habibie nama asli marga di gorontalo - News | Good News From Indonesia 2026

Habibie: Nama Asli Marga di Gorontalo

Habibie: Nama Asli Marga di Gorontalo
images info

Habibie: Nama Asli Marga di Gorontalo


Kawan, jika kita mendengar nama Habibie, barangkali pikiran kita tertuju pada sosok jenius perakit pesawat terbang, kebanggaan Indonesia yaitu Presiden Ketiga RI, Bacharuddin Jusuf Habibie. Namun tahukah Kawan, bahwa Habibie adalah nama sebuah marga yang melekat erat pada struktur sosial masyarakat Gorontalo. Ya, Habibie adalah nama asli salah satu marga di Gorontalo yang salah satu keturunannya adalah B.J. Habibie.

Leluhur B.J. Habibie

Berdasarkan penuturan Makmur Makka dalam bukunya A True Life of Habibie: Cerita Dibalik Kesuksesan, leluhur B. J. Habibie dari pihak ayahnya adalah keturunan Suku Bugis Makasar, bernama Lamakasa yang bersama kawan-kawannya diperkirakan pada abad 17M meninggalkan kampung halaman menuju Gorontalo. Di sana, mereka mendapat izin tinggal dari Raja Gorontalo saat itu, setelah keberhasilannya mengusir perompak-perompak di pantai Gorontalo. Daerah tersebut hingga sekarang dikenal dengan Kampung Bugis.

Lamakasa kemudian menikahi gadis setempat bernama Hawaria. Mereka dikaruniai empat orang putra, salah satunya bernama Habibie. Habibie kemudian menikahi Layiyo. Dari pernikahan itu lahirlah putra mereka yang kedua diberi nama Abdul Jalil Habibie yang tidak lain adalah kakek B.J. Habibie. Abdul Jalil Habibie memiliki kedudukan terpandang di masyarakatnya. Dia adalah seorang haji dan pemimpin umat Islam sekaligus pemangku adat di daerah Kabila, sebuah wilayah di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.

Abdul Jalil Habibie lantas menikahi Hailu Tantu. Pernikahan tersebut dikarunia empat anak perempuan dan lima anak laki-laki, salah satunya adalah Alwi Abdul Jalil Habibie (Ayah B.J. Habibie). Sebagai keluarga terkemuka, Alwi saat itu dapat bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS). Kemudian dia melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Tondano dan Sekolah Pertanian di Bogor.

Saat menjalani pendidikan pertanian itulah, Alwi bertemu dengan R.A. Tuti Marini Puspowardojo yang kelak menjadi istrinya. Tak lama setelah menikah, Alwi diangkat sebagai ahli pertanian (adjunct landbouw consulent) dan ditempatkan di Parepare. Disanalah anak keempatnya, Bacharuddin Jusuf Habibie lahir pada 25 Juni 1936. Sekalipun dia tidak lahir di Gorontalo, namun silsilah dan marganya menunjukkan keterikatan kuat dengan Gorontalo.

baca juga

Marga Habibie dalam Struktur Pohala’a Masyarakat Gorontalo

Pohala'a adalah sistem ikatan kekeluargaan yang kuat dan berlaku sejak berabad-abad silam di masyarakat Gorontalo. Pohala’a juga menjadi sebutan untuk wilayah Gorontalo itu sendiri yaitu Limo Lo Pohalaa yang berarti lima persekutan kekeluargaan besar atau kerajaan. Masing-masing memiliki otonomi namun terikat dalam satu kesatuan adat dan pertahanan. Kelima pohala’a itu adalah: Gorontalo, Limboto, Suwawa, Boalemo, Atinggola.

Pohala’a tidak hanya mencakup struktur genealogis, tetapi juga administratif kerajaan Gorontalo dalam pengaturan masyarakatnya.

Struktur pohala’a sangat inklusif. Nama-nama marga keturunan Arab yang telah menetap lama diakui dalam sistem pohala’a menjadi salah satu nama marga. Sebut saja seperti Alhaddar, Alaydrus, Alhabsy, dan sebagainya. Habibie sendiri jelas bukan nama sebuah marga keturunan Arab. Namun, kata tersebut berakar dari kata habib, yang biasanya digunakan untuk nama pemberian laki-laki, dan gelar kehormatan yang berarti kekasih atau yang dicintai.

Diterimanya marga-marga keturunan Arab dan digunakannya istilah-istilah yang berasal dari Arab dalam struktur masyarakat Gorontalo menunjukkan bagaimana proses asimilasi dan akulturasi antara Islam dan budaya setempat terjadi dengan baik.

Darwin Une dalam artikelnya "Islamisasi dan Pola Adat Masyarakat Gorontalo dalam Perspektif Sejarah Kebudayaan Islam" menyebutkan bahwa Islam masuk dan berkembang secara damai di Kerajaan Gorontalo sejak sekitar tahun 1535 M pada masa pemerintahan Raja Sultan Amai. Islamisasi yang ada juga tidak melenyapkan tradisi-tradisi sebelumnya.

Pola adat dikembangkan dalam prinsip “adati hula-hula to saraa, saraa hula-hula to adati” (adat bersendikan syariat, syariat bersendikan adat), dan “adati hula-hulaa to kuruani” (adat bersendi syariat, syariat bersendi kitabullah). Prinsip-prinsip yang sampai saat ini masih tetap melekat dan menjadi simbol Gorontalo sebagai daerah adat yang menjunjung tinggi nilai-nilai Keislaman, sehingga dijuluki sebagai “Serambi Madinah.”

baca juga

Warisan Keberagaman dan Ilmu Pengetahuan

Dari sepenggal kisah di atas, kita mengetahui betapa Gorontalo memiliki warisan keberagaman yang sejak semula telah diterima, bahkan diadopsi dalam sistem sosialnya. Tanpa keterbukaan masyarakat asli Gorontalo, dan kesediaan para pendatang untuk menyatu, proses harmonisasi sosial dalam masyarakat Gorontalo akan sulit terjadi.

Dari marga Habibie, kita belajar, betapa tradisi intelektual (ilmu pengetahuan) memiliki peran penting dalam perjalanan keluarga tersebut sehingga bisa menghasilkan tokoh inspirasi bangsa. Dari ilmunya, telah membawa Indonesia pada jajaran negara teknokrat pembuat pesawat terbang. Nama marganya menjadi simbol sosok jenius dari Indonesia. Semoga bisa lahir “Habibie-Habibie” lain di negeri ini yang kaya akan warisan keragaman dan potensi ilmu pengetahuan!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PR
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.