Atlet-atlet Indonesia di SEA Games 2025 telah mengajari kita hal penting: Saat punya uang lebih, pergunakanlah secara bijak untuk hal yang bermanfaat seperti membuka bisnis atau berinvestasi.
Belum lama ini, Pemerintah Indonesia menggelontorkan bonus apresiasi berupa uang tunai kepada para atlet Indonesia di SEA Games 2025. Total anggaran sebesar Rp465,25 miliar dikucurkan sebagai imbalan atas para anak bangsa yang telah mengukir prestasi.
Total anggaran sebesar Rp465,25 miliar dikucurkan sebagai bentuk penghargaan atas kedigdayaan para atlet di SEA Games 2025 Thailand. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan sebelum-sebelumnya, bahkan jadi yang terbesar sepanjang keikutsertaan Tim Merah Putih di ajang SEA Games. Peraih medali emas nomor tunggal kini mengantongi bonus senilai Rp1 miliar, belum lagi untuk yang lainnya.
Di balik angka yang fantastis tersebut, terselip sebuah pesan penting dari Presiden RI Prabowo Subianto. Saat menyerahkan bonus secara simbolis di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (8/1/2025) lalu, ia berpesan agar para atlet menggunakan uang tersebut dengan bijak. Prabowo menekankan bahwa bonus tersebut harus dianggap sebagai modal untuk masa depan, mengingat karier seorang atlet memiliki batasan waktu.
“Penghargaan berupa uang ini maksudnya adalah untuk menjadi tabunganmu dalam masa-masa yang akan datang. Jangan dipakai untuk yang tidak positif. Gunakan untuk berbuat baik, tabung untuk dirimu dan orang tuamu,” tegas Presiden Prabowo.
Pesan ini rupanya diresapi dengan mendalam oleh sejumlah atlet muda Indonesia. Alih-alih larut dalam gaya hidup konsumtif, para jawara Asia Tenggara ini justru mulai menunjukkan kedewasaan finansial dengan merencanakan investasi jangka panjang. Salah satunya adalah Revo Priliandro, atlet hoki indoor asal Bandung yang sukses mempersembahkan medali emas berturut-turut sejak SEA Games Kamboja hingga Thailand. Pria berusia 28 tahun ini mengaku akan menggunakan bonus tersebut sebagai instrumen investasi dan aset properti.
“Bonus dari Bapak Presiden ingin saya manfaatkan sebaik mungkin. Rencananya digunakan untuk investasi dan membeli rumah bagi keluarga di Bandung,” ujar Revo dengan nada syukur.
Langkah serupa juga diambil oleh pecatur putri kebanggaan Indonesia, Chelsie Monica Ignesias Sihite. Setelah mendulang emas di nomor beregu putri dan mendapatkan bonus Rp500 juta, Chelsie sudah memiliki peta jalan keuangan yang jelas. Selain membagikan sebagian rezeki kepada keluarga, fokus utamanya adalah menempatkan dana tersebut pada instrumen investasi yang produktif.
“Kalau ditanya untuk apa bonusnya, pastinya sebagian untuk dibagikan ke Mama, ke keluarga. Tetapi sebagian besar nanti diinvestasikan untuk ke depannya, untuk masa depan,” ungkap bungsu dari tiga bersaudara ini.
Tak ketinggalan, petinju muda Vicky Tahumil Junior, yang sukses meraih emas meski berangkat dari jalur seleksi ketat, juga mulai memikirkan kemandirian ekonomi. Meski belum menetapkan jenis bisnis tertentu, Vicky memiliki keinginan kuat untuk menggunakan bonus miliaran rupiah tersebut sebagai modal usaha.
“Saat ini sedang pikir-pikir mau buat usaha apa,” ungkap Vicky
Kesadaran para atlet seperti Revo, Chelsie, dan Vicky dalam mengelola bonus sejarah ini patut diteladani, khususnya oleh atlet lainnya. Maklum saja, bukan sekali dua kali ada kasus atlet yang mengalami kesulitan finansial saat sudah pensiun.
Masalah tersebut bahkan pernah menimpa sejumlah pemain sepak bola terkenal dunia seperti Ronaldinho, Eric Djemba-Djemba, hingga Lee Hendrie. Kendati hidup bergelimang harta saat masih bermain, mereka kemudian justru terjerumus dalam kemiskinan karena salah langkah dalam menggunakan uangnya, utamanya kebiasaan foya-foya dan perjudian.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


