Sebagai langkah awal menuju AFL Winter Peak 2025, AIESEC in UIN Jakarta mengadakan AFL Train To Coach pada 25 Oktober 2025 di D’Este Coffee & Eatery, Ciputat. Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 30 peserta yang terdiri dari coaches, member, dan newies EwA.
Train To Coach menjadi titik awal penting sebelum para coach mendampingi delegates dalam rangkaian AFL nanti. Bukan sekadar briefing teknis, sesi ini dirancang sebagai ruang penyelarasan nilai, ekspektasi, dan standar coaching agar perjalanan AFL berjalan lebih terarah dan bermakna.
Kegiatan dibuka oleh MC yang memandu sesi check-in dan mengajak peserta membagikan ekspektasi mereka terhadap Train To Coach. Suasana terasa hangat dan terbuka sejak awal, dilanjutkan dengan perkenalan tim EwA, pembacaan agenda serta penyambutan resmi coach AFL dengan penuh antusias.
Selanjutnya, Ketua Divisi EwA memaparkan latar belakang AFL, mulai dari objektif program, value proposition, hingga nilai-nilai AIESEC yang menjadi fondasi pelaksanaannya. Sesi ini menekankan bahwa coach bukan hanya pendamping teknis, tetapi juga fasilitator pertumbuhan yang berperan menjaga kualitas pengalaman belajar setiap delegate.
Tim Program kemudian memberikan gambaran menyeluruh mengenai kurikulum AFL, rangkaian Capacity Building Session, timeline kegiatan, hingga daftar speakers dan judges yang akan terlibat. Dengan pemaparan ini, para coach memiliki gambaran jelas tentang perjalanan yang akan dilalui delegates.
Tidak hanya itu, Team Leader of Quality Assurance juga menjelaskan mengenai peluang ALS (Activating Leadership Support) yang akan di-deliver dalam ekosistem AIESEC in UIN Jakarta. Hal ini menunjukkan bahwa AFL terintegrasi dengan sistem pengembangan kepemimpinan yang lebih luas, bukan berdiri sendiri sebagai program terpisah.
Pada sesi Coaching System: The Role of Coach, Team Leader of Quality Assurance menjelaskan peran coach secara lebih mendalam, mulai dari rutinitas coaching, standar sistem, hingga tanggung jawab dalam memberikan mentorship dan feedback yang konstruktif.
Agar kesiapan tidak hanya sebatas pemahaman konsep, para coach juga diperkenalkan dengan berbagai tools yang akan digunakan. Dengan begitu, seluruh coach memiliki kesiapan teknis yang matang sebelum program berjalan.
Sesi dilanjutkan dengan tanya jawab sebagai ruang diskusi terbuka, kemudian peserta memasuki Bonding Space with PIC. Momen ini menjadi awal terbangunnya komunikasi yang lebih personal antara coach dan PIC masing-masing.
Melalui aktivitas Wall of Hope, para coach menuliskan harapan sekaligus kekhawatiran mereka selama menjalani peran di AFL. Sesi ini menjadi pengingat bahwa persiapan bukan hanya soal teknis, tetapi juga kesiapan emosional dan komitmen personal. Kegiatan kemudian ditutup dengan Call to Action berupa pengisian feedback dan initial survey, serta pengumuman sesi induction berikutnya.
Secara keseluruhan, Train To Coach memastikan bahwa para coach memahami peran dan tanggung jawab mereka, mengenal tools yang akan digunakan, serta memiliki pemahaman menyeluruh mengenai kurikulum AFL dan peran ALS. Dengan fondasi yang jelas, AFL Winter Peak 2025 siap dijalankan dengan standar yang terarah.
Salah satu member EwA, Fadia, menyampaikan bahwa Train To Coach menjadi benchmark awal yang berkesan dalam rangkaian AFL Winter Peak. Ia merasa sesi ini membuka ruang networking dengan para coach sekaligus memberikan pemahaman mendalam mengenai AFL melalui diskusi yang interaktif dan games yang menyegarkan.
“Proses pengembangan diri di bidang leadership jadi terasa lebih menyenangkan dan tidak kaku,” ujarnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Syifa, salah satu coach sekaligus alumni AIESEC. Ia mengungkapkan bahwa seluruh tools telah dipersiapkan dengan rapi sehingga memudahkan proses pendampingan kepada delegates.
Menurutnya, peran sebagai coach tidak hanya melatih leadership dan communication skills, tetapi juga membantu dalam menentukan prioritas serta manajemen waktu secara lebih efektif.
Melalui Train To Coach, AIESEC in UIN Jakarta menunjukkan bahwa kualitas sebuah program dimulai dari kesiapan para penggeraknya. Jika AFL adalah ruang bertumbuh bagi para delegates, maka Train To Coach adalah fondasi yang memastikan ruang tersebut siap memberikan pengalaman kepemimpinan yang berdampak.
Penulis: Reva Alifia Sitorus
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


