cendana ntt yang kini kian langka serta upaya konservasi untuk kelestarian masa depan - News | Good News From Indonesia 2026

Cendana NTT yang Kini Kian Langka Serta Upaya Konservasi untuk Kelestarian Masa Depan

Cendana NTT yang Kini Kian Langka Serta Upaya Konservasi untuk Kelestarian Masa Depan
images info

Cendana NTT yang Kini Kian Langka Serta Upaya Konservasi untuk Kelestarian Masa Depan


Kawan GNFI, siapa yang tak mengenal pohon Cendana NTT? Harum manisnya menjadikan cendana ini bukan hanya sekadar pohon biasa dan ternyata pohon cendana ini dulu dicari oleh pedagang dari Tiongkok hingga Eropa karena aroma ikonik dan khasnya yang bernilai ekonomi tinggi.

Identitas, sejarah, dan aroma yang melegenda dari pohon cendana dikenal sebagai ‘emas hijau’ dan menjadi tanaman ikonik yang melambungkan nama NTT di kancah internasional sejak abad ke-4.

Ingin tahu bagaimana sejarah cendana yang menjadi primadona dunia, hingga upaya konservasinya di NTT? Simak selengkapnya, ya, Kawan GNFI untuk #MakinTahuNTT.

Cendana NTT yang Menjadi Primadona Dunia

Cendana (Santalum album L.) merupakan spesies tanaman endemik NTT yang dikenal memiliki nilai ekonomi dan kualitas terbaik di dunia. Habitat cendana NTT biasa tumbuh subur di wilayah dengan curah hujan rendah dan tanah yang cenderung kering seperti di Pulau Timor, Sumba, Flores, dan Alor.

Cendana ini memiliki karakteristik yang unik sebagai tanaman semi-parasit yang meski dapat berfotosintesis, tapi membutuhkan inang untuk menyerap unsur hara melalui sistem perakarannya. Hal inilah yang menjadikannya dalam proses budidaya lebih kompleks dibandingkan pohon lainnya.

Sejak abad ke-4, cendana ini telah membawa para pelaut dari seluruh penjuru dunia untuk mengunjungi ke tanah Timor Indonesia demi cendana hingga membuat NTT tidak dapat dilepaskan dari sejarah akan keberadaan cendana.

Menurut kepercayaan, para tetua di Timor melakukan ritual sederhana pada cendana agar pohon tersebut dapat tumbuh subur dan semakin harum yang menjadikan aromanya sebagai isyarat akan hubungan harmonis antara manusia dan leluhur, alam raya, serta wujud tertinggi yang diyakini sebagai penyubur lahan dan penghalau bala.

Bahkan cendana pun diyakini sebagai pohon keramat yang berati ‘hau meni’ atau ‘sang gadis sumber keharuman’ yang membuatnya dijaga di tanah Timor dan apabila ada yang merusak diyakini akan mengalami musibah, tertimpa kesialan, hingga menemui ajal.

Pohon cendana (Santalum album L.) yang tumbuh subur di NTT | Foto: Wikimedia Commons/Yanti Mesak
info gambar

Pohon cendana (Santalum album L.) yang tumbuh subur di NTT | Foto: Wikimedia Commons/Yanti Mesak


Kualitas tinggi cendana NTT dengan kandungan Santanol (minyak atsiri) yang sangat pekat menjadikan populasinya merosot drastis akibat eksploitasi besar-besaran pada masa kolonial era 1980-an.

Perjalanan kontrol kekuasaan dalam pengelolaan cendana ini membuatnya kini cukup memprihatinkan statusnya di alam bahkan masuk dalam Daftar Merah IUCN kategori spesies yang Vulnerable (Rentan).

Fase-fase kontrol kekuasaan cendana ini mulai dari masa pra-kolonial, di mana cendana dikelola oleh raja-raja lokal (usif) melalui sistem adat dan kepercayaan yang berkenaan dengan keseimbangan alam, tapi mulai masa kolonial cendana NTT mengalami tekanan pada sumber daya, tapi struktur lokalnya masih dihormati demi kelancaran upeti.

Selanjutnya, di masa orde baru menjadi puncak krisis cendana NTT karena menyatakan cendana menjadi milik negara lewat regulasi pemerintah yang ketat hingga membentuk hubungan emosional dan ekonomi masyarakat yang semakin renggang dengan cendana.

Eksploitasi yang berlebihan dan tidak diimbangi dengan upaya pelestarian yang memadai menjadikan pohon cendana ini kini mengalami penurunan drastis yang membutuhkan perlindungan serius untuk menjaga keadaannya di alam.

baca juga

Tantangan Konservasi Cendana NTT

Meski NTT identik dengan cendana, tapi kini statusnya di alam cukup memprihatinkan di mana banyak faktor yang menjadi penyebabnya, antara lain:

  •  Adanya Regulasi yang Kaku

Kebijakan pemerintah pada PERDA No.16 Tahun 1986 menyatakan bahwa cendana adalah milik pemerintah yang membuat masyarakat NTT enggan menanamnya di lahan pribadi hingga sengaja mematikan bibit cendana yang tumbuh di lahan mereka karena regulasi yang berlaku dan takut akan konsekuensi hukum hingga pajak yang tinggi membuat penanamannya kian menyusut.

  • Eksploitasi Berlebih

Penebangan liar dan pemanenan yang massif untuk kebutuhan industri seperti bahan baku minyak atsiri berkualitas tinggi (parfum), bahan dupa dan perlengkapan upacara keagamaan, hingga menjadi bahan dasar kerajinan tangan dan furniture mewah menyebabkan cendana semakin hilang di pasaran dan langka.

  • Proses Pertumbuhannya yang Lambat

Setidaknya untuk menumbuhkan kembali cendana dalam menghasilkan teras kayu (bagian dalam yang mengandung minyak) membutuhkan sekitar 20-30 tahun untuk kualitas yang maksimal, hal ini karena cendana memiliki ketergantungan pada tanaman inang dan waktu yang lama dalam pertumbuhannya membuat proses penanamannya pun menjadi tantangan besar dalam upaya restorasi populasi.

Dilansir dari Kompas.id, data menunjukkan bahwa cendana NTT mengalami penyusutan tegakan hingga 50% dalam beberapa dekade terakhir yang hingga kini hampir mustahil ditemukan di hutan alam dan hanya tersisa sedikit di pekarangan warga.

Meskipun kini populasinya kian langka, tapi cendana NTT tetap diakui sebagai cendana dengan kualitas terbaik di dunia yang memiliki nilai kadar minyak atsiri tinggi sekitar 5-7%.

baca juga

Upaya Konservasi dan Masa Depan Cendana NTT

Kini sebagai upaya konservasi menjaga keberadaan cendana untuk tetap hadir di masa depan yakni dengan berbagai strategi seperti reboisasi, pencabutan monopoli dengan penyederhanaan izin tata niaga, manajemen penebangan, hingga pendekatan kepada masyarakat dengan pembagian bibit gratis karena potensi ekonominya juga yang fokus pada pemberdayaan.

Cendana NTT melalui proses dan tantangannya yang besar, untuk itu keadilan akses dan manfaat ekonomi menjadi kunci keberhasilan pelestarian cendana di masa kini. Peran masyarakat pun menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan cendana di NTT.

Upaya konservasi dan keberlanjutan budidaya menjadikan ‘emas hijau’ NTT ini perlu keseimbangan antara perlindungan habitat dan teknik budidaya dengan melibatkan masyarakat lokal secara aktif. Dengan upaya tersebut diharapkan cendana dapat kembali ke masa kejayaan dan harum mewangi kembali di masa depan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.