migrasi musim dingin ribuan burung dari rusia dan china singgah di tulungagung - News | Good News From Indonesia 2026

Migrasi Musim Dingin, Ribuan Burung dari Rusia dan China Singgah di Tulungagung

Migrasi Musim Dingin, Ribuan Burung dari Rusia dan China Singgah di Tulungagung
images info

Migrasi Musim Dingin, Ribuan Burung dari Rusia dan China Singgah di Tulungagung


Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur bersama komunitas pecinta alam melakukan pengamanan sekaligus pengamatan terhadap aktivitas migrasi burung dari Rusia dan China yang singgah di wilayah Tulungagung, Jawa Timur. 

Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemantauan satwa liar migran yang memanfaatkan kawasan persawahan di selatan Jawa sebagai lokasi mencari makan selama musim dingin di belahan bumi utara.

Polisi Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah I Kediri BBKSDA Jawa Timur, Ahmad David Kurnia Putra, mengatakan pengamatan dilakukan di area persawahan Desa Bungur, Kecamatan Karangrejo, Tulungagung. 

Dengan menggunakan kamera dan teropong binokular, petugas bersama komunitas dan mahasiswa mengamati perilaku burung migran yang tengah mencari pakan.

 “Ini tadi ada beberapa jenis burung migran yang terpantau di sini, salah satunya Trinil Semak atau Tringa glareola. Dia mencari makan serangga di area persawahan,” kata David, Selasa (13/1/2026).

Jenis Burung Migran yang Singgah

Berdasarkan catatan BBKSDA Jawa Timur selama dua tahun terakhir, sedikitnya tujuh jenis burung migran rutin singgah di Tulungagung. Jenis tersebut meliputi Trinil Pantai (Actitis hypoleucos), Trinil Semak (Tringa glareola), Kicuit Kerbau (Motacilla tschutschensis), Cerek Kernyut (Pluvialis fulva), Cerek Kalung-kecil (Charadrius dubius), Terik Asia (Glareola maldivarum), serta Layang-layang Asia (Hirundo rustica). Burung-burung ini berasal dari wilayah beriklim sedang hingga dingin seperti Rusia dan China.

David menjelaskan, burung migran umumnya memiliki ciri morfologi yang mendukung aktivitas mencari makan di lahan basah. “Burung migran ini memiliki ciri khusus, mayoritas paruhnya relatif panjang dan warna tubuhnya monokrom atau tidak mencolok,” ujarnya. 

Paruh yang panjang membantu burung mencari serangga, cacing, dan organisme kecil lain di lumpur sawah, sementara warna tubuh yang netral berfungsi sebagai kamuflase dari predator.

Alasan Tulungagung Menjadi Lokasi Singgah

Ribuan burung migran dari Rusia dan China melakukan perjalanan jauh saat musim dingin tiba di negara asalnya. Ketika suhu turun dan permukaan tanah tertutup salju, sumber pakan seperti serangga dan invertebrata menjadi langka. 

Kondisi ini mendorong burung bermigrasi ke wilayah tropis yang memiliki iklim hangat dan pasokan pakan melimpah. 

“Karena di daerah asalnya tidak ada pasokan makanan, sehingga migrasi ke wilayah tropis, salah satunya di Tulungagung ini,” kata David.

Persawahan di Tulungagung dinilai menyediakan habitat yang sesuai karena memiliki lahan terbuka, genangan air, serta ketersediaan serangga dalam jumlah besar. Selain itu, aktivitas pertanian yang relatif stabil membuat kawasan ini menjadi lokasi singgah yang aman. 

Burung migran biasanya datang secara berkelompok, lalu berpencar saat mencari makan sebelum kembali berkumpul di area tertentu untuk beristirahat.

Jalur Migrasi dan Potensi Kawasan Penting

Menurut David, jalur migrasi burung bersifat tetap dan diwariskan secara alami dari generasi ke generasi. Burung akan mengingat rute migrasi yang sama setiap tahun, termasuk lokasi singgah yang aman. 

Beberapa jenis seperti Terik Asia tercatat selalu muncul setiap tahun di Tulungagung dengan jumlah besar. “Kami pernah menghitung di satu petak sawah bisa mencapai ribuan ekor,” ujarnya.

Jika kondisi habitat tetap terjaga dan populasi burung migran stabil dalam beberapa tahun ke depan, kawasan persawahan Tulungagung berpotensi diusulkan sebagai salah satu jalur terbang migrasi burung di Pulau Jawa. 

Status tersebut akan memperkuat upaya perlindungan habitat dan mendorong pengelolaan lanskap pertanian yang ramah satwa liar.

Peran Indonesia dalam Migrasi Burung Dunia

Indonesia memiliki posisi strategis dalam jalur migrasi burung dunia karena terletak di antara Asia Timur dan Australia. 

Banyak burung migran tidak hanya berhenti di Indonesia, tetapi juga melanjutkan perjalanan hingga Australia. Saat musim dingin berakhir, burung-burung tersebut akan kembali ke wilayah asalnya di belahan bumi utara untuk berkembang biak. 

Keberadaan habitat singgah seperti di Tulungagung sangat penting untuk memastikan burung memiliki energi cukup selama perjalanan panjang.

baca juga

Edukasi dan Pelibatan Masyarakat

David menambahkan, kegiatan pengamatan bersama komunitas pecinta alam dan mahasiswa juga berfungsi sebagai sarana edukasi. BBKSDA Jawa Timur melibatkan Mapala Himalaya UIN Satu Tulungagung agar generasi muda mengenal langsung burung migran dan pentingnya pelestarian habitat.

 “Kami mengajak rekan-rekan mahasiswa untuk mengamati langsung aktivitas dan perilaku burung migran ini. Cara ini akan meningkatkan kecintaan terhadap alam,” ujarnya.

Ketua Mapala Himalaya, Fazal Marzuki, mengaku memperoleh pengalaman baru dari kegiatan tersebut. “Kalau secara teori sudah tahu tentang burung migran, tapi mengamati langsung baru kali ini,” katanya. 

Untuk memperkuat pemahaman, mahasiswa diminta mencatat serta menggambar ciri burung yang terpantau, terutama bentuk paruh dan ekor. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa kawasan persawahan tidak hanya penting bagi pertanian, tetapi juga bagi keberlangsungan migrasi burung lintas negara.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.