Bicara soal Yogyakarta, terutama di area pusat kota, Malioboro biasanya akan jadi lokasi paling familiar. Maklum, di seputaran area ini, terdapat beragam bangunan bersejarah, tempat belanja oleh-oleh khas Jogja, dan spot foto estetik yang sudah terkenal.
Uniknya, di kawasan Malioboro ini, terdapat juga satu lokasi, yang merekam jejak akulturasi lintas budaya di Yogyakarta, yakni Kampung Ketandan. Wilayah ini sudah eksis sejak awal tahun 1800-an, dan turut menjadi saksi perjalanan panjang Yogyakarta sejak era kolonial.
Pada masa awalnya, kampung yang berdekatan dengan Pasar Beringharjo ini cukup berkembang di bawah pimpinan Tan Jin Sing (KRT Secodiningrat). Sosok yang namanya diabadikan menjadi nama jalan (Secodiningratan) di depan Gereja Kidul Loji (kawasan Titik Nol Kota Yogyakarta) ini bahkan pernah menjadi Bupati di Yogyakarta pada tahun 1803-1813.
Di era kolonial, kebijakan pembatasan wilayah (wijkstelsel) dari pemerintah kolonial Belanda, membuat keberadaan komunitas etnis Tionghoa di Indonesia (termasuk di Yogyakarta) cenderung terpusat di satu wilayah. Inilah yang membuat banyak kota di Indonesia, khususnya kota besar, mempunyai kawasan pecinan (atau chinatown dalam bahasa Inggris) yang cenderung terpusat di satu wilayah spesifik.
Meski begitu, dari sinilah ruang akulturasi budaya Jawa-Tionghoa justru terbuka lebar. Di Yogyakarta, satu contoh paling populer dari akulturasi lintas budaya ini, hadir lewat bakpia. Kuliner Tiongkok yang aslinya berupa kue isi daging, lalu dimodifikasi menjadi bakpia (dengan berbagai macam jenis isian) seperti yang kita kenal sekarang.
Di Yogyakarta sendiri, lokasi awal sentra produksi bakpia berada di daerah Pathuk, yang lokasinya cukup berdekatan dengan Kampung Ketandan.
Dari segi toponimi alias penamaan, mengutip Colombijn et.al (2005) Kampung Ketandan juga menandai ciri khas penamaan wilayah di Kota Yogyakarta pada masa lalu, yang wilayahnya terbagi menjadi kawasan Jeron Beteng (Dalam Benteng) dan Jaba Beteng (Luar Benteng).
Sebagai informasi, benteng yang dimaksud di sini adalah kawasan tembok pembatas, yang berada di sekeliling kawasan Istana atau Keraton Yogyakarta. Dikenal juga dengan nama Baluwarti (kosakata bahasa Jawa, diserap dari kosakata bahasa Portugis baluarte) yang berarti tembok pertahanan.
Di Yogyakarta sendiri, kawasan Baluwarti giat direvitalisasi, khususnya sejak Sumbu Filosofi Yogyakarta resmi ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO tahun 2023.
Secara teknis, Sumbu Filosofi adalah desain struktur tata kota paling awal di Yogyakarta (sejak abad ke 18). Wilayahnya meliputi area Tugu-Keraton-Panggung Krapyak, dengan Kampung Ketandan termasuk didalamnya.
Kawasan Jeron Beteng menjadi tempat tinggal raja, sebagian kerabat keraton, dan abdi dalem. Sebagai contoh, Kampung Nagan, yang menjadi tempat tinggal abdi dalem penabuh gamelan, dan Kampung Gamelan, yang menjadi tempat tinggal abdi dalem pengurus kuda keraton (berasal dari kata gamel, yang berarti pengurus kuda).
Kawasan Jaba Beteng menjadi tempat tinggal hamba istana dari kalangan profesional, dan sebagian kerabat keraton. Kampung Ketandan sendiri termasuk dalam kawasan ini, karena menjadi tempat tinggal petugas pemungut pajak yang (pada masa kolonial) umumnya berasal dari kalangan etnis Tionghoa.
Secara toponimi, nama Ketandan sendiri berasal dari kata tanda. Dalam bahasa Jawa, kata ini mengacu pada aktivitas pemungut pajak. Di era kekinian, Kampung Ketandan bertransformasi sebagai kawasan pecinan di Yogyakarta.
Menariknya, Kampung Ketandan, dengan segala dinamika di dalamnya, juga ikut merekam perjalanan kota Yogyakarta, sebagai sebuah kota yang terus bertransformasi. Dari Kota Tradisional (pusat kerajaan dan budaya Jawa klasik) di era kolonial, menjadi Kota Nasional (bahkan sempat menjadi ibukota Indonesia) di era kemerdekaan, dan meniti jalan menjadi Kota Internasional di era digital, dengan pengakuan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sebagai satu momentumnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

