runtah jadi berkah edukasi pengolahan sampah organik melalui komposting takakura dan budidaya lalat bsf oleh mahasiswa ipb - News | Good News From Indonesia 2026

Runtah Jadi Berkah: Edukasi Pengolahan Sampah Organik melalui Komposting Takakura dan Budidaya Lalat BSF oleh Mahasiswa IPB

Runtah Jadi Berkah: Edukasi Pengolahan Sampah Organik melalui Komposting Takakura dan Budidaya Lalat BSF oleh Mahasiswa IPB
images info

Runtah Jadi Berkah: Edukasi Pengolahan Sampah Organik melalui Komposting Takakura dan Budidaya Lalat BSF oleh Mahasiswa IPB


Pengelolaan sampah rumah tangga masih menjadi tantangan di beberapa wilayah pedesaan, terutama terkait limbah organik yang kerap menimbulkan bau, menjadi sarang hama, serta berpotensi mencemari lingkungan. Upaya edukasi yang berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus memberikan solusi praktis yang mudah diterapkan.

Menjawab kebutuhan tersebut, Kelompok Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang bertugas di Desa Pasireurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Runtah Jadi Berkah” pada Senin, 26 Januari 2026, bertempat di saung pojok baca milik desa.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada peningkatan kapasitas warga dalam menghadapi persoalan limbah organik, melalui pendekatan ramah lingkungan dan bernilai ekonomis. Dalam pelaksanaannya, tim KKNT IPB mengadakan diskusi interaktif bersama warga sebagai sarana bertukar pengalaman sekaligus menyampaikan materi edukatif melalui pamflet dan salindia yang telah disiapkan.

Pamflet tersebut memuat informasi mengenai dua metode pengolahan limbah organik yang relatif mudah diaplikasikan oleh masyarakat umum, yaitu komposting Takakura dan budidaya lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot.

Komposting Takakura merupakan teknik pengomposan skala rumah tangga yang memanfaatkan keranjang berongga dan aktivitas mikroorganisme untuk mempercepat proses dekomposisi sekaligus mengurangi bau. Sementara itu, maggot BSF dikenal efektif mengurai sampah organik tanpa menghasilkan aroma menyengat serta memiliki nilai tambah sebagai pakan ternak karena kandungan protein (40–45%) dan lemak (30–35%) yang tinggi.

Secara teknis, pembuatan kompos dengan metode Takakura diawali dengan menyiapkan alat dan bahan seperti sekop atau cangkul, keranjang berongga, kain hitam berpori, kardus, sekam padi, kompos jadi, serta larutan EM4 sebagai aktivator mikroba. Sampah organik yang telah diperkecil ukurannya kemudian dicampur dengan EM4 sebelum dimasukkan ke dalam keranjang yang telah dilapisi kardus.

Penyusunan bahan dilakukan berlapis, dimulai dari sekam padi sebagai lapisan dasar, kompos jadi, sampah organik, dan kembali ditutup sekam padi. Kondisi bahan perlu dijaga agar tidak terlalu basah maupun terlalu kering; penambahan daun kering dianjurkan apabila muncul bau tidak sedap. Terakhir, keranjang ditutup menggunakan kain hitam dan penutup plastik guna menjaga suhu serta kelembapan optimal bagi proses penguraian.

Selain komposting, peserta juga diperkenalkan pada tahapan budidaya lalat BSF yang meliputi fase telur, fase maggot, hingga fase lalat dewasa. Pada fase telur (4–7 hari), media penetasan dibuat dari dedak yang dilembapkan tanpa hingga menetes air.

Setelah menetas, larva dipindahkan ke wadah pembesaran dan diberi pakan sampah organik secara rutin. Umur pembesaran bergantung pada tujuan budidaya; untuk pengolahan sampah biasanya berlangsung sekitar 18–20 hari, sedangkan untuk pakan ternak maggot dapat dipanen pada usia 14–15 hari sebelum dijemur hingga kering.

Setelah fase maggot, serangga memasuki fase pupa sebelum berubah menjadi lalat dewasa yang akan bertelur pada media seperti balok kayu. Menariknya, lalat BSF tidak mengganggu makanan manusia dan tidak dikenal sebagai penyebar penyakit, sehingga relatif aman dibudidayakan di lingkungan permukiman.

Tak hanya penyampaian materi secara teoritis, kegiatan ini juga mencakup demonstrasi langsung pembuatan komposting Takakura serta pengenalan larva BSF beserta media budidayanya. Peserta diajak mengamati setiap tahapan, mulai dari pemasangan bantal sekam padi hingga penutupan keranjang, sehingga mereka dapat memahami prosesnya secara komprehensif dan lebih percaya diri untuk mempraktikkannya secara mandiri.

Tim KKN juga membagikan lembar panduan sederhana yang dilengkapi ilustrasi agar dapat dijadikan rujukan ketika masyarakat mencoba menerapkan metode tersebut di rumah sekaligus membagikan pengetahuan kepada warga lainnya.

“Melalui program Runtah Jadi Berkah, kami berharap masyarakat di Desa Pasireurih dapat mulai menerapkan teknik pengolahan yang lebih baik, lebih berkelanjutan, dan tentunya ramah lingkungan,” ujar Abdun, Koordinator Desa dari Tim KKNT IPB Pasireurih. Ia menambahkan bahwa keberlanjutan pengelolaan sampah sangat bergantung pada upaya kolektif dalam menjaga lingkungan serta meminimalisir kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Hal yang sama disampaikan oleh Bapak Irawan, Ketua Dusun 4 Desa Pasireurih, yang menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, materi yang diberikan sangat relevan dengan kondisi masyarakat. “Kami berterima kasih atas program ini. Ilmu yang diberikan sangat membantu, terutama dalam mengurangi limbah organik yang menjadi kendala kami,” ujarnya setelah sesi demonstrasi.

Program Runtah Jadi Berkah menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa IPB dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Melalui pendekatan yang edukatif, praktis, dan mudah diterapkan, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola limbah sekaligus membuka peluang ekonomi dari hasil pengolahan sampah.

Diharapkan ke depannya semakin banyak masyarakat yang mampu mengolah sampah organik melalui komposting Takakura serta mulai membudidayakan lalat BSF sebagai alternatif pengolahan yang aman, murah, dan berdaya guna tinggi untuk mengurangi timbulan sampah, meningkatkan nilai tambah limbah, serta menciptakan lingkungan desa yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KB
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.