat itu, generasi ketujuh resmi melanjutkan tongkat estafet.

Namun, sejak 2019, jumlah karyawan menyusut drastis. Ditambah pandemi Covid-19 juga turut melumpuhkan usaha ini.

Pada masa kejayaan 1980-an, Gong Factory memiliki sekitar 20 perajin muda. Namun kini, pada 2023, hanya enam orang yang tersisa. Empat di antaranya adalah perajin aktif. Mereka adalah Hidayat, Acang, Didin, dan Rasyid. Dua lainnya, Krisna dan Andy, bertugas mengatur pesanan dan produksi. Dalam kondisi tertentu, mereka juga harus turun langsung bekerja.

baca juga

Enam orang ini bukan hanya pekerja. Mereka adalah generasi terakhir.

Rata-rata usia perajin yang tersisa mendekati 50 tahun, sedangkan yang paling tua berusia 68 tahun. Faktor usia membuat produktivitas menurun, sehingga pesanan pun tidak bisa dikerjakan setiap hari, dan produksi hanya berjalan jika ada pesanan masuk.

Beberapa anak muda pernah mencoba belajar membuat gong. Namun, tidak ada yang bertahan lama. Alasannya karena pekerjaan terlalu berat dan upah tidak sebanding dengan tenaga.

baca juga

Memang Bagaimana Proses Pembuatan Gong?

Proses pembuatan gong dimulai dari pembakaran lakar, bahan dasar gong dari campuran logam. Lakar dipanaskan di atas arang. Arang dipilih karena murah dan mudah didapat.

Pembakaran dilakukan di ruangan tertutup. Sengaja untuk menjaga suhu tetap stabil dan mencegah api padam karena angin, sehingga panas terjebak di dalam ruangan.

Pembakaran tidak didiamkan, tetapi diolah menggunakan penyukat, alat berbentuk bengkok untuk membalik dan memutar lakar di atas arang. Setelah cukup panas, lakar diangkat. Proses penempaan dimulai dengan menggunakan palu besar. Biasanya membutuhkan waktu sekitar dua jam hingga logam membentuk gong bulat.

baca juga

Setelah gong terbentuk, pekerjaan belum selesai. Gong harus masuk ke tahap penyempurnaan. Permukaan gong dirapikan dan ketebalan diperiksa. Sebab, setiap bagian memengaruhi bunyi yang akan keluar. Sedikit saja perbedaan bisa mengubah karakter suara.

Dulu, penyetelan suara gong dilakukan sepenuhnya dengan insting. Hanya Haji Sukarna yang mampu melakukannya. Sayangnya, keahlian itu tidak sempat diwariskan.

Kini, Gong Factory menggunakan bantuan teknologi. Penyetelan nada menggunakan aplikasi keyboard di smartphone. Nada dari alat musik dicocokkan dengan suara digital. Jika belum pas, gong disetel ulang. Cara ini menjadi solusi di tengah keterbatasan regenerasi kemampuan terdahulu.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.