masjid raya baiturrahman aceh masjid bersejarah yang kini jadi cagar budaya nasional - News | Good News From Indonesia 2026

Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Masjid Bersejarah yang Kini Jadi Cagar Budaya Nasional

Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Masjid Bersejarah yang Kini Jadi Cagar Budaya Nasional
images info

Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Masjid Bersejarah yang Kini Jadi Cagar Budaya Nasional


Siapa tak kenal dengan Masjid Raya Baiturrahman Aceh? Masjid legendaris ini merupakan simbol kekuatan sekaligus kebanggaan masyarakat Aceh.

Terletak di pusat Kota Banda Aceh, Masjid Raya Baiturrahman adalah saksi bisu dahsyatnya tsunami yang menerjang Aceh tahun 2004 silam. Saat sebagian wilayah Banda Aceh rata dengan tanah, masjid ini masih kokoh berdiri, seakan menunjukkan jika dia “kuat”.

Masjid Raya Baiturrahman Aceh sudah berdiri sejak lama, jauh sebelum Indonesia merdeka. Masjid ini juga pernah dihanguskan oleh Belanda di tahun 1800-an. Kini, masjid tersebut menjadi ikon khas Banda Aceh dan Provinsi Aceh.

Sejarah Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Melalui grandbaiturrahman.emasjid.id, disebutkan jika Masjid Raya Baiturrahman Aceh dibangun di pada era Sultan Iskandar Muda di tahun 1607-1636 M. Namun, ada pula literatur yang menyebut bahwa masjid ini sudah berdiri sejak 1292 M oleh Sultan Alauddin Johan Mahmudsyah.

Masjid besar ini pernah dibakar oleh Belanda di tahun 1873. Akibatnya, perlawanan sengit terjadi antara rakyat Aceh dengan Belanda.

Disadur dari Indonesia Kaya, rakyat Aceh berjuang mati-matian untuk mempertahankan masjid mereka. Saat itu, Belanda juga kehilangan panglima mereka akibat pertempuran sengit dengan masyarakat lokal.

Kemudian, tahun 1879-1881, Masjid Raya Baiturrahman dibangun ulang oleh Belanda. Konon, pembangunan ini adalah bagian dari upaya Belanda untuk meredakan resistensi rakuat Aceh pada pendudukan Belanda.

baca juga

Arsitektur bangunan versi anyar ini dibuat dengan mengadaptasi gaya Moghul India. Kala itu, masjid nan indah ini berdiri di pusat kota dan hanya memiliki satu kubah saja.

Uniknya, bahan-bahan untuk membangun masjid ini dibawa langsung dari berbagai negara. Ada batu-batuan yang dibawa dari Belanda dan Tiongkok. Lalu, masih ada besi jendela yang diimpor dari Belgia, dan sebagainya.

Seiring berjalannya waktu, masjid kembali dipugar. Tak hanya itu, jumlah kubah pun ditambah hingga berjumlah lima buah di tahun 1957.

Tahun 1991, masjid kembali dipugar dan jumlah kubahnya pun bertambah menjadi tujuh. Kubah dengan warna hitam pekat itu sampai sekarang masih jadi ciri khas Masjid Raya Baiturrahman.

Kawan GNFI, saat tsunami dahsyat menghantam Aceh, masjid ini masih kokoh berdiri. Ada kerusakan di beberapa titik bangunan, tetapi struktur bangunannya masih berdiri tegak.

Masjid Raya Baiturrahman Aceh kemudian direnovasi pasca-tsunami. Total dana yang digelontorkan untuk memperbaiki masjid legendaris kebanggaan rakyat Aceh ini hingga Rp20 miliar.

Dana itu diperoleh dari bantuan dunia, mengingat tsunami Aceh pernah berstatus sebagai bencana nasional. Kala itu, Saudi Charity Campaign mendanai perbaikan masjid tersebut. Renovasinya selesai di tahun 2008.

Masjid Raya Baiturrahman Aceh Sebagai Cagar Budaya Nasional

Masjid Raya Baiturrahman Aceh ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional. Hal ini membuktikan bahwa masjid ini bukan sekadar bangunan yang digunakan sebagai tempat ibadah, tapi juga bangunan dengan sejarah dan nilai budaya yang bernilai.

Menukil dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Provinsi Aceh, Masjid Raya Baiturrahman resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional pada akhir 2025. Kemudian, penyerahan sertifikat Cagar Budaya Nasional diberikan pada awal Maret 2026.

Penetapan ini menunjukkan bahwa masjid itu merupakan salah satu warisan penting identitas Aceh dan Indonesia secara keseluruhan. Kini, Masjid Raya Baiturrahman masih tetap hidup dan difungsikan sebagai pusat kegiatan keagamaan bagi masyarakat Banda Aceh.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.