perawat dari sumba terbang ke melbourne lalu pulang lagi pilih lawan malaria di tanah kelahirannya - News | Good News From Indonesia 2026

Perawat dari Sumba Terbang ke Melbourne, Lalu Pulang Lagi, Pilih Lawan Malaria di Tanah Kelahirannya

Perawat dari Sumba Terbang ke Melbourne, Lalu Pulang Lagi, Pilih Lawan Malaria di Tanah Kelahirannya
images info

Perawat dari Sumba Terbang ke Melbourne, Lalu Pulang Lagi, Pilih Lawan Malaria di Tanah Kelahirannya


Sudah lebih dari satu dekade, Hapu Ammah atau yang kerap disapa Endy bekerja di bawah naungan Yayasan Sumba. Ia menjadi salah satu tenaga kesehatan yang berada di garis depan penanganan malaria di pulau tersebut.

Sebagaimana yang Kawan tahu, Pulau Sumba sering dikenal karena lanskap alamnya yang indah dan budaya yang khas. Banyak wisatawan datang untuk menikmati pantai dan resort mewah. Tapi tahukah Kawan, bahwa di sana persoalan kesehatan masyarakat masih menjadi tantangan serius?

Benar, hingga kini, Sumba masih menjadi salah satu wilayah dengan kasus malaria tinggi di Indonesia.

Endy, tokoh yang akan diceritakan dalam tulisan ini melihat langsung. Hampir setiap hari ia menangani pasien dengan gejala malaria.

baca juga

“Di kelima klinik malaria yang dioperasikan oleh Yayasan Sumba, kami menemukan infeksi malaria hampir setiap hari,” jelasnya.

Pasien yang datang biasanya menjalani tes darah untuk memastikan apakah mereka terinfeksi parasit malaria. Proses ini membutuhkan keterampilan khusus, utamanya ketika mendeteksi parasit yang bercokol di dalam tubuh manusia

Ini adalah tugas ahli mikroskopis malaria, tenaga kesehatan yang terlatih membaca sampel darah di bawah mikroskop untuk menemukan parasit penyebab malaria. Metode ini masih menjadi standar diagnosis yang digunakan di banyak wilayah endemik.

Endy termasuk salah satu tenaga kesehatan yang berpengalaman di bidang ini.

Pengalaman itu kemudian membawanya menjadi pelatih di Pusat Pelatihan Mikroskopi Malaria. Program ini bertujuan memastikan tenaga kesehatan di daerah mampu mendiagnosis malaria secara akurat sesuai standar World Health Organization.

“Kita masih memiliki tanggung jawab untuk memastikan ketersediaan ahli mikroskopis terampil yang dapat mendiagnosis malaria secara akurat,” katanya.

baca juga

Tumbuh dari Keluarga Sederhana

Perjalanan Endy menuju profesinya sekarang tidak mudah. Ia lahir dari keluarga sederhana di Sumba Timur. Perekonomian keluarga bergantung pada kebun kecil milik ibunya, ternak unggas, dan penghasilan seadanya.

Ayahnya meninggal pada 1997 ketika ia masih kecil. Kondisi itu membuat pendidikan menjadi tantangan tersendiri.

“Saat itu saya tahu bahwa satu-satunya cara untuk mengubah hidup saya adalah melalui pendidikan,” kata Endy.

Sayangnya, tantangan kembali dihadapi Endy. Akses pendidikan di daerahnya masih sangat dulit.

Di desanya dulu bahkan tidak ada sekolah menengah pertama. Untuk melanjutkan pendidikan setelah lulus SD, ia harus meninggalkan rumah.

“Untuk bersekolah di SMP, kami harus meninggalkan rumah dan tinggal bersama keluarga lain,” ceritanya.

baca juga

Pilihan yang Mengubah Hidup

Setelah lulus SMA, Endy sempat bingung menentukan masa depan. Ia sebenarnya ingin menjadi guru. Tetapi pilihan pendidikan tinggi di Sumba saat itu sangat terbatas.

“Pada tahun 2000, satu-satunya sekolah yang tersedia di Sumba adalah akademi keperawatan,” kenangnya.

Akhirnya ia memilih melanjutkan studi di Akademi Keperawatan Waingapu. Keputusan itu menjadi titik balik dalam hidupnya.

Setelah lulus, ia bergabung dengan Yayasan Sumba dan mulai bekerja di program penanggulangan malaria. Di sana ia tidak hanya bekerja sebagai perawat, tapi juga terlibat langsung dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

baca juga

Belajar ke Luar Negeri dengan Beasiswa

Setelah lebih dari sepuluh tahun bekerja di klinik malaria, Endy mulai merasa perlu memahami masalah kesehatan secara lebih luas.

“Saya ingin memahami isu-isu kesehatan secara lebih luas, tidak hanya pada tingkat individu, tetapi juga pada tingkat komunitas, yang dibentuk oleh budaya dan lingkungan,” jelasnya.

Ia kemudian mendaftar program Beasiswa Wilayah Afirmatif LPDP, yang memberikan kesempatan bagi putra daerah dari wilayah tertinggal untuk melanjutkan studi.

Perjalanan menuju beasiswa itu tidak mudah. Sebab, Endy tidak memiliki latar belakang bahasa Inggris yang kuat. Ia bahkan gagal dalam tes IELTS dua kali. Meski demikian, Endy terus mencoba selagi ada kesempatan.

“Saya belajar dari kegagalan-kegagalan itu dan terus mendorong diri saya untuk menjadi lebih baik,” katanya.

Pada 2023, ia akhirnya terpilih sebagai penerima beasiswa.

Program afirmatif LPDP juga memberikan pelatihan bahasa intensif sebelum keberangkatan. Program ini membantu Endy meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya.

Setelah itu, ia diterima di University of Melbourne untuk menempuh studi Master of Public Health.

baca juga

Dari Melbourne Kembali ke Sumba

Selama kuliah di Australia, Endy juga berbagi pengalaman tentang kesehatan masyarakat di kampung halamannya.

Ia pernah diundang sebagai pembicara di Rotary Club of Melbourne. Dalam kesempatan itu, ia mempresentasikan program penanggulangan malaria serta temuan kasus kusta di Sumba.

Setelah menyelesaikan studinya pada Agustus 2025, ia langsung kembali.

Kini Endy kembali menjalani aktivitas seperti sebelumnya.

Ia bekerja sebagai pegawai negeri sipil, tenaga kesehatan di Yayasan Sumba, serta pelatih di bidang mikroskopi malaria.

Di luar pekerjaan, ia juga sering mengajak anak-anak desa untuk belajar membaca dan berlatih bahasa Indonesia.

“Saya tahu bahwa ketika seorang anak desa meraih pendidikan tinggi, dampaknya jauh melampaui individu tersebut,” katanya.

Bagi Endy, pengabdian terbesar bukanlah pergi jauh, melainkan kembali dan membantu tempat ia berasal.

“Pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi tentang membuka pintu yang dulunya tertutup bagi keluarga dan komunitas kita,” katanya.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.