keagungan panggung songgo buono menara ikonik keraton solo yang tak tertandingi di zamannya - News | Good News From Indonesia 2026

Keagungan Panggung Songgo Buono: Menara Ikonik Keraton Solo yang Tak Tertandingi di Zamannya

Keagungan Panggung Songgo Buono: Menara Ikonik Keraton Solo yang Tak Tertandingi di Zamannya
images info

Keagungan Panggung Songgo Buono: Menara Ikonik Keraton Solo yang Tak Tertandingi di Zamannya


Di tengah konflik yang melanda, pemerintah tetap serius dalam memperbaiki cagar budaya yang ada di Keraton Solo. Hal ini terlihat dari revitalisasi bangunan cagar budaya Panggung Songgo Buono.

Panggung Songgo Buono pernah menjadi menara tertinggi di Pulau Jawa. Bersama kompleks Keraton Surakarta, Panggung Songgo Buono telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional sejak 2017.

Proses revitalisasi ini baru saja selesai pada 16 Desember 2025. Peresmian bangunan cagar budaya nasional tersebut dilakukan di tengah konflik suksesi yang sedang terjadi di Keraton Solo.

Dalam kesempatan tersebut, Fadli Zon mengimbau agar kondusivitas Keraton tetap dijaga. Ia mengapresiasi pihak keraton yang telah menjaga kondusivitas hingga 40 hari usai wafatnya Pekubuwono XIV.

"Kami akan melakukam dialog, memfasilitasi dan juga ini setelah melewati 40 hari dan alhamdulillah persis Panggung Songgo Buwono telah selesai kita laksanakan revitalisasinya, begitu juga dengan museum. Setelah ini nanti kita akan berdialog, berdiskusi lagi seperti harapan tadi dari panembahan ageng (Maha Menteri Keraton Solo), termasuk bangunan-bangunan yang penting yang ada di sini yang perlu kita revitalisasi, tentu kita akan ikut untuk mendukung revitalisasinya," ujar Fadli Zon, di Solo.

Ia menambahkan, peresmian Panggung Songgo Buono bukan sekadar meresmikan bangunan fisik, melainkan menghidupkan kembali warisan sejarah bangsa dengan perjalanan panjang dan nilai budaya yang luhur.

“Hari ini kita berkumpul di jantung Kota Solo, di tengah pusaran sejarah dan keagungan budaya yang tak lekang oleh waktu, untuk meresmikan sebuah warisan sejarah yang memiliki makna sangat penting bagi bangsa,” ungkap Fadli. 

Sejarah Panggung Songgo Buono

Ketika mengunjungi Keraton Kasunanan Solo wisatawan akan dibuat takjub oleh menara yang menjulang tinggi. Menara itu cukup terlihat jelas kala wisatawan masuk ke halaman keraton.

Bangunan itu berada di antara Kori Kamandungan dan Sasono Sewoko. Selama ini mungkin belum banyak yang tahu mengenai nama menara tersebut.

Terlebih mengenai fungsi dari bangunan yang memiliki tinggi puluhan meter itu. Nama menara itu Panggung Songgobuwono.

Panggung Songgo Buwono didirikan pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono III sekitar tahun 1728 dan memiliki tinggi sekitar 30 meter. Disebutkan oleh Ketua LDA Keraton Kasunanan Surakarta, GKR Wandansari Koes Moertiyah atau Goesti Moeng menara setinggi itu hanya dimiliki Keraton Solo, tidak ada kerajaan lain di Asia Tenggara yang memiliki menara setinggi itu.

"Tidak ada kerajaan di Asia Tenggara yang memiliki menara setinggi seperti itu. Itu ikon Keraton dan Indonesia. Tidak ada kerajaan yang punya menara seperti itu," kata dia yang dinukil dari Detik.

Bangunan ini tampak megah, tinggi dan kokoh. Sehingga sesuai dengan namanya yang memiliki makna penopang alam semesta (panyangga jagad/dunia) dan saat itu tidak ada yang menyamai dari ketinggiannya.

Menara ini berbentuk segi delapan atau hasta wolu dan memiliki atap limasan yang disebut tudung saji. Di puncak menara, terdapat sebuah lambang yang menggambarkan manusia mengendarai naga.

Lambang tersebut adalah sengkalan tahun yang berbunyi Naga Muluk Tinitihan Jalma, yang melambangkan tahun pembuatan menara.

Nama Menara Songgobuwono sendiri berasal dari kata 'panggung', 'song', 'go', dan 'buwono'. “Panggung' berarti panggung atau bangunan tinggi, 'song' berarti sembilan, 'go' berarti satu, dan 'buwono' berarti dunia.

“Dengan demikian, bunyi pengertian itu adalah angka tahun 1198 Hijriyah.” Jelas Goesti Moeng.

Peran dari Panggung Songgobuwono

Gusti Moeng menambahkan, Panggung Songgobuwono dulunya memiliki peran vital dalam pertahanan keraton. Dari Panggung Songgobuwono, tentara Keraton Kasunanan Solo bisa mengawasi pergerakan Belanda di Benteng Vestenburg yang berada di sebelah utara keraton.

"Kegunaannya untuk melihat sekitar kerajaan. Yang utama kan bentengnya Belanda (Benteng Vestenburg) di sebelah utara. Sebelum ada pohon dan bangunan yang lain kelihatan sekali bentengnya," ucapnya.

Gusti Moeng mengungkapkan fungsi lainnya adalah untuk urusan spiritual raja keraton kala itu. Di Panggung Songgobuwono digunakan Sinuhun untuk kegiatan spiritual.

Panggung Songgo Buwono diyakini sebagai tempat malenggeng atau bertapa, di mana raja menjalani laku spiritual dan komunikasi batin, menjadikannya ruang yang sakral. Dalam tata ruang Keraton Surakarta, Panggung Songgo Buwono terletak di pusat kompleks dan melambangkan axis mundi atau poros dunia, yang menghubungkan Buwono Agung (alam semesta), Buwono Cilik (manusia), dan Buwono Tengahan (keraton).

"Untuk berdoa Sinuhun, dan pelayan khusus sampai yang paling atas," ucapnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.