Kita sering mendengar pepatah "gantungkan cita-citamu setinggi langit." Namun, bagi Petrus Jantoro, langit bukan sekadar kiasan, langit itulah kantor barunya.
Berangkat dari kesunyian Dusun Sidas Daya dengan bayang-bayang keterbatasan infrastruktur, pemuda Dayak ini mengubah gubuk reot tempatnya berjuang mencari sinyal saat pandemi menjadi batu loncatan menuju karier gemilang di industri penerbangan nasional.
Kisahnya bukan sekadar tentang kesuksesan individu yang meraih predikat cumlaude atau jabatan manajer di usia 19 tahun, melainkan menjadi penyambung lidah bagi mereka yang suaranya masih teredam di balik rimbunnya hutan Kalimantan Barat.
Petrus Jantoro, seorang pemuda asal Dusun Sidas Daya, Desa Keranji Mancal, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, lahir pada 18 April 2005.
Sebagai putra daerah, ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya, almarhum Matius Jemen, dan ibunya, M. Atit B., mengandalkan pekerjaan sebagai petani dengan penoreh getah karet untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Lingkungan pedesaan yang terpencil membentuk karakter Petrus sejak kecil, di mana akses terhadap fasilitas dasar seperti kesehatan dan pendidikan sering menjadi tantangan utama bagi masyarakat setempat.
Dalam kesehariannya, Petrus tidak hanya fokus pada pekerjaan sebagai Customer Service Officer (CSO) di Supadio International Airport, Pontianak. Ia juga aktif menggunakan media sosial untuk menyuarakan isu-isu yang dihadapi masyarakat pedalaman Kalimantan Barat.
Melalui postingan dan cerita pribadi, Petrus Jantoro menyoroti kekurangan infrastruktur, seperti jalan raya yang belum optimal, serta kebutuhan akan layanan kesehatan dan pendidikan yang lebih merata.
Pendekatannya langsung: ia datang ke lokasi, melihat kondisi, dan merasakan sendiri realitas yang dialami warga. Hal ini membuat suaranya autentik dan relatable bagi banyak orang di wilayah terpencil.
Pengalaman pribadi Petrus selama pandemi COVID-19 menjadi salah satu cerita yang menggambarkan ketangguhannya.
Saat itu, ia harus belajar daring dari sebuah bukit jauh dari kampung halaman. Bermodalkan gubuk tua beratap daun dan berdinding kulit kayu tengkawang, ia menghadapi berbagai rintangan.
Pernah, seekor ular masuk ke gubuk saat ia sedang belajar, menyebabkan kepanikan dan kerusakan struktur sederhana itu.
Hujan lebat sering membuat buku-bukunya basah, sementara sinyal internet yang lemah memerlukan waktu hingga 30 menit hanya untuk mengirim satu foto laporan tugas ke guru.

Petrus Jantoro bersama Bupati Landak, dr. Karolin Margret Natasa M.H (Dok: Pertus Jantoro)
Meski demikian, ketekunannya diapresiasi oleh Bupati Landak, dr. Karolin Margret Natasa M.H. Kini, kampung asalnya telah mengalami kemajuan, dengan akses listrik dan sinyal yang lebih baik, meskipun infrastruktur jalan masih perlu perbaikan lebih lanjut.
Perjalanan Menuju Dunia Penerbangan
Setelah lulus SMA, Petrus Jantoro sempat bingung menentukan langkah selanjutnya. Keterbatasan biaya membuat impian kuliah tampak jauh. Namun, momen sederhana di ladang mengubah segalanya.
Saat membantu ibunya memanen padi sementara ayahnya sudah lemah karena sakit, ia melihat sebuah pesawat melintas di atas kepalanya. Rasa penasaran muncul: bagaimana pesawat bisa terbang?
Pertanyaan itu mendorongnya mencari informasi melalui pencarian online, hingga menemukan program diklat penerbangan di Makassar, Sulawesi Selatan.
Petrus Jantoro lolos tes masuk dan menjalani pendidikan diDirgantara Flight School. Proses ini tidak mudah, terutama ketika ayahnya meninggal dunia pada 12 Agustus 2022, tepat di tengah masa pendidikannya. Kehilangan itu menjadi ujian mental yang berat, tapi justru memperkuat tekadnya.
Petrus Jantoro lulus dengan predikat cumlaude, membuka jalan karier di bidang penerbangan. Prestasinya tidak berhenti di situ. Di usia muda, ia meraih juara 1 di kelas 10-12 SMA, serta penghargaan sebagai Service Excellence Terbaik dari Gapura Angkasa pada 2024 dan Service Terbaik dari Garuda Indonesia Pontianak.

