Kota Lama Semarang punya cara menraik dalam memanggil orang untuk belajar sejarah. Lorong-lorongnya menyimpan cerita, bukan sekadar bangunan.
Di antara fasad tua dan kanal sunyi, Kawan akan segera melihat Gedung Marba berdiri mencolok. Dinding bata merahnya seperti menyimpan ingatan panjang kolonialisme, perdagangan, dan peralihan zaman. Ia bukan sekadar objek wisata. Ia adalah arsip hidup yang masih bernapas.
Kota Lama sebagai Panggung Sejarah
Kota Lama Semarang dibentuk dengan logika kota-kota Eropa. Polanya memusat dan simetris. Gereja, kantor, dan ruang publik menjadi poros kehidupan.
M Sahid Indraswara dalam Kajian Konservasi Gedung Marba (2010) menjelaskan struktur kawasan ini mengikuti estetika urban Eropa klasik. Kota ini pernah disebut Kota Benteng. Ia lahir dari kepentingan dagang dan kontrol kolonial.
Sejak abad ke-18, kawasan ini menjadi pusat administrasi dan perdagangan. VOC membangun benteng di tepi Kali Semarang.
Dari sini, sistem pertahanan dan logistik dikendalikan. De Locomotief menulis laporan pembangunan kota ini, 4 Maret 1902. Kota Lama menjadi simpul ekonomi dan kekuasaan kolonial.
Di jantung kawasan itu berdiri Gereja Blenduk dan Taman Srigunting. Keduanya menjadi orientasi visual kota. Di hadapannya, Gedung Marba hadir sebagai penanda memori kolektif. Warna merahnya memecah dominasi putih bangunan kolonial. Ia seperti suara berbeda di tengah paduan suara sejarah.
Dari Toko Zikel ke Gedung Marba
Gedung ini dibangun tahun 1904. Pemilik awalnya adalah Jolink Barend. Bataviaasch Nieuwsblad, 22 Maret 1904, mencatat peralihan kepemilikan ke firma Zikel en Co. Carl Zikel membeli bangunan itu seharga 3.000 gulden. Ia merombaknya menjadi dua lantai. Gedung ini lalu dikenal sebagai Toko Zikel.
De Locomotief, 7 Desember 1906, melaporkan ekspansi bisnis Carl Zikel di Bandung, Batavia, dan Semarang. Modal usahanya mencapai 300.000 gulden. Toko Zikel menjual barang rumah tangga, mainan anak, hingga teknologi modern.
Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 1 Desember 1927, menulis toko ini sebagai simbol kemajuan zaman. Kamera, optik, dan peralatan sinematografi dijual bebas.
Namun krisis ekonomi global 1930-an mengubah segalanya. Krisis malaise menghantam Hindia Belanda. Bisnis Zikel runtuh perlahan. Toko ditutup. Gedung dijual. De Locomotief mencatat obral besar-besaran sebelum kebangkrutan, 1932. Gedung itu lalu dibeli saudagar Yaman, Marta Badjunet.
Dari sinilah nama Marba lahir. Nama itu adalah akronim Marta Badjunet. Gedung ini berubah fungsi. Ia menjadi kantor pelayaran dan ekspedisi laut. Identitasnya bergeser dari ruang konsumsi menjadi ruang distribusi. Sejarah ekonomi dan migrasi bertemu dalam satu bangunan.
Arsitektur, Identitas, dan Ingatan Kota
Secara visual, Gedung Marba tampil simetris dan tegas. Indraswara (2010) menyebut garis vertikal dan horizontalnya sangat dominan.
Bukaan jendela, lis beton, dan garis langit bangunan membentuk ritme visual. Bata merah tanpa plester menjadi ciri utama. Lis putih memberi aksen neoklasik yang lembut.
Secara gaya, bangunan ini berada dalam fase transisi. Gordon Cullen dalam Townscape (1961) menjelaskan pentingnya detail visual dalam membaca karakter kota.
Gedung Marba menggabungkan neoklasik Eropa dan arsitektur tropis Hindia Belanda. Material bata, kayu, dan besi tuang menjadi ciri khas. Adaptasi iklim terlihat jelas pada ventilasi dan bukaan.
Marba bukan artefak mati. Ia adalah teks sosial. Ia mencerminkan perubahan politik, ekonomi, dan budaya. Dari kolonialisme, kapitalisme dagang, hingga nasionalisasi pascakemerdekaan. Setelah 1945, kawasan ini diambil alih negara. Kota Lama sempat terbengkalai. Ia lalu direvitalisasi perlahan sejak 2007.
Kini, Gedung Marba berdiri sebagai ikon wisata sejarah. Ia sering menjadi latar foto, bukan latar refleksi. Padahal, ia menyimpan narasi panjang tentang relasi kuasa, perdagangan global, dan migrasi. Ia adalah pengingat bahwa kota bukan hanya ruang fisik. Kota adalah ingatan kolektif.
Mengunjungi Gedung Marba berarti membaca ulang sejarah dengan cara santai. Tidak dengan museum formal, tetapi lewat jalan kaki dan tatapan. Bata merahnya berbicara tanpa suara. Ia mengajarkan bahwa bangunan tua bukan beban masa lalu. Ia adalah guru yang sabar.
Kota Lama Semarang sedang berbenah. Revitalisasi terus berjalan. Gedung-gedung lama berubah fungsi. Kafe, galeri, dan ruang publik bermunculan. Gedung Marba tetap berdiri tenang. Ia tidak perlu berisik. Ia sudah cukup bicara lewat sejarahnya.
Gedung Marba bukan sekadar objek wisata. Ia adalah cermin peradaban, mengajarkan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berubah bentuk. Dan di Kota Lama Semarang, sejarah itu masih bisa disentuh, dilihat, dan dirasakan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


