Banyak orang percaya bahwa hidup bisa mengubah kepribadian secara drastis. Kenyataannya, psikologi modern justru menemukan pola sebaliknya. Cara kita berpikir, bereaksi, dan berhubungan dengan orang lain cenderung stabil.
Stabilitas ini bukan asumsi, melainkan hasil penelitian jangka panjang. Dari sinilah teori Set-point Personality menjadi relevan untuk dibicarakan.
Teori Set-point Personality menjelaskan bahwa setiap individu memiliki titik dasar kepribadian. Titik ini terbentuk kuat setelah masa dewasa awal. Banyak peneliti menempatkan usia sekitar 30 tahun sebagai fase kunci. Setelah fase ini, perubahan kepribadian besar menjadi semakin jarang. Yang berubah biasanya hanya cara mengekspresikannya.
Paul Costa dan Robert McCrae adalah tokoh penting di balik teori ini. Keduanya memperkenalkan kerangka Big Five Personality Traits pada 1992. Model ini kini menjadi rujukan utama psikologi kepribadian global.
Big Five membantu memahami kepribadian secara terstruktur dan empiris. Lima dimensinya mencakup ekstraversi, keramahan, keterbukaan, kehati-hatian, dan neurotisisme.
Costa dan McCrae menegaskan bahwa kelima dimensi tersebut relatif stabil setelah dewasa awal. Fluktuasi memang ada, tetapi tidak menggeser inti. Perubahan besar jarang bersifat permanen. Kepribadian cenderung kembali ke titik dasarnya. Inilah yang disebut sebagai set-point kepribadian.
Ekstraversi menggambarkan kebutuhan seseorang terhadap stimulasi sosial. Individu ekstrover cenderung menikmati interaksi dan aktivitas ramai. Sebaliknya, introver lebih nyaman dengan ruang personal. Penelitian Costa dan McCrae (1994) menunjukkan stabilitas ekstraversi lintas usia. Namun, bentuk ekspresinya bisa berubah seiring peran hidup.
Seorang ekstrover muda mungkin gemar berpesta hingga larut malam. Saat dewasa, ia tetap ekstrover, tetapi lebih memilih acara keluarga. Energi sosialnya tetap ada, hanya salurannya yang berbeda. Tanggung jawab hidup mengubah perilaku, bukan sifat dasarnya. Inilah contoh stabilitas yang fleksibel.
Keramahan berkaitan dengan empati, kepercayaan, dan kerja sama sosial. Individu dengan keramahan tinggi mudah membangun relasi. Dimensi ini penting dalam dunia pendidikan dan pelayanan publik. Costa dan McCrae (2000) menunjukkan bahwa keramahan relatif menetap setelah usia 30. Tekanan hidup jarang menghapus sifat ini.
Seorang guru yang dikenal ramah biasanya konsisten sepanjang kariernya. Stres kerja bisa membuatnya lelah atau defensif sesaat. Namun kecenderungan empatiknya tetap muncul. Keramahan bukan sekadar sikap, melainkan pola kepribadian. Karena itu, sifat ini jarang berubah drastis.
Dimensi keterbukaan mencerminkan rasa ingin tahu dan imajinasi. Orang dengan keterbukaan tinggi tertarik pada ide dan pengalaman baru. McCrae (2001) menemukan bahwa keterbukaan stabil sepanjang rentang dewasa. Perubahan lebih sering terjadi pada minat spesifik. Dorongan eksploratifnya tetap bertahan.
Seorang seniman mungkin tak lagi produktif seperti dulu. Namun ia tetap reflektif dan eksperimental. Penulis dewasa mungkin lebih selektif memilih tema. Minat pada makna dan ide tetap hidup. Keterbukaan tidak hilang, hanya menua bersama pengalaman.
Kehati-hatian berkaitan dengan disiplin dan tanggung jawab. Dimensi ini unik karena sering meningkat sebelum stabil. Roberts, Walton, dan Viechtbauer (2006) menyebutnya maturity principle. Pengalaman hidup memperkuat kontrol diri. Namun peningkatan ini tidak berlangsung tanpa batas.
Pekerja muda yang ceroboh bisa menjadi lebih terorganisir. Tanggung jawab kerja dan keluarga mempercepat proses ini. Setelah usia tertentu, kehati-hatian cenderung menetap. Perubahan ekstrem menjadi jarang. Kepribadian mencapai keseimbangannya.
Neurotisisme menggambarkan sensitivitas emosional dan kerentanan stres. Individu dengan neurotisisme tinggi mudah cemas. Costa dan McCrae (1992) menunjukkan stabilitas dimensi ini. Pengalaman hidup membantu mengelola emosi. Namun tingkat kepekaan dasarnya tetap ada.
Seorang profesional muda mungkin mudah panik menghadapi tekanan. Seiring waktu, ia belajar menenangkan diri. Strategi coping berkembang melalui pengalaman. Namun kepekaan emosionalnya tidak menghilang. Respons membaik, bukan kepribadiannya berubah.
Teori Set-point Personality tidak menutup kemungkinan perubahan. Peristiwa besar tetap memberi dampak psikologis. Pernikahan, kehilangan, atau krisis karier sering memicu perubahan sementara. Namun perubahan ini jarang bertahan lama. Kepribadian cenderung kembali ke pola awal.
Lucas dan Donnellan (2011) meneliti perubahan pascakejadian besar. Hasilnya menunjukkan efek kepribadian bersifat sementara. Setelah fase adaptasi, individu kembali ke set-point. Kepribadian berosilasi, bukan berpindah permanen. Stabilitas kembali mengambil peran.
Seorang introver bisa tampil percaya diri saat memimpin tim. Tuntutan peran memaksa adaptasi perilaku. Namun setelah tugas selesai, ia kembali mencari kesunyian. Kebutuhan dasarnya tidak berubah. Inilah perbedaan antara peran dan kepribadian.
Bukti terkuat datang dari studi longitudinal lintas budaya. Terracciano et al. (2010) meneliti ribuan responden dari berbagai negara. Hasilnya menunjukkan konsistensi kepribadian jangka panjang. Budaya berbeda, pola dasar tetap sama. Kepribadian melampaui konteks sosial.
Roberts dan DelVecchio (2000) juga menemukan hal serupa. Stabilitas kepribadian meningkat seiring bertambahnya usia. Masa dewasa menjadi fase paling konsisten. Kepribadian berfungsi sebagai jangkar identitas. Ia memberi kontinuitas dalam hidup.
Dalam kehidupan sehari-hari, teori ini memberi perspektif realistis. Kita sering frustrasi ingin berubah total. Padahal perubahan ekstrem jarang bertahan. Penyesuaian perilaku jauh lebih efektif. Fokus pada respons, bukan inti kepribadian.
Introver bisa belajar berbicara di publik tanpa menjadi ekstrover. Ekstrover bisa belajar mendengar tanpa kehilangan energinya. Inilah adaptasi yang sehat dan berkelanjutan. Kepribadian bukan penjara, melainkan fondasi. Memahaminya membantu kita berkembang tanpa kehilangan diri.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


