Artikel ini ditulis berangkat dari pengalaman pribadi penulis sebagai salah satu alumni Pondok Pesantren Sukamanah. Kedekatan emosional tersebut mendorong penulis untuk merefleksikan kembali nilai, sejarah, dan peran pesantren yang telah membentuk cara pandang serta perjalanan intelektual penulis hingga hari ini.
Informasi mengenai sejarah Pesantren Sukamanah dalam tulisan ini diperoleh secara langsung dari keturunan KH. Zainal Musthafa melalui berbagai kesempatan, seperti ceramah keagamaan dan kegiatan peringatan napak tilas KH. Zainal Musthafa yang rutin dilaksanakan setiap tanggal 25 Februari.
Sejarah Pesantren Sukamanah
Berdasarkan informasi yang saya peroleh secara langsung dari salah seorang cicit KHZ Musthafa, Pesantren Sukamanah didirikan pada tahun 1927 oleh KH. Zainal Musthafa di Kampung Cikembang, Tasikmalaya. Lahan yang digunakan sebagai lokasi pendirian pesantren tersebut berasal dari wakaf seorang janda bernama Hj. Juwariah.
Wakaf tanah ini menjadi fondasi awal berdirinya Pesantren Sukamanah sebagai lembaga pendidikan Islam yang berperan penting dalam pengembangan ilmu keagamaan dan pembinaan akhlak masyarakat sekitar. Sejak awal pendiriannya, pesantren ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai ruang dakwah dan pengabdian sosial yang tumbuh dari semangat keikhlasan serta kepedulian umat.
Selain sebagai tempat menimba ilmu keagamaan, Pesantren Sukamanah juga memiliki peran historis penting dalam perjuangan melawan penjajahan Jepang. Pada tahun 1944, pesantren ini menjadi basis perlawanan di bawah komando KH. Zainal Musthafa, yang dengan tegas menentang kebijakan dan penindasan penjajah demi mempertahankan kehormatan agama dan martabat bangsa.
Cakupan Ilmu Keagamaan Pesantren Sukamanah
Di sana, penulis memperoleh banyak pengetahuan dari berbagai kitab yang dipelajari, mencakup beragam disiplin keilmuan Islam, mulai dari bidang fikih, tauhid, tasawuf, muamalah, hingga ilmu alat seperti nahwu dan sharaf, serta disiplin ilmu keislaman lainnya. Proses pembelajaran tersebut tidak hanya menekankan pada penguasaan teks dan teori, tetapi juga disertai dengan pembinaan akhlak yang menjadi fondasi utama pendidikan pesantren.
Nilai-nilai akhlak ini diajarkan secara langsung oleh para guru melalui keteladanan dalam sikap, perilaku, dan keseharian, sehingga dapat dipraktikkan secara nyata oleh para santri. Dengan demikian, pendidikan di Pesantren Sukamanah tidak berhenti pada ranah kognitif semata, melainkan juga membentuk karakter dan kepribadian santri secara utuh.
Metode Pembelajaran dan Pengajian
Metode pembelajaran yang diterapkan di Pesantren Sukamanah tergolong efektif karena disusun secara bertahap dan disesuaikan dengan kapasitas serta kemampuan santri. Pesantren ini tidak serta-merta memberikan materi yang berat, melainkan memulai pengajian kitab kuning berdasarkan jenjang usia dan tingkat pemahaman santri.
Pada tahap awal, khususnya bagi santri yang baru memasuki pesantren pada usia setara tingkat MTs, materi pengajian yang diberikan masih bersifat dasar dan ringan, sehingga mudah dipahami dan tidak membebani proses belajar.
Sebagai contoh, dalam bidang akhlak, santri pemula dibekali dengan kitab Akhlaqul Banin dan Taysirul Akhlaq, yang secara khusus diperuntukkan bagi kalangan pemula dan remaja. Sementara itu, dalam bidang ilmu alat, pengajaran difokuskan pada kitab Jurumiyyah dan Tasrifan sebagai dasar pemahaman nahwu dan sharaf.
Pola pembelajaran yang berjenjang ini memungkinkan santri membangun fondasi keilmuan yang kokoh dan sistematis sebelum melanjutkan ke kajian kitab-kitab yang lebih tinggi dan kompleks. Setelah melalui tahap dasar, santri pada jenjang setara SLTA mulai diperkenalkan dengan kitab-kitab lanjutan seperti Jauhar at-Tauhid dalam bidang akidah dan Alfiyah Ibnu Malik sebagai pendalaman ilmu nahwu.
Kitab-kitab tersebut menuntut kemampuan analisis dan pemahaman bahasa Arab yang lebih matang, sehingga hanya dapat dikaji secara optimal oleh santri yang telah memiliki dasar keilmuan yang kuat.
Sementara itu, bagi santri pada tingkat perguruan tinggi, pengajian diarahkan pada kitab-kitab yang lebih mendalam dan bersifat konseptual, seperti Jauhar al-Maknūn, yang mengkaji ilmu balaghah atau keindahan bahasa Arab. Tahapan ini tidak hanya melatih ketajaman intelektual santri, tetapi juga mengasah kemampuan berpikir kritis dan apresiasi terhadap tradisi keilmuan Islam klasik.
Dengan sistem pembelajaran seperti ini, Pesantren Sukamanah berhasil menciptakan kesinambungan proses belajar yang terstruktur, berorientasi pada pendalaman ilmu, serta relevan dengan perkembangan intelektual santri di setiap jenjang pendidikan.
Semangat Toleransi yang Tinggi
Pesantren Sukamanah secara kultural berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Namun demikian, dalam praktik pendidikannya, pesantren ini sangat menjunjung tinggi nilai toleransi dan keterbukaan terhadap perbedaan pandangan keagamaan, termasuk terhadap basis lain seperti Persatuan Islam (Persis) maupun Muhammadiyah.
Perbedaan tersebut tidak diposisikan sebagai sumber perpecahan, melainkan sebagai kekayaan khazanah keilmuan Islam. Hal ini tercermin dalam setiap pengajian, di mana para guru senantiasa menanamkan kepada santri agar tidak mudah saling menyalahkan ketika menghadapi perbedaan pendapat, baik dalam persoalan keilmuan maupun praktik keagamaan.
Para santri diajarkan bahwa setiap pendapat memiliki dasar dan landasan masing-masing, baik yang bersumber dari dalil naqli maupun aqli. Oleh karena itu, perbedaan dipahami sebagai sesuatu yang wajar dan lumrah, karena lahir dari beragam latar belakang pemahaman manusia. Selama perbedaan tersebut tetap berpijak pada argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan, maka hal itu tidak menjadi persoalan, melainkan bagian dari dinamika intelektual yang sehat.
Dengan seluruh sejarah, sistem pendidikan, dan nilai-nilai yang diwariskannya, Pesantren Sukamanah bukan sekadar lembaga pendidikan Islam, melainkan ruang pembentukan manusia seutuhnya, berilmu, berakhlak, berjiwa toleran, dan memiliki kesadaran sejarah.
Dari pesantren inilah penulis belajar bahwa menuntut ilmu tidak hanya tentang menguasai kitab dan teks, tetapi juga tentang menanamkan sikap rendah hati, menghargai perbedaan, serta menjaga komitmen terhadap nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Warisan KH. Zainal Musthafa yang hidup dalam tradisi keilmuan dan keteladanan pesantren ini patut terus dijaga dan diwariskan, agar Pesantren Sukamanah tetap menjadi cahaya pendidikan, moderasi, dan perjuangan bagi generasi masa kini dan masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


