Kilang Pertamina Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan resmi menjadi kilang minyak terbesar di Indonesia. RDMP Balikpapan baru saja diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin (12/1/2026).
Peresmian RDMP Balikpapan menandai “puasa” dibukanya kilang minyak di Tanah Air yang terakhir dilakukan pada 1994 silam. Kini, kilang minyak terbesar di Indonesia itu siap beroperasi dan memenuhi kebutuhan energi dalam negeri serta mengurangi ketergantungan impor bahan bakar.
Fakta RDMP Balikpapan yang Jadi Kilang Minyak Terbesar di Indonesia
Menempati area seluas lebih dari 280 hektare, RDMP Balikpapan dikabarkan memiliki total investasi setara dengan Rp123 triliun. Proyek ini sebenarnya sudah dibangun sejak 2019 silam dan direncanakan selesai pada 2024. Namun, rencana tersebut tertunda karena kebakaran di salah satu unit pada pertengahan 2024.
Total kapasitas pengelolaan minyak yang bisa diproduksi mencapai 360 ribu barel per hari. Kapasitas itu sama dengan 22-25 persen alias seperempat dari kebutuhan nasional. Tentu saja jumlah ini sangat besar.
“Ini adalah RDMP terbesar dalam sepanjang sejarah kita yang dibangun di Indonesia. Begitu diresmikan, Insya Allah tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, melalui ANTARA.
Kilang RDMP ini dirancang sebagai kilang yang terintegrasi yang mencakup sistem penerimaan minyak mentah, jaringan pipa transfer, sampai tahap akhir sebagai rantai pasok energi nasional. Yang menarik, terdapat fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex yang bertujuan untuk mengoptimalkan pengolahan residu minyak menjadi produk bahan bakar dan petrokimia bernilai tinggi.
Lebih lanjut, RDMP Balikpapan akan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak dari awalnya 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari. Selain itu, produksinya juga menggunakan standar EURO 5 yang bertujuan untuk menjaga kualitas udara dan lingkungan agar tetap bersih—sejalan dengan target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Tak hanya itu, kilang milik Pertamina tersebut juga akan meningkatkan produksi bahan bakar dengan Research Octane Number (RON) 92, 95, dan 98. Dengan demikian, besar harapan agar Indonesia tak lagi megimpor bahan bakar dari perusahaan luar.
Kilang RDMP Balikpapan bakal memproduksi beberapa jenis produk, mulai dari bahan bakar minyak (BBM), LPG, hingga petrokimia. Proyek ini diklaim mampu meningkatkan produksi LPG dari 48 ribu ton per tahun menjadi 384 ribu ton pertahun. Artinya, impor LPG bisa dipangkas hingga 4,9 persen.
Proyek ini terintegrasi dengan Pipa Gas Senipah, Balikpapan, sepanjang 78 kilometer yang akan mengalirkan pasokan bahan baku energi ke dalam kilang. Di sisi lain, Terminal BBM Tanjung Batu berkapasitas 125 ribu kiloliter yang bisa melayani distribusi BBM untuk Indonesia bagian timur.
Dampaknya untuk Ketahanan Energi Nasional
Peresmian RDMP terbesar di Indonesia ini tentu membawa harapan besar agar target ketahanan energi nasional semakin menguat. Proyek ini juga merupakan upaya pemerintah untuk memenuhi ambisi swasembada energi serta mencukupi kebutuhan energi bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Dengan kapasitasnya yang begitu besar, RDMP Balikpapan siap meningkatkan jumlah kapasitas produksi dan pengolahan minyak. Kilang ini juga diperkirakan bisa ikut berkontribusi terhadap pendapatan negara hingga Rp514 triliun.
Di sisi lain, RDMP Balikpapan dapat mendorong hilirisasi industri serta produksi bahan bakar minyak (BBM) yang berkualitas tinggi nan ramah lingkungan. Perkiraan total budget impor yang bisa dihemat berkat kilang besar ini mencapai Rp67 triliun.
Pemerintan sendiri bertekad untuk menyetop impor bahan bakar jenis solar per 2026. Kementerian ESDM tidak akan menerbitkan izin impor solar lagi. Alih-alih membeli dari luar, seluruh SPBU—termasuk swasta—harus membeli dari produksi dalam negeri melalui RDMP Balikpapan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


