taman nasional wasur merauke pesona biodieversitas yang menghubungkan dua benua - News | Good News From Indonesia 2026

Taman Nasional Wasur Merauke, Pesona Biodieversitas yang Menghubungkan Dua Benua

Taman Nasional Wasur Merauke, Pesona Biodieversitas yang Menghubungkan Dua Benua
images info

Taman Nasional Wasur Merauke, Pesona Biodieversitas yang Menghubungkan Dua Benua


Taman Nasional Wasur merupakan permata konservasi yang terletak di bagian tenggara Provinsi Papua Selatan, tepatnya di Kabupaten Merauke.

Meliputi area seluas 413.810 hektare, kawasan ini menyandang julukan Serengeti Papua karena kemiripan lanskapnya dengan padang sabana di Afrika. Dominasi lahan basah dan padang rumput yang luas menjadikannya salah satu ekosistem paling unik di Asia, di mana siklus air sangat memengaruhi denyut kehidupan di dalamnya.

Sekilas Mengenai Taman Nasional Wasur

Status perlindungan kawasan ini bermula dari Suaka Margasatwa Wasur dan Cagar Alam Rawa Biru yang kemudian digabungkan menjadi taman nasional pada tahun 1990.

Karena signifikansi global ekosistem lahan basahnya, Wasur ditetapkan sebagai Situs Ramsar pada tahun 2006. Nama Wasur sendiri diambil dari kata Waisol dalam bahasa Marori yang berarti kebun, mencerminkan kedekatan masyarakat adat dengan tanah tersebut.

Lanskap Wasur terdiri dari 70% sabana, sementara sisanya merupakan perpaduan antara hutan monsun, hutan rawa, hutan pantai, hingga hutan sagu dan bambu. Vegetasi yang mendominasi kawasan ini meliputi kayu putih (Melaleuca), tancang, api-api, dan ketapang. Uniknya, taman nasional ini juga berfungsi sebagai pusat konservasi eksitu bagi berbagai jenis mangga asli Indonesia.

Secara ekologis, Wasur merupakan bagian dari lahan basah terbesar di Papua Selatan yang berfungsi sebagai benteng perlindungan bagi keanekaragaman hayati tingkat tinggi.

Pada musim hujan, area ini tergenang air selama empat hingga enam bulan, menciptakan habitat yang sangat produktif bagi berbagai spesies air. Sebaliknya, saat musim kemarau, air surut melalui parit-parit alami menuju laut, menyisakan rawa-rawa yang menjadi pusat aktivitas satwa liar.

 

Kekayaan Biodiversitas dan Fenomena Burung Migran

Kawasan ini tidak hanya menjadi paru-paru dunia, tetapi juga rumah bagi empat suku asli, yaitu Suku Kanume, Yeinan, Marori Mengey, dan Marind. Keberadaan masyarakat adat yang menjaga hak ulayat hutan adat memastikan kelestarian alam Wasur tetap sinkron dengan kearifan lokal selama berabad-abad.

Wasor dijuluki sebagai kerajaan burung karena menjadi rumah bagi sekitar 403 spesies burung, di mana 74 di antaranya adalah endemik Papua.

Daya tarik utama bagi para peneliti dan wisatawan mancanegara adalah fenomena migrasi burung dari Australia dan Selandia Baru yang terjadi setiap tahun antara bulan Agustus hingga November. Burung-burung seperti undan kacamata (pelikan), ibis, dan angsa murai singgah di Rawa Biru dan Pantai Ndalir untuk beristirahat dan mencari makan.

Selain burung, fauna mamalia di sini sangat beragam dengan adanya kanguru pohon, walabi, dan kancil. Di perairan tawarnya, terdapat sekitar 34 jenis ikan yang hidup berdampingan dengan predator puncak seperti buaya air tawar dan buaya air asin.

Keberadaan satwa langka seperti cendrawasih kuning besar dan kasuari gelambir semakin menguatkan status Wasur sebagai surga biodiversitas di tanah Papua.

 

Aksesibilitas dan Pemanfaatan Tradisional

Meskipun berada di ujung timur Indonesia, akses menuju Taman Nasional Wasur tergolong cukup mudah.

Dari pusat Kota Merauke, Kawan hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit hingga satu jam berkendara menggunakan kendaraan roda empat menyusuri jalan Trans-Irian. Perjalanan menuju lokasi memberikan sensasi petualangan melintasi hutan yang masih sangat asri dan terjaga.

Masyarakat adat di dalam kawasan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan, salah satunya melalui penyulingan minyak kayu putih. Aktivitas ekonomi ini didorong oleh Balai Taman Nasional sebagai bentuk kemitraan konservasi agar masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi tanpa merusak ekosistem.

Selain itu, kegiatan birdwatching (pengamatan burung) di sekitar Rawa Biru kini menjadi magnet ekowisata yang mulai dikelola secara profesional oleh warga kampung setempat.

 

Ayo Lihat Langsung Keasrian Taman Nasional Wasur!

Menyaksikan ribuan burung migran yang menutupi permukaan rawa atau melihat walabi melompat di tengah sabana adalah pengalaman yang hanya bisa Kawan temukan di Wasur.

Selalu ingat untuk menghormati adat istiadat setempat dan tidak meninggalkan sampah di kawasan konservasi agar keindahan timur Indonesia ini tetap lestari.

Jadi, kapan Kawan berencana menginjakkan kaki di tanah datar Merauke untuk menjelajahi Taman Nasional Wasur?

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.