Kicak Kauman adalah makanan tradisional khas Ramadan dari Kampung Kauman di Yogyakarta. Kudapan ini dibuat dari ketan tumbuk yang dicampur kelapa parut dan gula, kemudian disajikan dengan potongan nangka di atasnya. Kicak biasanya dijual di Pasar Sore Ramadan Kauman sebagai salah satu takjil khas Yogyakarta.
Lokasinya berada di sebuah gang, di sisi barat Jalan KH Ahmad Dahlan, dekat Masjid Gedhe atau Masjid Agung Keraton Yogyakarta.
Pasar Sore Ramadan ini sejenis pasar tiban (dadakan), yang hanya ada selama bulan Ramadan dan dikenal sebagai salah satu pasar takjil tertua di Yogyakarta.
Keunikan kicak tidak hanya ada pada rasanya manis dan gurih yang memikat. Namun, juga rekam jejak tradisi yang menyertainya. Kudapan ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di daerah Kauman.
Sejarah Kicak Kauman
Kicak Kauman diperkirakan mulai dikenal sejak tahun 1950-an di Kampung Kauman, Yogyakarta. Kudapan berbahan ketan ini pertama kali dibuat oleh warga setempat dan dijual saat Pasar Sore Ramadan.
Di tengah geliat kehidupan khas Ramadan, warga Kauman tidak membuat dan menjual jajanan yang sudah dikenal. Namun, turut mengembangkan kuliner khas seperti kicak agar tidak 'punah'.
Kudapan ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1950-an sebagai makanan sederhana berbahan ketan, yang mana merupakan bahan pangan yang cukup umum di Jawa dan digunakan untuk bahan dasar hidangan tradisional.
Menurut penuturan Sujilah saat diwawancarai media National Geographic Indonesia (2012), dia telah membuat kicak sejak tahun 1950. Sujilah dikenal juga sebagai Mbak Wono, menyandang nama suaminya, Muhammad Wahono.
Berkenaan dengan penamaan “kicak” untuk penganan ini, Sujilah mengaku tidak mengetahuinya. Dia bercerita saat menjualnya, pembeli tiba-tiba menyebutnya kicak. Dia menduga kicak adalah sebutan lain dari jadah.
Jadah dikenal sebagai sejenis makanan tradisional Jawa yang terbuat dari ketan. Rasanya gurih dan bertekstur kenyal. Adapun makanan yang menggunakan nama Jadah yang cukup legendaris dari Yogyakarta adalah Jadah Tempe.
Pada masa itu, Sujilah masih membungkusnya dengan daun pisang agar tidak mudah berbau dan menambah aroma khas pada penganan ini.
Warga sekitar kemudian ikut membuatnya untuk dijual ketika Ramadan tiba. Dari situlah kudapan ini semakin dikenal sebagai penganan khas bulan puasa.
Mengapa Kicak Kauman Hanya Ada Saat Ramadan?
Sebenarnya tidak ada alasan khusus yang membuat kicak hanya ada saat Ramadan. Ketersediaannya lebih pada permintaan pasar, yang meningkat di momen itu. Hal ini terjadi selama bertahun-tahun, sehingga menjadi tradisi tertentu.
Di Mana Membeli Kicak Kauman?
Kicak Kauman dapat dibeli di Pasar Sore Ramadan Kampung Kauman, Yogyakarta. Pasar takjil ini berada di gang sebelah barat Jalan KH Ahmad Dahlan, dekat Masjid Gedhe Kauman, dan biasanya ramai menjelang waktu berbuka puasa.
Beberapa pedagang biasanya mulai membuka lapak di sekitar gang-gang Kauman. Pembeli yang datang dapat mencium aroma khas kicak yang sedang disiapkan.
Selain warga Yogyakarta, banyak wisatawan yang sengaja datang ke kawasan ini untuk berburu jajanan Ramadan. Suasana pasar takjil di Kauman memberikan pengalaman kuliner yang khas sekaligus memperlihatkan kehidupan sosial masyarakat setempat.
Cara Membuat Kicak Kauman (Resep Kicak Tradisional Yogyakarta)
Kicak Kauman termasuk kudapan yang sederhana. Cara membuatnya, cukup mudah. Meskipun demikian, prosesnya memerlukan ketelatenan. Resepnya bisa dicoba di rumah sebagai bagian dari sajian takjil berbuka puasa.
Bahan untuk membuat kicak
- Beras ketan
- Kelapa parut
- Santan kelapa
- Gula merah
- Nangka
Cara membuat kicak
- Cuci bersih beras ketan.
- Campurkan beras ketan tersebut dengan kelapa parut dan aduk hingga rata.
- Kukus campuran keduanya selama kurang lebih 30 menit.
- Masukkan adonan yang telah matang itu ke dalam rebusan air mendidih.
- Kukus kembali campuran ketan, kelapa, dan air tersebut selama 30 menit.
- Angkat dan tumbuk adonan tersebut hingga halus sebelum didinginkan.
- Buatlah kuah kicak dengan cara mendidihkan santan kental.
- Campur dengan gula merah, aduk hingga merata.
- Masukkan nangka lalu angkat dan dinginkan.
- Potong adonan kicak sesuai ukuran yang dikehendaki.
- Siram dengan kuah kicak yang telah matang.
- Tambahkan potongan nangka di atasnya.
Kicak Kauman sebagai Warisan Kuliner
Di tengah maraknya kuliner modern di Yogyakarta, kicak tetap bertahan sebagai jajanan tradisional khas Ramadan di Kampung Kauman.
Kicak Kauman bukan sekadar jajanan berbuka puasa. Kudapan tradisional ini juga menjadi bagian dari tradisi Ramadan di Kampung Kauman Yogyakarta yang telah bertahan sejak puluhan tahun lalu.
Bagi warga Yogyakarta, kicak bukan hanya sekadar makanan untuk berbuka puasa. Jajanan ini menjadi daya tarik wisata kuliner karena tradisi dan simbol kekhasan Ramadan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


