tjipto mangoenkoesoemo tokoh pergerakan kemerdekaan dibalik uang koin rp 200 - News | Good News From Indonesia 2026

Tjipto Mangoenkoesoemo: Tokoh Pergerakan Kemerdekaan di Balik Uang Koin Rp200

Tjipto Mangoenkoesoemo: Tokoh Pergerakan Kemerdekaan di Balik Uang Koin Rp200
images info

Tjipto Mangoenkoesoemo: Tokoh Pergerakan Kemerdekaan di Balik Uang Koin Rp200


Dr. Tjipto Mangunkusumo lahir pada 4 Maret 1886 di Desa Pecangakan, Jepara. Ia tumbuh dari keluarga priyayi rendahan yang menanamkan nilai pendidikan dan moral kuat sejak kecil. Ayahnya, Mangunkusumo, seorang guru bahasa Melayu, dan ibunya, Suratmi, keturunan tuan tanah Mayong. Sejak kecil, Tjipto sudah menunjukkan kecerdasan, semangat belajar, dan kepemimpinan yang kuat.

Dikutip dari artikel ilmiah karya Nur Khoiri Afati berjudul Gemini berkata dr. Tjipto Mangoenkoesoemo: Seorang Dokter yang Berpolitik Radikal Revolusioner Tahun 2021, pendidikan formalnya dimulai di Sekolah Kelas Dua Jawa, dilanjutkan ke ELS (Europesche Lagere School), lalu masuk ke STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) di Batavia. Ia lulus pada 1905 sebagai salah satu dokter bumiputera yang menonjol di masa kolonial. Dalam hidupnya, semboyan yang selalu dipegang ialah “Kewajiban pelajar ialah belajar, belajar, dan sekali lagi belajar.

Sebagai dokter, Tjipto memilih jalan pengabdian bagi masyarakat kecil. Ia menolak menjadi alat kekuasaan kolonial dan lebih banyak mengabdi kepada rakyat tanpa pamrih, bahkan sering memberikan layanan medis secara gratis. Sikapnya yang jujur, keras kepala, dan teguh pada prinsip membuatnya sering berselisih dengan pejabat Belanda.

Penugasan pertamanya di Batavia, Amuntai, dan Banjarmasin selalu berakhir dengan konflik karena ia menolak tunduk pada sistem feodal dan diskriminatif. Di Demak, ia mulai menulis artikel tajam di surat kabar De Locomotief yang mengkritik ketimpangan sosial dan feodalisme. Tulisan-tulisannya yang pedas membuatnya ditegur bahkan dipecat dari dinas pemerintahan. Namun, keputusan itu justru membuka jalan baginya untuk berjuang lebih bebas bagi bangsanya.

baca juga

Pemberontakan Melawan Feodalisme dan Kolonialisme

Tjipto menolak tunduk pada sistem sosial yang menindas. Ia berani melanggar aturan feodal seperti larangan rakyat biasa mengendarai kereta kuda di alun-alun. Bagi kaum ningrat, tindakannya dianggap kurang ajar, tetapi bagi rakyat, itu simbol keberanian melawan sistem yang mengekang.

Ia juga menolak diskriminasi rasial di bawah penjajahan Belanda. Gajinya sebagai dokter pribumi jauh lebih kecil dibanding dokter Eropa, meskipun pendidikannya setara. Melihat ketidakadilan itu, Tjipto semakin yakin bahwa penjajahan harus diakhiri bukan hanya lewat senjata, tetapi lewat perubahan pola pikir dan perlawanan intelektual.

Terjun ke Politik: Lahirnya Semangat Tiga Serangkai

Tjipto kemudian beralih dari dunia medis ke arena politik. Ia aktif di Boedi Oetomo, namun keluar karena organisasi itu dianggap terlalu pasif dan elitis. Tjipto ingin pergerakan yang lebih terbuka dan berani menentang penjajahan secara langsung. Bersama Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara, ia mendirikan Indische Partij pada tahun 1912.

Ketiga tokoh ini dikenal sebagai “Tiga Serangkai”, simbol perlawanan intelektual terhadap Belanda. Melalui partai tersebut, mereka memperjuangkan ide pemerintahan sendiri bagi bangsa Indonesia — gagasan yang sangat maju pada masanya.

Tjipto juga menjadi pemimpin surat kabar De Express, yang menjadi wadah perlawanan lewat tulisan. Salah satu artikel paling terkenal adalah karya Ki Hajar Dewantara berjudul “Als Ik Een Nederlander Was” (Andai Aku Seorang Belanda) yang menampar kesombongan kolonial. Akibat tulisan-tulisan itu, Tiga Serangkai diasingkan ke Belanda pada 1913.

Selama pengasingan di Belanda, Tjipto tetap aktif menyebarkan gagasan nasionalisme Indonesia. Ia memperkenalkan konsep kemerdekaan dan kesetaraan antarbangsa kepada masyarakat Eropa. Setelah empat tahun, pada 1917, ia kembali ke tanah air, meski kesehatannya menurun akibat penyakit asma.

Namun, semangat juangnya tidak surut. Ia menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) dan terus menentang kebijakan Belanda yang menindas rakyat. Aktivitas politiknya membuatnya kembali diawasi dan beberapa kali ditahan. Karena dianggap berbahaya, ia dibuang ke Banda Neira pada 1927 lalu ke Makassar dan Sukabumi.

Kehidupan Pribadi dan Sosok di Balik Perjuangan

Di tengah perjuangan panjangnya, Tjipto menikah dua kali. Istri keduanya, Marie Vogel, seorang perempuan Belanda, justru setia mendampingi dan turut berjuang bersamanya. Mereka dikenal sebagai pasangan yang rendah hati dan peduli pada rakyat kecil.

Tjipto dikenal sebagai pribadi keras kepala namun berhati lembut. Ia menolak hidup mewah dan lebih suka menghabiskan waktu membaca serta menulis. Dalam berbagai kesempatan, ia selalu menegaskan bahwa perjuangan sejati bukan untuk kekuasaan, melainkan demi kebebasan manusia dari penindasan.

Akhir Hayat dan Warisan Perjuangan

Pada masa tuanya, penyakit asma yang diderita semakin parah. Ia akhirnya meninggal dunia pada 8 Maret 1943 di Jakarta dan dimakamkan di Watu Ceper, Ambarawa, Semarang. Sebagai bentuk penghormatan, pemerintah Indonesia menobatkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 109/TK/1964.

Warisan perjuangannya tidak hanya berupa gagasan politik, tetapi juga sikap hidup. Tjipto meyakini bahwa "kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan dan keberanian berpikir berbeda.”

baca juga

Teladan dari Seorang Dokter Pejuang

Tjipto Mangunkusumo adalah contoh nyata bahwa ilmu dan perjuangan dapat berjalan berdampingan. Ia menolak diam di bawah penindasan dan menggunakan keahliannya untuk membebaskan bangsanya dari ketidakadilan. Keberaniannya menentang sistem kolonial membuatnya disebut dokter revolusioner, seorang intelektual yang menjadikan pena dan pikiran sebagai senjata.

Hingga kini, nama dr. Tjipto Mangunkusumo diabadikan sebagai nama rumah sakit terbesar di Indonesia dan uang koin Rp200 serta tetap menjadi simbol keberanian, kecerdasan cinta tanah air.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.