Peluncuran trailer perdana film sci-fi buatan Indonesia Pelangi di Mars telah berlangsung dalam acara konferensi pers pada Jumat (13/2).
Film garapan Mahakarya Pictures bersama MBK Production ini mengusung kisah petualangan anak Indonesia di luar angkasa dengan sentuhan teknologi visual mutakhir yang jarang digunakan dalam produksi film nasional.
Pelangi di Mars mengisahkan seorang anak asal Indonesia bernama Pelangi (Messi Gusti) yang lahir dan tumbuh di Planet Mars setelah ibunya, Pratiwi, menjalani misi koloni manusia dari bumi.
Dalam perjalanannya, Pelangi bersama lima robot sahabatnya: Batik (Bimo Kusumo), Kimchi (Vanya Rivani), Sulil (Dimitri Aditya), Petya (Gilang Dirga), dan Yoman (Kristo Immanuel), berusaha menemukan mineral ajaib yang dapat memurnikan air di bumi yang telah tercemar.

Para awak media diajak menyaksikan perjalanan panjang terciptanya film ini, yang ternyata pertama kali tercetus idenya pada 2020 melalui diskusi sederhana antara sutradara Upie Guava dan produser Dendi Reynado.
Dari percakapan tersebut, gagasan besar tentang anak Indonesia yang lahir di Mars dan menjadi bagian penting dalam penyelamatan bumi perlahan berkembang menjadi proyek film ambisius.
Perjalanan produksi kemudian berlanjut melewati berbagai tahapan menantang, mulai dari pengembangan naskah, eksplorasi teknologi visual, hingga proses rekaman suara oleh para voice actor. Film ini memanfaatkan kombinasi teknologi Extended Reality (XR), motion capture, serta animasi digital untuk menciptakan dunia Mars yang imersif.
Ketua PFN Riefan Fajarsyah yang juga hadir menilai proyek ini menjadi langkah penting bagi perkembangan industri kreatif nasional. Ia menyebut bahwa karya seperti ini memiliki peran strategis dalam mendorong inovasi dan imajinasi.
Cerita Ide ‘Pelangi di Mars’ oleh Sang Sutradara
Sutradara Upie Guava mengawali sesi presentasi dengan cerita inspiratif tentang motivasinya menciptakan film ini. Ia ingin menghadirkan kembali ruang bagi anak-anak Indonesia untuk bermimpi besar.
“Jadi gue tuh sebenarnya dari dulu kayak banget ngembalikan mimpi anak-anak gitu ya. Seperti jaman kita kecil nih, mimpi jadi saintis, jadi astronot, jadi penjelajah. Dan sebenarnya bagian dari proses sebuah bangsa untuk menjadi besar itu dimulai dari mimpi anak-anaknya,” ujarnya.

Sutradara Upie Guava dan Produser Dendi Reynado cerita perjalanan pembuatan film
Sejak awal, Upie telah membayangkan Indonesia sebagai bagian penting dalam cerita global, bahkan menjadi tokoh sentral dalam penyelamatan bumi. Namun, ia mengakui belum mengetahui bagaimana cara mewujudkan visinya secara teknis.
Proses produksi pun dimulai dari riset berbagai teknologi visual, hingga akhirnya diputuskan untuk menggunakan pendekatan hybrid yang menggabungkan Extended Reality, motion capture, dan animasi digital.
“Jadi bisa dibilang teknologi hybrid lah. Karena belum ada benchmark-nya, kita harus ‘lebas hutan’. Kita ngelakuin semuanya dari nol, siapin infrastrukturnya, dan bangun sistemnya sendiri,” jelasnya.
Baginya, film ini bukan sekadar proyek kreatif, tetapi juga perwujudan semangat masa kecil yang percaya bahwa dunia adalah tempat yang penuh kemungkinan.
“Karena saya percaya kisah yang besar itu muncul dari mimpinya anak-anak. Kalau sejak kecil mereka percaya bisa melakukan sesuatu yang besar, itu akan mereka bawa sampai dewasa,” tambahnya.
Saat Ruang Produksi Film Jadi Tempat Tumbuhnya Mimpi dan Semangat
Produser Dendi Reynado mengungkapkan bahwa keputusannya untuk memproduksi film ini berangkat dari keyakinan bahwa cerita memiliki kekuatan membentuk peradaban.
“Saya percaya bahwa peradaban itu dibentuk oleh cerita. Cerita yang kita dengar dan kita ciptakan akan membentuk cara kita melihat masa depan,” ujarnya.

