pohon ek pohon langka penjaga orangutan di tapanuli - News | Good News From Indonesia 2026

Pohon Ek, Pohon Langka Penjaga Orangutan di Tapanuli

Pohon Ek, Pohon Langka Penjaga Orangutan di Tapanuli
images info

Pohon Ek, Pohon Langka Penjaga Orangutan di Tapanuli


Pohon oak atau ek dikenal sebagai salah satu jenis pohon tua yang diperkirakan telah tumbuh sejak sekitar 65 juta tahun lalu di kawasan Amerika dan Eropa. Dalam klasifikasi ilmiah, oak termasuk dalam genus Quercus, yang memiliki sekitar 500 spesies tersebar di berbagai belahan dunia. Salah satu spesies yang paling dikenal adalah Quercus robur. 

Di Indonesia, istilah “ek” berasal dari bahasa Belanda “eik”. Pohon ini umumnya tumbuh di wilayah beriklim sedang hingga sejuk di belahan bumi utara dan dikenal luas sebagai tanaman peneduh di taman maupun di tepi jalan karena tajuknya yang lebat dan cabangnya yang banyak.

Selain fungsi ekologisnya, oak juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Kayunya yang keras dan kuat menjadikannya bahan baku utama dalam industri mebel dan konstruksi. Banyak produk rumah tangga seperti lantai kayu, kabinet, balok bangunan, hingga kayu bakar menggunakan bahan dari oak karena daya tahannya yang baik.

Struktur Kayu Padat

Secara morfologi, pohon oak memiliki batang berwarna cokelat muda hingga kehijauan dengan struktur kayu yang padat. Cabangnya tumbuh menyebar dan menopang daun yang rimbun. Daun oak umumnya berbentuk spiral dengan tepi berlekuk atau bergerigi halus, panjangnya sekitar 10 sentimeter dengan empat hingga lima lobus tergantung spesiesnya.

Warna daun berubah mengikuti musim, dari hijau pada musim panas menjadi kemerahan atau kecokelatan saat memasuki musim gugur.

Di negara dengan empat musim, bunga oak muncul pada musim semi dalam bentuk catkins berwarna kekuningan yang membantu proses penyerbukan melalui angin. Buahnya berupa biji yang dikenal sebagai acorn, berbentuk menyerupai kacang dengan panjang sekitar 2–2,5 sentimeter. Saat matang, warnanya berubah dari hijau menjadi cokelat.

Pohon Ek Asli Indonesia

Pohon oak banyak ditemukan di Amerika Utara, Eropa, Asia, dan Afrika Utara. Amerika Utara menjadi wilayah dengan keanekaragaman oak tertinggi. Meksiko tercatat memiliki sekitar 160 spesies, China sekitar 100 spesies, dan Amerika Serikat sekitar 90 spesies. Oak umumnya tumbuh di wilayah dengan musim dingin yang jelas, karena kayunya rentan mengalami perubahan bentuk jika terpapar panas berlebih.

Di Indonesia, kelompok ek juga hadir dari famili Fagaceae, khususnya genus Lithocarpus. Salah satu temuan terbaru adalah Lithocarpus tapanuliensis yang ditemukan di ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara, dan dipublikasikan dalam jurnal PhytoKeys pada Oktober 2023. Spesies ini memiliki biji berukuran besar dengan struktur cangkir unik dan aroma resin saat dikeringkan. Di Sumatera sendiri terdapat 32 spesies ek, lima di antaranya endemik.

baca juga

Manfaat Ekologis dan Ekonomi

Pohon oak berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Biji oak menjadi sumber makanan bagi berbagai mamalia seperti tupai, rusa, dan tikus, serta dimanfaatkan burung dan serangga. Pohon ini juga menyediakan habitat bagi berbagai satwa. 

Di Batang Toru, keberadaan ek tapanuli diduga berkaitan dengan kelangsungan hidup Orangutan tapanuli. Satwa ini diketahui membuat sarang di dekat pohon yang menjadi sumber pakan, dan sisa buah ek ditemukan di sekitar lokasi sarang. Dengan populasi sekitar 800 individu di habitat seluas 29.192 hektare yang terbagi dalam tiga blok, spesies ini tergolong sangat terancam.

Bagi manusia, kayu oak dimanfaatkan untuk mebel, bahan bangunan, dan produk interior karena ketahanannya terhadap serangga dan jamur berkat kandungan tanin. Selain itu, bijinya mengandung lemak, karbohidrat kompleks, vitamin, dan mineral. Dalam beberapa tradisi, biji oak diolah menjadi bahan minuman atau digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi diare, radang, dan pendarahan ringan.

Dengan nilai ekologis dan ekonominya yang tinggi, pohon oak menjadi salah satu jenis pohon penting yang memerlukan perhatian dalam upaya konservasi, terutama bagi spesies yang populasinya terbatas dan habitatnya terancam.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.