Tahukah Kawan GNFI, tidak semua wilayah daerah di Jawa Barat menggunakan bahasa Sunda dalam sehari-hari. Beberapa daerah lainnya seperti Indramayu, Cirebon, Pangandaran, hingga wilayah perbatasan tertentu, lebih banyak ditemukan menggunakan bahasa Jawa.
Hal ini masih berkaitan erat dengan sejarah migrasi, pengaruh politik zaman dulu, dan letak geografis. Namun, bahasa Jawa yang digunakan di wilayah Jawa Barat berbeda dengan Jawa Tengah atau Jawa Timur.
Jika Kawan GNFI ingin mengetahui mengapa di Jawa Barat ada yang menggunakan bahasa Jawa, berikut ini informasi selengkapnya.
Pengaruh Sejarah Masa Kerajaan
Salah satu faktor mengapa banyak ditemukan pengguna bahasa Jawa di Jawa Barat adalah keberadaan kerajaan di masa lalu. Contohnya keberadaan Kesultanan Cirebon. Pada masa abad ke-15, wilayah Cirebon berkembang sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam di pesisir utara Pulau Jawa.
Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati selaku sultan pertama di Kesultanan Cirebon berperan besar dalam penyebaran Islam dengan menggunakan bahasa Jawa.
Sementara pada wilayah Indramayu yang dulunya adalah Pelabuhan Cimanuk, penyebaran bahasa Jawa. Mengutip dari Detik, Supali Kasim selaku Budayawan sekaligus Ketua Lembaga Basa lan Sastra Dermayu (LBSD) menyebutkan pada masa pada era kerajaan Mataram, bahasa Jawa Ngoko-Kromo mulai diterapkan di Indramayu. Sehingga, terjadilah struktural bahasa.
Faktor Migrasi dan Mobilitas Penduduk
Pengaruh bahasa Jawa di Jawa Barat juga disebabkan adanya migrasi penduduk. Misalnya di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Berdasarkan publikasi PENELUSURAN JEJAK MIGRASI SUKU JAWA MELALUI VARIASI DAN DISTRIBUSI BAHASA DI KABUPATEN PANGANDARAN oleh Dwi Wahyuni (2026), terdapat penemuan jejak migrasi suku Jawa di Pangandaran.
Suku Jawa yang bermigrasi ke Kabupaten Pangandaran merupakan pendatang dari Kebumen, Jawa Tengah, yang dikenal menggunakan dialek Banyumasan. Sehingga, bahasa Jawa yang masih ditemukan di Pangandaran adalah hasil dari proses transmigrasi dari masyarakat suku Jawa.
Pengaruh Geografis Wilayah Perbatasan
Mengutip dari Jurnal Locus (2025), letak geografis dan lokasi suatu daerah mempengaruhi terjadinya pertukaran bahasa, seperti penggunaan bahasa Sunda dan bahasa Jawa. Terutama di wilayah perbatasan yang banyak ditemui fenomena variasi bahasa.
Secara geografis, Jawa Barat berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. Sehingga, dapat terjadi percampuran budaya.
Misalnya saja, daerah Cirebon. Mengutip dari Jurnal Panggung, posisi geografis Cirebon berada di antara kebudayaan Sunda dan Jawa melahirkan kebudayaan sendiri yang khas, yaitu kebudayaan Cirebon. Kondisi ini menciptakan apa yang disebut sebagai wilayah transisi budaya.
Bahasa yang digunakan adalah hasil percampuran dan adaptasi, sehingga muncul dialek Jawa khas di Jawa Barat.
Perbedaan Bahasa Jawa “Wetan” dan Jawa “Kulon” di Jawa Barat
Bahasa Jawa yang digunakan di Jawa Barat sering disebut sebagai Jawa “Kulon” (barat), berbeda dengan Jawa “Wetan” (timur) yang umum digunakan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Secara umum, perbedaannya terletak pada logat, intonasi, dan kosakata. Logat Jawa Kulon diketahui cenderung memiliki intonasi lebih tegas dan cepat. Sementara Jawa Wetan lebih halus dan memiliki tingkatan bahasa (ngoko, krama, krama inggil) yang lebih ketat dalam praktik sehari-hari.
Beberapa perbedaan kosakata yang sering ditemukan antara Jawa Wetan dan Jawa Kulon antara lain penggunaan kata sehari-hari. Menurut Dienaputra, et. all (2021) dalam Jurnal Panggung, contohnya pada penggunaan Jawa Cirebon terlihat berbeda dengan bahasa Jawa.
Seperti kuwen di dalam padanan kata bahasa Jawa sebagai kata iki, kata kepriben atau keprimen yang sama dengan padanan kata bahasa Jawa baku dari kepriye atau piye, serta kata wadon sebagai padanan bahasa Jawa wedhok.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