Para kreator film dan cast berbincang tentang 'Pelangi di Mars'
Ketika Upie menyampaikan idenya tentang anak Indonesia yang lahir di Mars dan menjadi bagian penting dalam penyelamatan bumi, Dendi langsung tertarik untuk mewujudkannya.
“Dia bilang membayangkan ada anak Indonesia lahir di Mars. Saya langsung bilang, saya suka,” katanya.
Proses produksi kemudian berkembang menjadi gerakan kolektif yang melibatkan banyak kreator dengan semangat yang sama. Upie menyebut sebagian besar tim yang terlibat memiliki motivasi untuk membuktikan kemampuan industri kreatif Indonesia.
“Bisa dibilang mungkin 90 persen pihak yang terlibat motivasinya adalah membuktikan bahwa kita bisa. Ini sudah bukan lagi soal transaksi proyek, tapi soal keyakinan bahwa kita mampu menciptakan sesuatu yang besar,” ujarnya.
Proses Penulisan dan Teknis Produksi yang Menantang
Penulis naskah Alim Sudio mengaku sempat meragukan apakah ide ambisius tersebut dapat diwujudkan. Ia menyadari tantangan besar dari sisi produksi maupun teknologi.
“Saya ngerasa untuk wujudin ini gak gampang. Mimpi seperti ini sudah banyak orang punya, tapi tidak semuanya bisa terwujud,” ungkapnya.
Namun, keraguannya perlahan berubah menjadi keyakinan ketika melihat konsistensi Upie dalam mengembangkan konsep film.
“Tapi setiap kali saya ketemu, dia selalu punya progres. Saya jadi merasa masuk ke dalam impian itu, dan mulai percaya bahwa suatu saat Indonesia bisa menjadi bagian penting dalam cerita besar dunia,” katanya.
Selain tantangan kreatif, tim produksi juga harus mempelajari berbagai teknologi visual yang belum umum digunakan di industri film nasional. Proses ini membuat produksi memerlukan waktu lebih panjang, namun sekaligus membuka jalan baru bagi perkembangan teknologi perfilman Indonesia.
Para Cast dan Perjalanan Menghidupkan Dunia ‘Pelangi di Mars’

Para cast film 'Pelangi di Mars' pasca wawancara bersama awak media
Para pengisi suara juga berbagi pengalaman unik selama proses produksi. Dimitri Aditya, yang memerankan robot Sulil dari koloni India, mengaku harus mempelajari berbagai referensi untuk memahami karakter tersebut.
“Saya sampai binge-watch banyak film India untuk memahami karakter dan logatnya,” ujarnya.
Sementara itu, Gilang Dirga yang mengisi suara robot Petya dari Rusia mengaku bangga dapat menjadi bagian dari film ini.
“Menurut saya ini pencapaian yang luar biasa. Film ini seperti mewujudkan mimpi masa kecil kita, tentang Indonesia yang bisa menjadi bagian penting dalam masa depan dunia,” katanya.
Bimo Kusumo, pengisi suara robot Batik, juga berharap film ini dapat membuka peluang lebih luas bagi profesi voice actor di Indonesia.
“Mudah-mudahan film ini bukan hanya jadi karya, tapi juga membuka kesempatan bagi voice actor Indonesia untuk berkembang dan dikenal lebih luas,” ujarnya.
Di sisi lain, Kristo Immanuel yang memerankan robot Yoman mengaku sudah lama mendengar tentang proyek ini dan merasa antusias ketika akhirnya terlibat langsung.
“Saya sudah dengar proyek ini cukup lama, jadi ketika diajak bergabung, rasanya senang banget bisa menjadi bagian dari cerita besar ini,” katanya.
Sebagai pemeran utama, Messi Gusti berharap film ini dapat menjadi pengalaman menyenangkan bagi anak-anak dan keluarga Indonesia.
“Film ini cocok ditonton bersama keluarga, apalagi saat momen Lebaran. Semoga bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan untuk semua,” ujarnya.
Film Pelangi di Mars dijadwalkan tayang sekitar pertengahan Maret 2026, bertepatan dengan momen libur Lebaran. Kehadirannya diharapkan menjadi tontonan keluarga yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi generasi muda Indonesia untuk berani bermimpi besar.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