Petrus Jantoro mendapatkan Reward terbaik dari Garuda Indonesia Pontianak dan Gapura Angkasa Servise Excellent. (Foto: Dok Petrus Jantoro)
Puncaknya, di usia 19 tahun, Petrus dipercaya sebagai Station Manager (Representative) untuk BBN Airlines. Tanggung jawab ini mencakup tidak hanya memimpin tim, tapi juga berkontribusi dalam operasional perusahaan dan mendukung kemajuan sektor penerbangan nasional.
Pengalaman ini mengajarkannya bahwa kepemimpinan sejati melibatkan kolaborasi dan dedikasi, bukan sekadar posisi.
Dari sini, ia belajar nilai service excellence: melayani bukan berarti melihat penampilan luar, melainkan memberikan yang terbaik dengan hati. Prinsip ini ia terapkan dalam kariernya, di mana setiap interaksi dengan penumpang menjadi kesempatan untuk membuat perbedaan.
Advokasi untuk Masyarakat Adat dan Pedalaman
Selain karier, Petrus Jantoro tetap konsisten dalam advokasi sosial. Kegiatan utamanya adalah menyuarakan hak-hak masyarakat, khususnya masyarakat adat, melalui media sosial pribadi.
Ia mendukung Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat, yang diharapkan memberikan jaminan hidup lebih baik bagi kelompok tersebut.
Pendekatannya praktis: bukan hanya bicara, tetapi turun langsung ke lapangan untuk memahami dan mendokumentasikan isu-isu seperti akses pendidikan dan kesehatan di daerah terpencil.
Pengaruh dari mentornya, Senator DPD/MPR RI Kalimantan Barat, Maria Goreti S.Sos., M.Si, sangat besar dalam membentuk visi ini. Beliau, dengan slogan "Baktiku untuk Bangsa dan Negeri," sering memberikan nasihat dan dorongan agar Petrus terus berkembang.

Petrus Jantoro bersama mentornya Senator DPD/MPR RI Kalimantan Barat, Maria Goreti S.Sos., M.Si (Foto: Dok. Pertus Jantoro)
Dari interaksi dengan senator ini, Petrus Jantoro belajar bagaimana menyuarakan hak masyarakat secara efektif, terutama di bidang pendidikan. Ia melihat bahwa perjuangan di tingkat nasional bisa berdampak pada daerah asalnya.
Pendapat Petrus Jantoro tentang peran anak muda dalam masyarakat juga mencerminkan pengalamannya.
Ia percaya bahwa dampak positif tidak cukup dengan teori, harus ada praktik nyata yang mendorong pengembangan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) di daerah.
Contohnya, melalui suaranya, ia mendorong perbaikan infrastruktur yang secara langsung meningkatkan kualitas hidup warga pedalaman.
Di balik pencapaiannya, Petrus Jantoro menekankan nilai-nilai sederhana, tetap rendah hati tanpa memandang jabatan, melayani bukan dilayani, dan terus semangat mengejar mimpi.
Ia percaya pada proses tumbuh, bangkit, belajar, berkembang, dan berkarya, tanpa alasan untuk tidak menjadi lebih baik. Keyakinannya pada Yang Maha Kuasa menjadi pondasi utama dalam menghadapi tantangan.
Kisah Petrus menunjukkan bagaimana latar belakang sederhana tidak menghalangi kemajuan. Dari desa pedalaman, ia terbang ke karier penerbangan sambil tetap rooted pada akar budayanya sebagai pemuda Dayak.
Pengalamannya pernah dimuat di media seperti Kompas dan Ruai TV, menginspirasi banyak orang untuk melihat potensi di tengah keterbatasan.
Melalui cerita ini, terlihat bahwa ketekunan dan empati bisa membawa perubahan, baik untuk diri sendiri maupun masyarakat sekitar. Petrus terus menjalani hidupnya dengan prinsip itu, membuktikan bahwa suara dari pedalaman bisa bergema jauh.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


