Indonesia merupakan negara yang kaya akan cerita rakyat atau legendanya yang berasal dari berbagai daerah. Salah satunya adalah Ki Ageng Mangir, yang merupakan cerita rakyat dari Yogyakarta.
Berkisah tentang seorang penguasa tanah Mangir yang kematiannya berakhir tragis karena dibunuh oleh Panembahan Senopati, raja Kerajaan Mataram yang juga merupakan mertuanya sendiri.
Mengenal Tokoh Ki Ageng Mangir
Ki Ageng Mangir adalah seorang pemimpin wilayah Mangir pada masa Kerajaan Mataram Islam yang gagah, sakti, dan berwibawa. Ia memiliki senjata berupa tombak yang bernama Baru Klinthing.
Meskipun ia adalah seorang yang gagah berani dan sakti, ia memiliki sifat egois, pemberontak, dan tidak mau tunduk kepada Kerajaan Mataram. Ia menganggap tanah Mangir yang ia pimpin adalah wilayah yang merdeka dan berdiri sendiri. Hal inilah yang memicu permusuhan antara Ki Ageng Mangir dan Kerajaan Mataram.
Suatu hari, Panembahan Senopati selaku raja Kerajaan Mataram pada saat itu merasa marah karena Ki Ageng Mangir selalu menolak untuk memasukkan tanah Mangir sebagai wilayah Mataram. Sudah beberapa kali ia membujuk, namun Ki Ageng Mangir tetap bersikeras. Akhirnya, Panembahan Senopati menyusun rencana untuk menjatuhkan Ki Ageng Mangir.
Rencana Panembahan Senopati
Pada awalnya, Panembahan Senopati berencana ingin mengadakan peperangan untuk melawan Ki Ageng Mangir. Ia pun bersiap-siap mengerahkan para prajuritnya. Namun, penasihatnya yang bernama Ki Juru Mertani menghalangi rencananya.
Menurutnya, rencana peperangan itu justru akan menimbulkan banyak korban jiwa, mengingat Ki Ageng Mangir adalah seorang yang sakti dan sulit dikalahkan dalam perang. Oleh karena itu, Panembahan Senopati pun mengganti rencana.
Ia memanggil putrinya, Pembayun, dan menyuruhnya untuk menyamar sebagai penari ledhek (wanita yang menari diiringi lagu atau gending-gending Jawa) dan mendekat Ki Ageng Mangir.

Putri Pembayun Menari | Sumber: Wikimedia Commons (Christian Tandjung)
Kisah Cinta Ki Ageng Mangir dan Putri Pembayun
Putri Pembayun menuruti keinginan ayahnya. Ia menyamar dan menari ledhek dengan berkeliling ke berbagai wilayah. Beberapa lama kemudian, ia tiba di Mangir dan menari di hadapan Ki Ageng Mangir.
Ki Ageng Mangir yang melihatnya pun jatuh cinta kepada Putri Pembayun dan melamarnya. Mereka pun menikah dan beberapa lama kemudian, Putri Pembayun hamil. Ki Ageng Mangir sangat senang tanpa mengetahui bahwa Putri Pembayun adalah anak dari Panembahan Senopati.
Identitas yang Akhirnya Terbongkar
Setelah beberapa lama, Putri Pembayun tidak kuasa lagi menyembunyikan identitas sebenarnya. Ia pun mengaku kepada suaminya bahwa ia adalah anak dari Panembahan Senopati. Mendengar itu, Ki Ageng Mangir merasa sangat marah.
Namun, Putri Pembayun berusaha menenangkannya dan membujuknya untuk bertemu dengan Panembahan Senopati. Ki Ageng Mangir pun setuju dan pergi bersama istrinya untuk menemui raja Kerajaan Mataram itu.
Akhir yang Tragis dan Menyedihkan
Setelah menempuh perjalanan, akhirnya Ki Ageng Mangir dan istrinya bertemu dengan Panembahan Senopati. Ki Ageng Mangir pun melakukan sungkeman atau penghormatan di hadapan Panembahan Senopati.
Namun, tanpa disangka, Panembahan Senopati malah membenturkan kepala Ki Ageng Mangir ke atas batu tempat ia duduk, sehingga Ki Ageng Mangir langsung meninggal di tempat. Melihat itu, Putri Pembayun menangis sedih. Ki Ageng Mangir dimakamkan saat itu juga di kompleks makam raja-raja Kerajaan Mataram Islam di daerah Kotagede.
Namun, setengah jenazahnya dimakamkan di bagian dalam dan setengahnya lagi di bagian luar, karena Ki Ageng Mangir adalah musuh Kerajaan Mataram.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


