Jakarta dibangun di atas ingatan panjang tentang bagaimana manusia mencoba menaklukkan alam. Namun, kota ini tumbuh seolah lupa pada asal-usulnya. Sungai yang menyempit, udara yang kian buruk, dan bumi yang diperlakukan sebagai sumber yang tidak ada habisnya.
Ketika relasi itu kian rapuh, pameran Ecophilia hadir di Museum Bank Indonesia sebagai ruang sunyi yang mengajak Jakarta mengingat kembali satu hal mendasar bahwa mencintai Bumi bukan pilihan moral, melainkan kebutuhan dasar untuk bertahan.
Barangkali karena itulah pameran “Ecophilia: Jaga Bumi, Jaga Greenerasi” terasa relevan, bahkan mendesak.
Digelar di Museum Bank Indonesia, Ecophilia tidak berhenti sebagai peristiwa budaya atau sarana edukasi semata. Rasanya pameran ini menjadi jeda, di tengah kota yang selalu merayakan pertumbuhan, investasi, dan pembangunan.
Melalui pameran ini, pengunjung diajak untuk melambat, melihat kembali arti dari kemajuan serta menyadari bahwa Bumi yang terus melemah tidak dapat dipisahkan dari narasi pembangunan yang selama ini dijalankan.
Museum Bank Indonesia berdiri sebagai monumen sejarah ekonomi, simbol stabilitas moneter, dan pengingat bagaimana uang mengatur arah peradaban. Di ruang inilah konsep ekonomi hijau diperkenalkan kepada publik melalui instalasi visual, narasi ruang, dan pengalaman personal.
Ecophilia seolah ingin menegaskan bahwa masa depan ekonomi tidak terlepas dari keberlanjutan sebuah lingkungan.
Dengan menjadikan koleksi numismatik sebagai medium utama, Ecophilia menghadirkan keterhubungan antara manusia, alam, dan bentang alam Nusantara.
Setiap lembar dan keping rupiah ditampilkan bukan semata sebagai alat transaksi, melainkan sebagai ruang narasi yang memuat representasi flora, fauna, serta pesan ekologis yang kerap terabaikan dalam keseharian.
Langkah ini sejalan dengan arah baru pengelolaan museum di tingkat global. Sejak 2019, Dewan Museum Internasional (ICOM) membentuk komite SUSTAIN yang mendorong museum-museum dunia untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Semangat tersebut diterjemahkan Museum Bank Indonesia melalui pameran Ecophilia sebagai bagian dari komitmen terhadap praktik museum yang lebih berkelanjutan.
Begitu melangkah ke dalam ruang pameran, pengunjung dibawa melewati 6 zona tematik. Dimulai dari Lorong Ecophilia, sebuah pengantar yang mengingatkan kita untuk cinta kepada Bumi.
Kemudian, visitor juga diajak untuk menyusuri Pelataran Harmoni Ekosistem, yang menampilkan keseimbangan rapuh antara manusia dan alam keseimbangan yang seringkali dikorbankan oleh Jakarta atas nama pertumbuhan.
Di zona Rupa Indah, terdapat Kepingan Surga Nusantara, keindahan alam Indonesia dipajang dengan cara yang sentimental. Seolah mengingatkan bahwa kerusakan bukan terjadi karena kita tak tahu Bumi ini indah, tetapi karena ternyata kita memilih lupa.
Zona Krisis Bumi tampil lugas melalui data, visual, dan instalasi multimedia yang memperlihatkan dampak nyata dari pola ekonomi eksploitatif tentang perubahan iklim, polusi, hingga krisis sumber daya.
Rasanya, Jakarta hadir di ruang ini, meski tidak disebut secara eksplisit. Kota dengan jejak karbon tinggi, konsumsi energi masif, dan ketergantungan pada kendaraan pribadi seolah tercermin di setiap sudut pameran ini.
Menariknya, Ecophilia tidak menempatkan pengunjung sebagai penonton pasif. Di Zona Aksi Bersama, publik diajak berinteraksi, menghitung jejak karbon pribadi, dan memahami bagaimana keputusan kecil, seperti memilih penggunaan transportasi publik, mengurangi konsumsi berlebih yang memiliki implikasi ekonomi dan ekologis.
Pameran ini memberi statement bahwa ekonomi hijau adalah bagian dari urusan setiap warga yang mengambil keputusan sehari-hari.
Yang membuat pameran ini relevan bagi Jakarta adalah aksesibilitasnya. Tiket masuk Museum Bank Indonesia tergolong berbiaya rendah, bahkan menjadi salah satu destinasi edukasi paling terjangkau di Jakarta. Anak-anak, pelajar, hingga keluarga dapat masuk dengan rentang biaya Rp5.000—Rp15.000.
Lokasinya pun strategis. Dengan memilih TransJakarta Rute 1A arah Pantai Maju pengunjung dapat turun di halte Kali Besar, dilanjutkan berjalan kaki sekitar 200 meter atau selama kurang lebih 3 menit waktu tempuh.
Jika alternatifnya menggunakan KRL Commuter Line, kita dapat mengambil rute menuju Stasiun Jakarta Kota lalu kembali berjalan kaki sejauh 200 meter atau selama kurang lebih 3 menit waktu tempuh. Dan... kita sudah sampai di tempat tujuan.
Secara akses transportasi, pameran ini mudah dijangkau tanpa kendaraan pribadi, sekaligus menjadi harapan tersirat untuk datang ke pameran ekonomi hijau dengan moda transportasi rendah emisi.
Pameran tersebut mungkin tidak akan menghentikan banjir, menurunkan emisi secara instan, atau mengubah wajah Jakarta dalam semalam. Namun, Ecophilia melakukan sesuatu yang lebih mendasar tentang menanam kesadaran. Mulai dari ruang kecil, dan dari langkah kaki yang memilih menggunakan transportasi publik.
Ecophilia merupakan catatan kaki dalam perjalanan Jakarta menuju kota yang berbudaya terhadap lingkungannya. Sebuah pengingat bahwa mencintai kota, pada akhirnya juga berarti mencintai bumi yang memungkinkannya tegak berdiri.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


