Eskalasi konflik yang belum mereda antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel menyita perhatian publik global, tak terkecuali Indonesia. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar yang juga menganut prinsip politik luar negeri bebas aktif, masyarakat Indonesia memandang konflik ini dalam kacamata yang berbeda-beda.
Berdasarkan survei yang dilakukan Goodstats, respons masyarakat dibagi menjadi tiga, yakni mendukung Iran, mendukung Amerika Serikat-Israel, atau memilih untuk netral. Hasilnya, mayoritas koresponden cenderung memberikan dukungan kepada Iran.
Sebanyak 51 persen responden memilih untuk mendukung Iran. Sementara itu, lima persen di antaranya mendukung Amerika dan Israel. Di sisi lain, 44 persen sisanya memutuskan untuk netral.
Mayoritas Publik Dukung Iran
Kecenderungan publik untuk mendukung Iran mencerminkan pengaruh solidaritas kemanusiaan. Pola opini publik memang acap kali dipengaruhi oleh isu kemanusiaan dan dinamika politik global.
“Kecenderungan opini publik lebih simpatik pada Iran (51%) sekaligus masih menyisakan ruang netralitas (44%) dalam konflik ini. Pola ini sejalan dari pertanyaan sebelumnya yang menunjukkan bahwa opini publik Indonesia terhadap konflik Timur Tengah sering dipengaruhi faktor solidaritas kemanusiaan dan politik kawasan,” tulis GoodStats.
Mayoritas koresponden pun setuju jika konflik ini akan berdampak pada kondisi Indonesia. Konflik bersenjata tersebut turut memicu kecemasan masyarakat, utamanya dengan penutupan Selat Hormuz yang berpotensi menekan ekonomi.
Umumnya, koresponden khawatir jika konflik ini terus berlanjut, akan ada dampak-dampak yang dirasakan, seperti kenaikan harga bahan bahar minyak (BBM), terguncangnya ekonomi, sampai naiknya harga kebutuhan pokok.
Indonesia Diminta untuk Aktif Dorong Perdamaian
Sebagai negara yang getol menyuarakan perdamaian di forum-forum internasional, Indonesia diminta untuk bersikap tegas dan aktif dalam mendorong perdamaian di Timur Tengah, khususnya dalam konteks konflik Iran vs Amerika Serikat-Israel.
Survei GoodStats mencatat, 40,71 persen responden menginginkan Indonesia aktif memperjuangkan perdamaian, agar pemerintah berperan dalam upaya diplomasi serta penyelesaian konflik secara damai.
Lebih lanjut, sebanyak 28,24 persen responden memilih agar Indonesia bersikap netral dan tidak memihak, sedangkan 23,96 persen lainnya meminta supaya Indonesia fokus dengan keperluan dalam negeri saja. Hal ini sejalan dengan adanya kekhawatiran yang tinggi akan eskalasi konflik yang berdampak besar pada kondisi domestik.
Mayoritas responden juga berharap agar pemerintah lebih memprioritaskan stabilitas dalam negeri. Ketegangan geopolitik dunia, termasuk di Timur Tengah sering memicu ketidakpastian global, seperti potensi lonjakan energi, fluktuasi nilai tukar, sampai gangguan perdagangan internasional. Oleh karena itu, publik berharap agar pemerintah bisa lebih fokus untuk memastikan kondisi ekonomi nasional tetap stabil.
Kawan GNFI, survey GoodStats yang bertajuk Persepsi Publik Indonesia terhadap Perang Amerika-Israel dan Iran ini melibatkan sekitar 540 responden, dengan mayoritasnya adalah Gen Z. Hasil survey di atas menunjukkan adanya kombinasi solidaritas geopolitik sekaligus sikap hati-hati publik dalam memihak konflik internasional.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


