candi tegowangi jember jejak pendharmaan bhre matahun di masa majapahit - News | Good News From Indonesia 2026

Candi Tegowangi Jember, Jejak Pendarmaan Bhre Matahun di Masa Majapahit

Candi Tegowangi Jember, Jejak Pendarmaan Bhre Matahun di Masa Majapahit
images info

Candi Tegowangi Jember, Jejak Pendarmaan Bhre Matahun di Masa Majapahit


Candi Tegowangi terletak di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Situs ini berada di area terbuka yang cukup luas dan terjaga kebersihannya, sehingga memberikan suasana yang tenang bagi Kawan GNFI yang ingin mengeksplorasi jejak arkeologi tanpa gangguan hiruk pikuk kota.

Candi Tegowangi sering dikaitkan dengan narasi penyucian diri karena keberadaan relief Sudamala yang melingkari tubuh candi. Hal ini membuatnya menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Jawa Timur yang menawarkan nilai edukasi filosofis serta keindahan seni rupa kuno dari era transisi Majapahit.

Lingkungan sekitar candi juga memiliki keunikan tersendiri dengan adanya peternakan lebah milik warga setempat yang lokasinya berdekatan dengan gerbang masuk. Kehadiran elemen lokal ini menambah nilai lebih bagi pengalaman perjalanan Kawan GNFI, di mana aspek sejarah dan kehidupan agraris masyarakat Kediri menyatu dalam satu kawasan.

Secara keseluruhan, situs ini merupakan representasi penting dari gaya arsitektur candi Jawa Timuran yang menggunakan material batu andesit di atas pondasi bata.

 

Sekilas Mengenai Candi Tegowangi

Candi Tegowangi atau yang terkadang disebut sebagai Candi Sentul merupakan tempat pendharmaan bagi Bhre Matahun, seorang ipar dari Raja Hayam Wuruk.

Berdasarkan catatan dalam Kitab Negarakertagama dan Pararaton, Bhre Matahun mangkat pada tahun 1388 Masehi. Proses pembangunan candi ini diperkirakan rampung sekitar tahun 1400 Masehi, mengingat tradisi pendharmaan seorang raja biasanya dilakukan dua belas tahun setelah wafat melalui serangkaian upacara sraddha.

Proses konstruksi candi ini menggunakan teknik yang cukup unik pada masanya, yaitu dengan menumpuk batu andesit terlebih dahulu hingga mencapai ketinggian tertentu, kemudian para pengrajin mulai mengukir relief dari bagian atas menuju ke bawah.

Namun, ada indikasi bahwa pembangunan candi ini terhenti sebelum benar-benar selesai sempurna, terlihat dari beberapa panel relief dan pilar yang tampak masih polos atau belum tuntas pengerjaannya.

Situs ini pertama kali didokumentasikan oleh peneliti Belanda seperti N.W. Hoepermans dan kemudian melalui proses pemugaran oleh pemerintah pada rentang tahun 1983 hingga 1984.

 

Daya Tarik Utama Candi Tegowangi

Daya tarik utama yang membuat Candi Tegowangi sangat bernilai adalah keberadaan 14 panel relief cerita Sudamala yang menghiasi sekeliling tubuh candi.

Kalimat jembatan yang menghubungkan arsitektur dengan maknanya dapat dilihat dari bagaimana relief ini mengisahkan tentang pengruatan atau pensucian Dewi Durga yang semula dalam wujud jahat kembali menjadi Dewi Uma yang baik. Kawan GNFI dapat mengikuti alur cerita ini mulai dari sisi utara, berlanjut ke sisi barat, dan berakhir di sisi selatan candi.

Selain relief utama, terdapat arca gana atau raksasa duduk jongkok dengan tangan terangkat ke atas seolah sedang menyangga bangunan candi di tiap sisi kakinya.

Di bagian bilik candi, Kawan GNFI akan menemukan yoni dengan cerat berbentuk naga yang mengukuhkan latar belakang agama Hindu dari situs ini.

Di area halaman juga tersimpan beberapa peninggalan lain seperti arca Parwati Ardhenari dan Garuda berbadan manusia, meskipun kondisinya sudah tidak lagi lengkap sepenuhnya.

 

Akses Menuju Candi Tegowangi

Menuju lokasi candi ini tergolong mudah karena letaknya yang strategis di wilayah Kecamatan Plemahan.

Jika Kawan GNFI memulai perjalanan dari pusat Kota Kediri, arahkan kendaraan menuju utara melewati jalan raya provinsi ke arah Kecamatan Pare atau Plemahan dengan waktu tempuh sekitar 30 sampai 45 menit. Jalanan sudah beraspal baik dan dapat dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat hingga mencapai area parkir candi.

Rute alternatif bagi Kawan GNFI yang datang dari arah Jombang atau Surabaya bisa mengambil jalur menuju Pare, kemudian berbelok ke arah barat menuju Desa Tegowangi.

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Candi Tegowangi dapat dikunjungi setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB sesuai dengan jam kerja petugas pelestarian cagar budaya di lokasi

Mengenai harga tiket masuk, pengunjung biasanya tidak dikenakan tarif tetap yang mahal, melainkan cukup mengisi buku tamu dan memberikan sumbangan sukarela untuk pemeliharaan kebersihan situs.

 

Ayo Berkunjung ke Candi Tegowangi!

Kunjungan ke situs peninggalan Majapahit ini bisa menjadi pilihan menarik bagi Kawan GNFI yang ingin memahami lebih dalam tentang filosofi penyucian diri masyarakat Jawa kuno.

Menikmati detail ukiran batu andesit sambil berjalan santai di areal yang bersih memberikan pengalaman wisata yang berbeda dan menenangkan.

Jadi, kapan Kawan mau berkunjung ke Candi Tegowangi?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.