Barangkali bagi anak-anak millennial bahkan yang termasuk Generasi X keatas, melakukan permainan tradisional sangatlah mengasyikkan. Sebelum periode digitalisasi menerpa konstelasi sosial terkini, anak tempo dulu akan mengajak temannya untuk bermain dan bercengkerama di luar ruangan, bisa di lapangan rumput atau taman.
Biasanya mereka akan bertindak demikian sepulang sekolah, pada waktu sore hingga menjelang magrib. Banyak ragam permainan yang sekarang mungkin sudah tidak seeksis dulu, misalnya petak umpet, gobak sodor, adu kelereng, gasing, yoyo, dan sebagainya.
Sebenarnya, masih ada satu lagi bentuk permainan yang pastinya tidak asing untuk Kawan GNFI. Yap, itulah layang-layang.
Bagaimana Kemunculan Layang-layang pada Peradaban Manusia?
Suay & Teira (2014) dalam artikelnya berjudul “Kites: the rise and fall of a scientific object” menjelaskan etimologi layang-layang dalam bahasa Inggris Kuno yang berarti “burung pemangsa” dengan indikasi rujukan dari genus Milvus dalam taksonomi.
Sejak dekade 1660-an, paradigma akan layang-layang mulai bergeser menjadi suatu mainan yang melayang di atas bentang langit, hal yang lebih familier bagi kita. Setidaknya menurut Kamus Bahasa Inggris Oxford, layang-layang didefinisikan sebagai mainan yang terdiri dari bingkai ringan dengan material tipis yang direntangkan di atasnya, berkibar tertiup angin di ujung seutas tali panjang. Yang menarik, layang-layang sejatinya memiliki sejarah yang panjang, bahkan sempat diakui sebagai objek penelitian yang mengilhami pembuatan pesawat terbang.
Jadi jauh sebelum dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan, layang-layang punya pelbagai makna. Dalam peradaban Tiongkok Kuno, benda ini lekat fungsinya untuk tujuan religi dan penyembahan kepada makhluk astral. Di Jepang, itu digunakan sebagai permainan kompetitif antara kelompok sosial yang berbeda secara latar belakang.
Pada wilayah Oseania, layang-layang terkenal sebagai alat memancing ikan. Antara abad ke-15 dan ke-17, konteks layang-layang di Eropa sering dijumpai dalam buku-buku yang membahas tentang sihir, ilmu gaib, alkimia, hingga pada risalah yang berkaitan dengan mesin perang.
Memasuki tahun 1753, layang-layang dijadikan sebagai sarana Benjamin Franklin untuk bereksperimen tentang pembuktian sifat kelistrikan petir, yang mencapai pertimbangan agar dikenal sebagai ‘instrumen ilmiah’. Tak berselang lama, Johan Albert Euler mengembangkan model teoretis mengenai mekanika rasional layang-layang.
Pada akhir abad ke-19, beberapa insinyur aeronautika memutakhirkan desain layang-layang yang inovatif dalam penggunaan ihwal elevasi alat meteorologi menuju puncak lapisan atmosfer, sehingga dapat menjamin akurasi estimasi objek.
Terinspirasi dari ini, Wright Bersaudara melakukan rangkaian uji coba berupa pesawat layang sederhana dengan layang-layang sebagai skala model sayapnya. Kita bisa mengetahui bahwa layang-layang bukan hanya menjadi mainan anak kecil, tetapi juga sebagai percontohan aktualisasi pesawat terbang bahkan mungkin roket ulang-alik yang umum kini.
Yang Membanggakan, Indonesia Punya Kaghati Kolope!
Tak disangka, kaghati kolope merupakan sesepuh bagi layang-layang lain di dunia. Bagaimana tidak? Mengutip Tempo (16/1/2024), alkisah layang-layang ini bermula sekitar 4.000 tahun yang lalu, yang diceritakan hiduplah suami-istri bernama La Pasinda dan Wa Mbose serta anak mereka di Gua Sugi Patani, Desa Liang Kabori, Pulau Muna.
Kala itu, mereka dilanda kelaparan akibat persediaan bahan pangan menipis. Suatu malam, La Pasinda bermimpi diberitahu bahwa ada yang bisa tumbuh dari dalam tanah. Sebagai syaratnya, La Pasinda harus menyembelih satu anaknya. Dengan berat hati, ia pun menyembelih sang anak tanpa sepengetahuan istri dan membagi tubuhnya menjadi empat bagian. Lalu, tumbuhan yang dikenal dengan istilah kolope atau ubi hutan muncul seperti yang dikatakan dalam mimpi.
Setelah itu, daun kolope yang gugur dianyam oleh La Pasinda dan coba diterbangkan. Alhasil, daun tersebut dapat melayang-layang di udara, menyebabkan ia berinisiatif membuat kaghati kolope dari daun itu. Sebagaimana dari bahasa Muna, kaghati berarti jepitan, roo (tambahan) berarti daun, serta kolope berarti buah dari ubi hutan. Berangkat dari terminologi tersebut, layang-layang tradisional ini terbuat dari lembaran daun kolope yang mengering kemudian dipotong ujung-ujungnya.
Adapun sejarah kaghati kolope berdasarkan legenda La Pasinda diperoleh dari penelitian yang dilakukan Wolfgang Bieck pada tahun 1997 di wilayah Muna, Sulawesi Tenggara. Bieck disebut menemukan semacam tulisan tangan manusia yang menggambarkan layang-layang dalam Gua Sugi.
Representasi gambaran yang diberikan adalah seseorang yang sedang bermain layang-layang pada dinding batu. Penemuan tersebut akhirnya mematahkan klaim yang mengatakan bahwa layangan pertama berasal dari Tiongkok pada 2.400 tahun silam. Layang-layang yang ditemukan di Tiongkok tersebut terbuat dari kain parasut dan batang aluminium, berbeda dengan kaghati kolope yang murni terbuat dari bahan alam.
Lebih lanjut, latar belakang alternatif dari kaghati kolope adalah manifestasi Suku Muna yang menyembah api. Masyarakat setempat percaya bahwa sumber api adalah matahari. Oleh sebab itu, cara mereka demi menggapai Tuhan adalah dengan menerbangkan layang-layang ini selama 7 hari lamanya. Tepat pada hari ke-7, tali layang-layang diputus supaya bisa terbang tinggi menuju langit di mana lokasi Tuhan (matahari) berada. Layang-layang yang dilepas diyakini akan memberi perlindungan kepada masyarakat Suku Muna dari siksa api neraka setelah wafat.
Saat ini, kaghati kolope menjadi sarana hiburan adat masyarakat yang telah diterbangkan sejak sore hingga pagi hari selama 7 hari 7 malam. Apabila tidak lagi dapat diturunkan, maka akan dibuatkan upacara untuk memutus tali layang-layang. Layang-layang ini diketahui pula digantungkan sesajen berupa ketupat dan makanan sejenisnya.
Selain itu, kaghati kolope juga boleh berfungsi untuk menjaga sawah dari serangan burung dan babi hutan. Layang-layang tersebut seringkali diikutsertakan pada perlombaan tingkat nasional maupun internasional demi menjaga kelestariannya.
Wah, menarik juga ternyata asal-usul kaghati kolope! Kiranya generasi muda dapat terus menghidupkan semangat budaya melalui layang-layang ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


